Mohon tunggu...
Armalia Clara Setiana
Armalia Clara Setiana Mohon Tunggu... Lainnya - Environmentalist

Mechanical Engineering student.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

"Negeri di Ujung Tanduk", Sebuah Akhir Atas Kepedulian

22 Februari 2018   19:19 Diperbarui: 22 Februari 2018   21:09 4326 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Novel pertama Tere Liye yang terbit pada tahun 2013 dengan judul ‘Negeri di Ujung Tanduk’. Buku ini adalah sekuel dari novel pertama yang berjudul Negeri Para Bedebah. Namun, kita tidak harus membaca buku pertama untuk mengetahui jalan cerita di buku ini. Novel ini diterbitkan oleh Gramedia dan terdiri dari 360 halaman. Salah satu novel popular karya Tere Liye kali ini mengisahkan tentang seorang konsultan keuangan yang sangat cerdas bernama Thomas. Namun, sekarang merambah ke ruang lingkup politik.

Tema buku ini tentang perjuangan Thomas untuk membantu kliennya yaitu seorang mantan gubernur yang akan mencalonkan diri sebagai presiden. Thomas dengan latarbelakang konsultan bisnis tetapi saat kuliah mengambil dua jurusan yaitu politik dan ekonomi serta menyelesaikannya dengan baik. Konflik mulai berdatangan dari lawan sang klien bahkan harus melawan mafia hukum dan kembali mengenang beberapa kisah masa lalu Thomas. Masalah-masalah yang dihadirkan seputar politik di negeri ini dikemas dengan sangat apik. Pembaca juga akan dibawa ke dalam suasana pertarungan ddemi kehormatan para petarung sejati.

Kisah pada novel ini dibuka dengan latar pada masa kini dimana Thomas sedang berada di sebuah klub bertarung internasional bertempat di Makau setelah menyelesaikan Konferensi Internasional sebagai konsultan. Selain sebagai konsultan di bidang politik, Thomas juga membuka cabang untuk menjadi konsultan politik bagi orang-orang yang menurutnya layak diperjuangkan untuk menjadi sorang pemimpin. Di novel ini sang penulis menggunakan alur campuran yang terlihat dari alur maju dan beberapa bagian yang memperlihatkan masa lalu sang tokoh.

“Aku kira kau tidak akan hadir, Thomas.”Johan, salah satupimpinan muda internal partai, politikus dengan reputasi baik, juga orang kepercayaan klien politikku, bagian dari tim kampanye kami, menyambutku di lobi hotel. Wajah tegang.

“Aku pasti hadir, Johan. Apa pun yang terjadi”(hlm. 227)

“Bersembunyi? Menghindar mencari aman? Itu bukan tabiatku. Aku petarung. Aku akan menghadapi semua masalah dengan gagah berani, siapa pun mereka.” (hlm.109)

Thomas berperan sebagai tokoh utama dalam novel ini digambarkan sebagai pribadi yang cerdas, gigih, pantang menyerah, berani, tanggap, dan tangguh. Seorang yang cerdas digambarkan bahwa Thomas adalah konsultan ekonomi yang terkenal dan terpercaya. Ketika kuliah di salah satu universitas ternama di luar Indonesia dan ia mengambil dua jurusan juga mampu menyelesaikannya tepat waktu. Tokoh ini juga berani, hal ini dapat dijumpai dibanyak bab bahwa ia tak mengenal kata lari atau bersembunyi. Sebagai seseorang yang memiliki masa lalu yang menyedihkan sang tokoh tetap tangguh meski banyak pertanyaan yang terlintas dalam pikirannnya. Thomas juga pribadi yang selalu menepati janjinya dan sebagai petarung sejati yang selalu menjaga kehormatannya.

Maryam, seorang wartawan yang ditugaskan untuk mewawancarai Thomas sebagai narasumbernya. Ia digambarkan sebagai pribadi yang kritis, berani, namun cepat panik,  dan disiplin. Sebagai seseorang yang belum mengerti apa yang terjadi Maryam cukup merasa bingung dan panic. Namun, ia akhirnya mengerti dan mulai membantu Thomas dalam menyelesaikan masalah yang timbul. Beberapa kutipan yang menggambarkan karakter tokoh ini.

