Mohon tunggu...
Aris Heru Utomo
Aris Heru Utomo Mohon Tunggu... Diplomat - Pemerhati Hubungan Internasional, penyuka buku, kuliner, travel dan film serta olahbraga

Pemerhati hubungan internasional dan penyuka sepakbola. Menulis lewat blog sejak 2006 dan akan terus menulis untuk mencoba mengikat makna, melawan lupa, dan berbagi inspirasi lewat tulisan. Pendiri dan Ketua Komunitas Blogger Bekasi serta deklarator dan pendiri Komunitas Blogger ASEAN. Blog personal: http://arisheruutomo.com. Twitter: @arisheruutomo

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

"Don't Cry for Me England"

12 Juli 2021   07:39 Diperbarui: 12 Juli 2021   07:40 287 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Don't Cry for Me England"
foto dari IG BR Football

Setelah Argentina menjuarai Copa Amerika, banyak penggemar sepakbola yang berharap Inggris yang akan menjadi juara Eropa dalam gelaran Euro 2020. Banyak yang berharap Inggris bisa mengakahkan Itaklia di partai final. Slogan Football Coming Home pun digemakan.

Harapan tersebut tampaknya akan terwujud ketika pemain Inggris dari klub Manchester United (disingkat MU bukan MC), Luke Shaw, mencetak gol cepat pada menit kedua. Keungulan itu berhasil dipertahankan timnas Inggris hingga akhir babak pertama. Berlanjut ke babak kedua.

Sampai disini keadaan mirip dengan pertandingan final Copa America antara Argentina dan Brasil dimana Argentina unggil 1-0 di babak pertama.

Sayangnya setelah gol cepat tersebut, permainan Inggris tidak berkembang dan cenderung cari aman. Gol cepat tampaknya membuat puas.  Sementara Italia yang dikenal tangguh dan pantang menyerah terus berupaya menekan pertahanan Inggris dengan sabar.

Beda dengan Argentina yang memiliki kapten Lionel Messi yang ditakuti di semua lini, sehingga bisa mempertahankan keunggulan hingga pertandingan berakhir, di Inggris hanya ada Harry Kane yang lumayan piawai di lini depan. 

Sementara di belakang hanya ada kapten MU Harry Maguire dan Luke Shaw yang kerap ke depan. Untung kiper Jordan Pickford lumayan bermain bagus dan bisa menepis dua tendangan penalti.

Drama pun mulai terjadi ketika timnas Italia terus mengempur pertahanan timnas Inggris dan sukses mencetak gol penyeimbang pada menit ke-67 melalui sepakan kaki kiri Leonardo Bonucci. Dari sini saya sudah menduga bahwa pertandingan akan memasuki babak tambahan dan berakhir dengan adu penalti. Jika adu penalti maka Inggris tidak akan menang.

Bukan apa-apa, secara mental mental pemain Italia sudah lebih siap karena mereka menang adu penalti saat semi final melawan Spanyol. Pemain Inggris tampak demam panggung saat menendang penalty. Hal ini terlihat dari sepakan Marcus Rashford dan Jadon Sancho (keduanya pemain MU dan calon pemain MU) serta Saka. Biasanya mengambil penalti, tetapi justru melenceng sepekannya dan mudah ditebak kipper Italia Gianluigi Donnarumma.

Italia pun akhirnya menang tos-tosan 3-2 ketika sepakan pemain terakhir pemainnya tidak dapat ditepis Pickford.

Akhirnya slogan Football Coming Home pun tidak menjadi kenyataan. Kenyataannya justru Football Come to Rome. Cita-cita Inggris merayakan kembali kejayaan tahun 1966 di Wembley pun batal dan mesti terus puasa gelar entah sampai kapan.

Selain faktor kesiapan mental di final, terutama bila terjadi adu penalti, tampaknya ada faktor lain yang luput dari perhatian yaitu keberuntungan sebagai tuan rumah. Meski status sebagai tuan rumah (home) kerap menguntungkan karena adanya dukungan penonton sebagai pemain ke-12, tetapi tuan rumah juga kerap tidak beruntung. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN