Mohon tunggu...
Arief
Arief Mohon Tunggu... Freelancer

Pernah nulis dibeberapa media seperti SINDO, Jurnas, Surabaya Post, Suara Indonesia (dulu dimasa reformasi), Majalah Explo dll. ( @arief_nggih )

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Dulu Membanggakan, BUMN Ini Sekarang Terpuruk

22 Januari 2018   09:01 Diperbarui: 22 Januari 2018   09:37 3084 5 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dulu Membanggakan, BUMN Ini Sekarang Terpuruk
Dok.pribadi

Dulu Membanggakan, BUMN Ini Sekarang Terpuruk (1)

Perusahaan up and down adalah hal yang biasa. Bagi perusahaan swasta maka hal ini biasa saja. Lihat saja grup Bakrie yang dulu di tahun 2008 sempat menjadi orang terkaya di Indonesia saat harga batubara melejit tinggi, namun sekarang tidak masuk 50 besar saja. Tidak heboh biasa saja karena uang sendiri, mau untung atau rugi yang terdampak diri sendiri. Tentu saja ada yang terdampak yaitu karyawan perusahaan, ini wajar. Mereka juga punya opsi untuk pindah kerja, mencari penghasilan yang lebih baik.

Jika kinerja menurun terjadi di BUMN, maka menjadi "hal yang luar biasa". Saat sakit dan berdarah-darah pun BUMN susah dihapus/likuidasi. Lihat saja Merpati Nusantara Airlines, BUMN penerbangan ini sudah belasan tahun merugi terus. Disuntik modal, terus saja rugi, namun apakah BUMN Merpati dilikuidasi, jawabannya tidak? Karena melikuidasi BUMN itu susah.....susah...susah.... Ada pencatatan laporan kerugian yang membuat siapapun Menteri BUMN bahkan Presiden tidak mau cari gara-gara. Jika Merpati dilikuidasi, bagaimana nasib karyawan? Bagaimana nasib Penyertaan Modal Negara (PMN) yang sudah belasan triliun?. Jika dilikuidasi lalu dihapus begitu saja (sudah tidak ada asset), maka kekayaan Negara akan berkurang. Adanya PNM tentu saja dianggap modal Negara. Ilustrasinya seperti ini :

Negara memberikan PNM ke Merpati sebesar Rp 10 triliun, maka dalam keuangan Negara akan dicatat ada kekayaan yang dialihkan sebesar Rp 10 triliun. Logika sederhananya, jika dianggap pembukuan adalah ada Rp 10 triliun piutang Merpati ke Negara. Ini memperbesar porsi saham Negara, sudah tidak karena 100% Merpati adalah BUMN. Disuntik modal ataupun tidak tetap saja 100% Merpati milik Negara. Jika Merpati dibubarkan maka 100% kerugian adalah kerugian Negara, seperti PNM Rp 10 triliun yang tidak bisa ditagih Negara.

Jika asset Merpati dijual? Tentu saja yang didahulukan adalah siapa yang "memberi utang ke Merpati", semisal Merpati punya utang Avtur ke Pertamina, Shell dan lain-lain senilai Rp 1 triliun, lalu punya utang catering Rp 500 miliar dari supplier dll. Maka jika asset Merpati dijual untuk pelunasan hutang yang menjadi prioritas sesuai aturan. Jika gak cukup yaa....supplier gigit jari. Negara lebih gigit jari lagi karena sudah setor modal terus lalu gak ada yang balik.

Sebagai pemegang saham 100% maka jika Merpati untung, masuklah 100% deviden yang dibagi ke kas Negara, masuk ke APBN. Kalau untung.....kalau untung.

BUMN diikat dengan 8 aturan, ini beda dengan BUMS yang hanya 3 aturan. Artinya memang sulit benar mengelola BUMN. Untuk itu, supaya enak dan nyaman, kalau BUMN untung tiap tahun.....untungnya naik....tidak ada BUMN rugi, maka "jayalah Negara". Namun jika BUMN kinerja turun....turun....turun....maka "Pusing Negara". Kalau turun .....turun....turun....lalu rugi....rugi...rugi terus seperti Merpati maka APBN yang seharusnya untuk rakyat, bisa saja lama-lama APBN untuk nombok kerugian BUMN melalui PMN. Jika tidak ditambah modal, mana bisa BUMN melakukan operasional, jika rugi terus mana bisa BUMN punya uang/kas. Cashflow negative, solusinya yaa... PNM.

Apakah jika BUMN untung tidak perlu PNM?, belum tentu. Lihatlah PT Waskita Karya (Persero) Tbk, BUMN konstruksi itu untung terus sejak tahun 2013 (sebelumnya memang rugi, tapi ditulis untung  sehingga Direktur Keuangan saat itu diperiksa aparat penegak hukum). PT Waskita Karya diberikan PNM oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani, tentu saja dalam rangka menopang pembangunan infrastruktur Jokowi. Dengan modal kerja yang lebih besar, maka kemampuan pembiayaan akan semakin besar, berbondong-bondong perbankan memberikan kredit. Dalam suatu proyek modal sendiri 30% dan lembaga pembiayaan (perbankan) 70%. Jika Waskita Karya diberikan PNM Rp 6 triliun, maka akan menaikkan potensi mendapatkan pinjaman sebesar Rp 20 triliun.

Jadi melihat cerita diatas, memang ngeri jika BUMN kinerjanya turun....turun.... Karena Menteri Keuangan akan berdebar-debar, kalau BUMN rugi....siap-siap APBN digunakan untuk nambal BUMN. Jika kinerja BUMN naik....naik....naik maka Menteri Keuangan akan senyum-senyum, setoran deviden BUMN ke APBN akan naik. Tentu Menteri Keuangan tidak bingung menambal kebutuhan APBN dari hutang. Itulah mengapa Temasek Singapura (BUMN) agresif menanamkan modal ke Indonesia, karena tentu saja sebagian devidennya akan masuk ke APBN Singapura. BUMN investasi Malaysia Khazanah B juga sama, gencar investasi ke Indonesia untuk menopang APBN Malaysia.

Lihat kinerja anak usaha TELKOM yaitu TELKOMSEl yang sangat kinclong, TEMASEK Singapura memiliki 35% saham di TELKOMSEL. Kinerja keuangan TELKOM sekitar 70% berasal dari TELKOMSEL. Diprediksi tahun 2017 laba TELKOM mencapai sedikitnya Rp 20 triliun, karena sampai Oktober 2017 laba sudah mencapai Rp 17 triliun. Berarti kontribusi laba TELKOMSEL tahun 2017 yang disumbangkan ke TELKOM mencapai Rp 14 triliun, dengan kata lain sumbangan laba dari TELKOMSEL untuk TEMASEK Singapura mencapai Rp 7 triliun. Ini sama dengan jumlah laba yang diraih seluruh BUMN Karya (ADHI Karya, Waskita Karya, Hutama Karya, Pembangunan Perumahan, Nindya Karya, Istaka karya dll) dalam waktu 3 tahun (2015, 2016 dan 2017).

Sayangnya, ada beberapa BUMN jagoan yang dulu menjadi penopang Deviden APBN, masuk dalam daftar 2.000 perusahaan terbesar dunia versi FORBES dan lainnya, sekarang kinerjanya terpuruk. Penting publik menyoroti dan mendorong agar kinerja BUMN terus dalam posisi baik. BUMN untung, Negara Untung, Masyarakat Untung.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x