Mohon tunggu...
Arina salsabella
Arina salsabella Mohon Tunggu... Cerita Pendek

Umum

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Teori Vygotsky

9 Mei 2021   20:42 Diperbarui: 9 Mei 2021   20:58 24 1 0 Mohon Tunggu...

Lev Semenovich Vygotsky atau yang sering dipanggil dengan Vygotsky ini adalah seorang cendekiawan yang berasal dari Rusia. Vygotsky adalah seorang yang ahli dalam ilmu bidang psikologi, filsafat, dan juga sastra. Vygotsky sangat terkenal dengan filosofinya mengenai manusia dan lingkungan, menurut Vygotsky manusia itu tidak sama seperti hewan yang hanya beraksi terhadap lingkungan saja, namun manusia juga memiliki kemampuan atau kapasitas untuk  mengubah lingkungan sesuai dengan keperluan mereka (Schunk, 2012 : 338). Pemikiran ini kemudian menjadi pelopor bagi lahirnya teori konstruktivisme sosial yang dimana artinya adalah membangun perkembangan kognitif anak melalui sosial. Vygotsky dangat tertarik dengan pemikiran ini, maka dari itu pemikiran ini sering disebut dengan perspektif sosiokultural. Asumsi dasar dari teori konstruktivisme sosial ini adalah "What the child can do alone tomorrow". (Warsono, 2012:59). Apa yang dilakukan anak pada masa sekarang baik itu secara mandiri atau kelompok, maka pada masa selanjutnya anak bisa melakukannya secara mandiri. Vygotsky juga mengatakan bahwa tingkat perkembangan anak memiliki dua tingkatan yaitu tingkatan perkembangan aktual yang dimana terjadi ketika seorang inidividu

Menurut Vygotsky perkembangan kognitif terhadap anak tidak hanya melalui objek, tetapi dibantu juga oleh interaksi sosial anak kepada orang dewasa, teman sebayanya, atau lingkungan sekitarnya. Anak bisa memperoleh pengetahuan, belajar dan bekerjasama dengan orang lain dapat membantu anak untuk meningkatkan perkembangan kognitif sosialnya. Vygotsky juga mengatakan bahwa interaksi sosial menjadi kunci kesuksesan dalam belajar.

Ada beberapa tipe bermain pada anak yaitu bermain sendiri, bermain pura-pura, dan bermain simbolik. Menurut Vygotsky ketika seorang anak mengajak bermain maka anak tersebut sudah mempunyai cara berpikir dari tindakan dan objek, serta memliki perilaku mengajar diri. Karena landasan dari bermain adalah landasan sosial. Nah dengan adanya tiga tipe bermain tersebut maka guru atau pendidik memiliki peran yang sangat penting untuk membimbing perkembangan anak. Dalam bermain peran anak menggunakan manipulasi objektif karena itu sangat penting bagi perkembangannya. Vygotsky juga menyarankan agar guru bisa berkolaborasi dengan baik terhadap anak-anak untuk membangun pengetahuan dengan cara diskusi, tanya jawab, atau bisa juga berdebat dengan teman sebayanya.

Pada awal perkembangannya anak-anak membangun perkembangan kognitifnya melalui proses mental yang rendah seperti contohnya persepsi sederhana anak terhadap suatu objek, belajar asosiatif (pengelompokkan), dan perhatian atau bimbingan yang diberikan oleh orang tua sejak anak masih balita. Seiring dengan berjalannya usia anak maka proses perkembangan kognitif ini berlanjut dengan proses mental yang lebih tinggi seperti kemampuan berbahasa anak, kemampuan berhitung, kemampuan berpikir, kemampuan mengingat, kemampuan memecahkan masalah, perhatian spontan intuisi, dan kemampuan skema memori yang dapat diperoleh dan ditingkatkan dengan melakukan interaksi sosial seperti bermain dengan lingkungan sekitar, atau berdialog dengan seseorang. Anak-anak tentunya membutuhkan peran dari orang tua, guru atau pendidik, dan juga keluarga atau lingkungan sekitarnya untuk mencapai tahapan perkembangan kognitif yang lebih tinggi.

Schunk, (2012 : 339) menegaskan bahwa "aspek-aspek cultural-historis dari ini teori Vygotsky ini menonjolkan pemikiran yang menyatakan bahwa pembelajaran dan perkembangan anak tidak dapat dipisahkan dari konteksnya. Cara anak berinteraksi dengan dunia mereka, orang-orang sekitar mereka, objek-objek di sekitar mereka, dan intuisi-intuisi di dalamnya dapat mengubah pemikiran mereka".

Teori Vygotsky ini bisa di aplikasikan juga oleh guru atau pendidik di dalam kelas. Guru atau pendidik bisa menerapkan model pembelajaran yang memungkinkan bagi siswa untuk berkolaborasi atau berkelompok dengan teman sebayanya dalam kolaborasi atau kelompok-kelompok kecil. Salah satu pembelajaran yang memungkinkan siswa di dalam kelas adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif ini memungkinkan siswa untuk berinterkasi dengan teman sebaya atau kelompoknya yang lebih berkompeten melalui arahan dan juga bimbingan dari guru atau pendidik. Pembelajaran kooperatif ini juga dapat memfailitasi siswa untuk membangun kualitas berpikir dan membangun kultur sosialnya dalam pembelajaran secara berkolaborasi atau berkelompok.

Pembelajaran kooperatif ini akan terlihat layaknya pembelajaran yang kooperatif jika sudah memenuhi unsur saling ketergantungan positif, tanggung jawab antar individu, interaksi secara langsung atau tatap muka, penerapan keterampilan secara kolaboratif, dan juga proses pada setiap kelompoknya. Berdasarkan dengan unsur-unsur tersebut maka bisa ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran yang dilakukan secara kooperatif memiliki karakter yang mempunyai ciri khas. Karakter pembelajaran kooperatif dapat dilihat dari setiap individu-individu yang bekerja di dalam kelompoknya, mereka bekerja sama dalam kelompoknya untuk mencapai satu tujuan yang telah disepakati bersama. Saling ketergantungan sosial bisa diciptakan dengan adanya ketertarikan tugas yang dimana tugas tersebut melibatkan semua anggota kelompok. Setiap anggota kelompok harus memiliki tanggung jawab tugas yang menyangkut dengan kepentingan kelompok. Jika salah seorang individu tidak mengerjakan tugasnya maka akan ada konsekuensi yang akan diterima oleh seseorang tersebut.

VIDEO PILIHAN