Mohon tunggu...
Arif L Hakim
Arif L Hakim Mohon Tunggu...

Pengirim umpan | Senang mengamati manusia, termasuk anda

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Penting Ga Sih Label World Heritage Bagi Indonesia?

2 Mei 2014   19:43 Diperbarui: 23 Juni 2015   22:56 0 0 1 Mohon Tunggu...
Penting Ga Sih Label World Heritage Bagi Indonesia?
13990032991921349226

[caption id="attachment_305450" align="aligncenter" width="640" caption="Candi Borobudur, salah satu world cultural heritage di Indonesia (dok. pribadi)"] [/caption]

Senin (28/04/2014) yang lalu saya membaca sebuah berita bahwa UNESCO akan mencabut dua situs warisan dunia (world heritage) yang ada di Indonesia. Seperti dilansir di link berikut, TN Gunung Leuseur dan TN Hutan Lorentz di Papua terancam tidak lagi masuk ke world heritage list. Menurut peneliti, kejadian tersebut adalah dampak dari ketidakpedulian pemerintah dalam menjaga pengakuan dunia yang ada di Indonesia.

[caption id="" align="aligncenter" width="600" caption="aman Nasional Lorentz, Papua seperti dimuat dalam http://krjogja.com/read/213893/pemerintah-tak-peduli-unesco-cabut-2-situs-warisan-dunia-di-indonesia.kr"]

http://krjogja.com/read/213893/pemerintah-tak-peduli-unesco-cabut-2-situs-warisan-dunia-di-indonesia.kr
http://krjogja.com/read/213893/pemerintah-tak-peduli-unesco-cabut-2-situs-warisan-dunia-di-indonesia.kr
[/caption]

Apa yang kita rasakan setelah membaca atau mendengar informasi di atas? Miris? Kecewa? Geram? Biasa saja? Atauemang gue pikirin?

*

Adakah yang tahu, berapa jumlah world heritage yang ada di Indonesia?

Menurut UNESCO, setidaknya ada delapan property yang sudah masuk daftar warisan dunia di Indonesia. Empat di antaranya adalah berupa warisan budaya (cultural heritage); Candi Borobudur, sistem Subak di Bali, Candi Prambanan, dan situs manusia purba Sangiran. Empat lainnya berupa natural world heritage; Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Lorentz, Hutan Hujan Tropis Sumatera, dan Taman Nasional Ujung Kulon.

[caption id="" align="aligncenter" width="528" caption="http://whc.unesco.org/en/statesparties/ID/ diakses 1 Mei 2014"][/caption]

Jika dua situsnatural world heritageterancam akan dicabut statusworld heritage-nya, lalu apa kabarnya dengancultural heritagedi Indonesia?

Cultural heritagesangat identik menjadi bukti eksistensi suatu peradaban. Biasanya bangunan fisikheritage merekam kisah-kisah masyarakat di masa lalu, kekhasan suatu daerah yang memiliki keunikan dibandingkan daerah lainnya di dunia, kejayaan sebuah umat, atau kemegahan sebuah tatanan.

Adanya cultural heritagedi suatu daerah pastinya bukan hanya meninggalkan wujud fisiknya saja, banyak hal yang bisa dikaji dan dipelajari tentang sebuahheritage,termasuk hal-hal yang bersifat intangible.Pesan para leluhur yang terekam melalui warisan yang ditinggalkan sangat menarik untuk ditelusuri. Dan tak sedikit nilai-nilai universal dan pengalaman yang terkandung dalamheritagemasih relevan untuk dijadikan sebagai salah satu pedoman dalam bertindak, dasar dalam menentukan kebijakan, dan landasan etika bergaul di era sekarang ini.

Namun, di balik kebanggaan di mata dunia atas kepemilikan sebuah heritage, tantangan terbesar di belakangnya adalah bagaimana membuatnya langgeng dengan berbagai usaha pelestarian di tengah pergerakan jaman. Peristiwa perubahan alam seperti gempa bumi, gunung meletus, perubahan cuaca yang ekstrem,  dan faktor alam lainnya yang tidak bisa diprediksi membuat pengelolaan heritagesemakin menantang. Di sisi lain, faktor-faktor yang dimotori oleh perilaku manusia juga tak kalah rumit; kebijakan yang berubah-ubah, kepedulian yang semakin terkikis, atau pemahaman yang minim tentang makna sebuah heritage, seolah membuat usaha pelestarian semakin tertekan.

Menurut saya, entah sudah diberi label dari UNESCO atau belum, usaha untuk merawat dan melestarikan sebuah warisan sudah semestinya dijalankan. Heritage alias warisan, adalah sesuatu yang diwariskan oleh leluhur untuk kita, berarti sudah semestinya kita yang menjaga, melindungi, dan melestarikan. Bagi saya ada yang lebih penting selain sematan label world heritage, yaitu pemahaman tentang heritage itu sendiri. Akan sangat ironis jika kita yang menjadi pewaris malah tidak tahu apa yang sebenarnya diwariskan kepada kita.

Persepsi setiap individu mengenai warisan leluhur mungkin bermacam-macam, tergantung dari latar belakang historis, ekonomi, sosial, politik, maupun aspek lainnya. Tetapi, bagaimana rasanya simbah/orang tua/leluhur kita saat melihat apa yang diwariskan justru membuat kita acuh dan seolah ribut lalu rebutan tidak karuan gara-gara sebuah warisan?

Pertanyaan penting yang kemudian muncul dalam benak saya adalah apakah nilai-nilai yang terkandung pada setiapheritagetersebut sudah benar-benar dipahami dan diterapkan oleh bangsa ini?

Jangan-jangan kita lupa, bahwa makna yang terkandung di setiap heritage juga diwariskan satu paket dengan wujud fisiknya. Jangan-jangan kita cumagegermengajukan ini atau itu untuk dijadikan world heritage demi sebuah pengakuan, tapi tidak mampu bahkan tidak mau merawatnya. Atau yang lebih parah, jangan-jangan kita tidak mau tahu bahwa warisan leluhur yang kita miliki ternyata pelan-pelan luntur, bahkan hancur, oleh ulah kita sendiri?

Mungkin sudah waktunya usaha untuk melestarikan warisan leluhur ini digaungkan di setiap acara, di berbagai bidang dan kesempatan, dengan berbagai cara.  Tentunya usaha-usaha tersebut tak akan maksimal jika hanya mengandalkan pemerintah saja. Saya, anda, kita semua, sudah selayaknya kembali membuka dan mempelajari buku-buku lama tentang karya-karya kejayaan nenek moyang kita, sering-sering browsing tentang nilai-nilai yang diajarkan leluhur yang layak kita terapkan kembali, serta mencari informasi dari berbagai versi tentang apa yang terjadi dengan usaha pelestarian warisan-warisan untuk kita.

Berikutnya, bergeraklah melalui cara dan kemampuan yang bisa kita lakukan, entah dengan aktivitas individual, kegiatan bersama sebuah gerakan, atau apapun variasinya, namun dengan tujuan yang sama, untuk menjaga dan melestarikan barang-barang dan nilai-nilai yang diwariskan leluhur kita.

Melestarikan budaya tak cukup sebagai pengisi nilai raport belaka. Menghargai karya leluhur tak hanya sebagai pemanis retorika. Yang perlu kita lakukan adalah aksi nyatanya. Biarlah saat ini bangsa lain asik dengan rutinitas kebijakannya, Indonesia juga punya aktivitas yang lebih berarti untuk mengembalikan kejayaan negerinya.