Mohon tunggu...
Dicky Armando
Dicky Armando Mohon Tunggu... Orang Biasa

Sederhana.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Suatu Jumat di Sendu Hari

28 Juni 2019   14:04 Diperbarui: 28 Juni 2019   15:07 0 2 0 Mohon Tunggu...
Suatu Jumat di Sendu Hari
Sumber Gambar: Pixabay.com

Dari semua hari Jumat, kali ini terasa berbeda. Dari kantor, saya berjalan sendirian menuju masjid. Ada aura berbeda di jalanan, atau mungkin itu hanya perasaan saja, yang masih sulit menerima apa yang terjadi kepada bangsa ini.

Terlalu sombong. Bisa jadi begitu pendapat sejumlah orang bahwa saya yang hanya orang biasa ini ikut-ikutan memikirkan nasib negara. Tapi bukankah kita semua berkewajiban memikirkan kemaslahatan siapa pun di seluruh negeri ini?

Sampai di depan masjid, saya mulai mengamati dan menilai "energi" yang terjalin di antara sesama umat Muslim.

Tidak dipungkiri, "semangat" itu masih tetap ada, dan tentu saja sedikit meredup. Syok barangkali. Di tempat wudu---meski ramai orang---terasa sangat sunyi, hanya bunyi percikan air dan bunyi derak mikrofon yang menandakan azan akan berkumandang sebentar lagi. Jumat sebelumnya, di masjid yang sama, saya melihat wajah-wajah ceria nan optimis. Saya menafsirkannya sebagai belum putus harapan bagi mereka---termasuk saya---untuk bisa mendapati perubahan positif kondisi negeri.

Setelah wudu, saya segera duduk di saf paling belakang, biar enak bersandar di dinding, siang ini rasanya lelah sekali, entah karena apa. Orang-orang masuk satu per satu, masih dengan kebisuan.

Beberapa saat setelah azan berakhir, khatib memulai khotbah dengan kata alhamdulillah yang bergetar, seperti akan menangis, tapi sebenarnya tidak, atau mungkin memang seperti itulah suara aslinya.

Khotbahnya berjudul "Istikamah dalam Ketaatan". Tema yang bagus dan tepat sebagai penopang semangat umat Islam. Dalam perspektif saya, secara tersirat sang khatib berusaha menyampaikan bahwa apa pun yang terjadi, seorang Muslim harus tetap di jalan syariat dalam rangka menciptakan pribadi berkualitas.

Saya beri garis bawah dan huruf tebal pada kalimat "pribadi berkualitas". Jika umat Islam ingin berbakti kepada bangsa dan negara, maka itulah inti dari segalanya. Seorang pemimpin yang beragama Islam wajib memiliki sikap-sikap terpuji. 

Tentunya tidak boleh berbohong, tidak berbuat curang, tidak zalim kepada umat beragama lain apalagi umat Islam itu sendiri, harus cerdas (tidak boleh kelihatan bego atau tidak berwibawa), dan yang paling penting harus menjalankan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad salallahu 'alaihi wa sallam.

Tidak panjang khotbahnya, tapi padat dan sesuai dengan kondisi umat Islam dewasa ini. Setelah membaca doa penutup, giliran kumandang ikamah yang memanggil kami semua untuk berdiri melaksanakan salat Jumat dipimpin langsung oleh sang khatib.

Setelah imam membaca surah Al-Fatihah, gelegar suara "aaammiin" memenuhi masjid. "Energi" telah pulih, pesan-pesan dalam khotbah tadi sepertinya tersampaikan, mulus. Pertanda baik bagi orang-orang yang berusaha untuk baik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x