Mohon tunggu...
Dicky Armando
Dicky Armando Mohon Tunggu... Orang Biasa

Sederhana.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Aturan Canda Seorang Muslim

19 Juni 2019   22:04 Diperbarui: 20 Juni 2019   08:20 0 4 1 Mohon Tunggu...
Aturan Canda Seorang Muslim
sumber gambar: pixabay.com

"Bagaimana pula bercanda pakai aturan?"

Mungkin begitu pertanyaan sebagian orang ketika membaca judul esai ini. Wajar jika ada orang yang tidak menganut ajaran Islam mempertanyakannya. Barangkali mereka memang belum mendapatkan pelajaran tentang hal tersebut. Tapi kita---yang Muslim---punya "aturan main", tentu saja sesuai dengan syariat.

Esai ini sendiri terinspirasi dari cara bercanda orang-orang di sekitar saya---khususnya Muslim---yang bertentangan dengan ketentuan agama Islam. Kalau ada orang memiliki "keyakinan" berbeda, kemudian ia bercanda serta berkata tak pantas terhadap orang lain, saya tak ingin mengomentari, karena jelas perspektifnya dalam hal bercanda pasti memang berbeda. Oleh karena itu, daripada mengurusi "keyakinan" orang lain, lebih baik kita memperbaiki kualitas umat Islam itu sendiri.

Bagi rekan-rekan yang beragama Islam, izinkan saya berbagi pengetahuan tentang hal ini, tentunya dalam perspektif Islam. Saya bukan ustaz, bukan ulama. Hanya seorang awam yang ingin dirinya lebih baik bagi orang lain.

Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, "Sesungguhnya aku juga bercanda, namun aku tak mengatakan kecuali yang benar."

Junjungan kita pun bercanda, Sobat! Tak ada larangan untuk bercanda, namun dengan adab yang telah ditentukan.

Syekh as-Sayyid Nada menjelaskan hal pertama, niat bercanda untuk menghilangkan rasa bosan dan lesu, tidak untuk yang lain.

Kedua, tidak berlebih-lebihan dalam bercanda. Bercanda melampaui batas biasanya dilatarbelakangi oleh niat yang tidak benar. Terlalu banyak bercanda akan menjatuhkan kehormatan dan kewibawaan seseorang.

Ketiga, seorang Muslim menghindari bercanda dengan orang yang tidak suka bercanda, karena akan berakibat buruk.

Keempat, tidak bercanda mengenai hal-hal serius, misalnya dalam majelis ilmu.

Kelima, seorang Muslim tidak diperkenankan menakut-nakuti, mencela, menuduh, dan berdusta terhadap manusia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3