“Aku akan mengirimkan artikelnya sebelum naik cetak, akan kusiapkan dalam perjalanan kembali ke Jakarta. Semoga Anda bisa segera memberikan persetujuan atas artikel tersebut.” (hlm. 59)

“Hei! Kalian dengar? Buka pintunya!” Maryam masih berteriak, memukuli intu ruangan, meneriaki petugasyang berjaga diluar. (hlm.77)

Maryam juga membantu Thomas dengan menghubungi orang-orang untuk mendapat akses menemui sekutu-sekutunya.

Thomas memiliki karyawan rangkap sekertarisnnya bernama Maggie. Tokoh dengan karakter patuh, peduli, cerdas, dan cermat. Maggie selalu mendapatkan tugas yang harus diselesaikan dalam waktu cepat dan kemampuannya tak diragukan lagi. Seseorang yang cekatan, tanpa penjelasan yang detail dari atasannya ia mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Hal ini digambarkan kutipan berikut.

“…. Aku membutuhkanmu segera ada di kantor, Meg. Kau harus membantuku melakukan banyak hal. Dalam kondisi ini, hanya kau orang yang paling kupercaya, dan jelas, hanya kau orang yang paling efektif mengerjakan permintaanku.” (hlm. 118)

“Iya,” Maggie menjawab pendek. Stafku yang paling gesit itu pasti telah meraih kertas dan pulpen beberapa detik yang lalu, mencatat cepat semua kaalimatku dengan huruf steno. (hlm. 119)

Kris adalah seorang IT yang handal dan cerdas. Meskipun dia orang yang secara penampilan sangat tidak terkesan baik. Dia adalah orang yang bisa Thomas andalkan apaila urusan mengolah data dan mencari informasi secara detail. Seseorang yang memiliki hipotesa tak terbantahkan dalam masalah ‘pola’ yang sedang membuat Thomas memutar balik pemikirannya. Hal ini dapat dibuktikaan dengan kutipan berikut ini.

“…. Kris sudah memberikan progress awal. Dia sudah memberikan daftar awal yang kau suruhkerjakan, lengkap dengan informasi lainnya…” (hlm.242)

Beberapa tokoh lainnya, Opa adalah pribadi yang sederhana, berpengalaman dan tenang. Rudi teman Thomas yang merupakan komandan kompleks pelatihan yang berperan penting dalam membantu Thomas saat menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Bahkan, diam-diam memata-matai Thomas yang pada akhirnya dapat berguna untuk mengakhiri permasalahan yang ada. Lee, seorang petarung sejati lawan Thomas ketika di Makau yang tak lain adalah cucu dari teman Opa Thomas. Dan para mafia hukum yang dikendalikan oleh Tuan Shinpei.

Dalam novel ini banyak mengambil latar di kapal, kota Jakarta, Makau dan Hong Kong serta sebuah sekolah tempat Thomas menghabiskan masa remaja. Meskipun demikian, dengan ciri khas tokoh Thomas yang selalu buru-buru dan cukup memperhitungkan soal waktu maka penulis menyajikan percakapan berlatar di mobil, kantor dan konferensi. Pada novel Negeri di Ujung Tanduk ini terdapat beberapa tempat yang berpengaruh dan menjadi saksi atas terbentuknya karakter dalam diri Thomas.

“Sebuah bangunan tua kokoh besar berdiri ditepi pantai menyambutku…… Itulah sekolah berasrama tempat aku menghabiskan masa anak-anak dan remaja, sebelum melanjutkan sekolah di universitas luar negeri.” (hlm.153)

Satu tempat yang sangat berperan bagi pembentukan karakter seorang Thomas. ‘Kaki Langit’ mereka menyebut sebuah sekolah berasrama yang sudah sangat tua itu. Tempat yang membasuh seluruh kenangan buruk tentang papa dan mamanya, tempat yang telah membuat dirinya setangguh baja. Tempat di mana dia harus bertahan hidup dan menemukan jati dirinya. Namun juga ada tempat yang akan selalu mengingatkannya akan papa dan mamanya.

“Kalau orang tua ini tidak keliru, bukankah itu stasiun kereta tempatmu turun dulu, Tommi?” Opa berkata pelan. (hlm.148)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan