Mohon tunggu...
Arief Noviandi
Arief Noviandi Mohon Tunggu... Praktisi Komunikasi dan Informatika.

Penyuka Caffe Latte dan Cappucino, tak kuat kopi hitam. Suka menyelami kata-kata dan grafis di media sosial.

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Citra Polisi di Bawah Pimpinan yang Tak Pernah Ragu Melangkah

14 Juli 2019   00:19 Diperbarui: 14 Juli 2019   01:09 0 2 1 Mohon Tunggu...
Citra Polisi di Bawah Pimpinan yang Tak Pernah Ragu Melangkah
Presiden Jokowi, Wapres Jusuf Kalla dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian dalam HUT Bhayangkara ke-73 (pojoksatu.id)

Tak banyak lembaga di negeri ini yang terus konsisten melakukan inovasi dan perbaikan. Dari sedikit lembaga yang terus yakin melakukan proses Kaizen ala manajemen Jepang itu, institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) bisa dibilang crme de la crme, alias yang paling top dari yang terbatas itu.

Bila tidak, bagaimana bisa dalam satu kesempatan saja Presiden Joko Widodo menyematkan serenceng pujian bagi Polri? Saat menjadi Inspektur Upacara pada prosesi peringatan ke-73 Hari Bhayangkara tahun 2019 di Lapangan Monas, Jakarta Pusat, Rabu, 10 Juli lalu, Presiden Jokowi tak hanya menyatakan terkesan dengan kerja sama Polri-TNI yang sangat sinergis dan penuh harmoni. Presiden juga menyebut satu demi satu prestasi yang membuatnya turut bangga.

Pertama, dengan track Kepolisian yang dilihat publik selama kepemimpinan Kapolri Jenderal Tito Karnavian,  Presiden yakin sepenuhnya bahwa Polri akan terus berkontribusi dalam membangun negara bangsa.

Bukan sekadar itu, Jokowi juga bangga bahwa Polri mampu menunjukkan kinerja yang turut membuncahkan kebanggaan bangsa di mata publik internasional. Bagaimana tidak, bila dalam dua tahun terakhir Polri---dengan menggandeng dan didukung sepenuhnya oleh TNI sebagai mitra kerja utama, mampu mengawal berbagai even akbar nasional dan internasional.

"Mulai dari Pilkada serentak di 171 wilayah, Asian Games yang diikuti sekitar 40 negara, Asian Para Games yang memiliki rentang waktu berdekatan, IMF-World Bank Annual Meeting di Bali yang melibatkan 30-an ribu peserta, tahapan Pemilu serentak yang panjang, hampir 10 bulan, kondisi yang kondusif selama Ramadhan, Idhul Fitri dan Natal yang benar-benar aman dan tenang, semua adalah prestasi yang patut diapresiasi," kata Presiden dalam kesempatan itu. "Untuk itu saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya."

Tidak hanya itu institusi Polri yang semakin akuntabel juga diapresiasi Jokowi. Hal itu memang dengan mudah terlihat dari capaian opini wajar tanpa pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Jokowi menyatakan dirinya sangat menghargai indeks reformasi birokrasi Polri yang mengalami peningkatan, serta banyaknya zona integritas yang dibangun Polri. Selain itu, Jokowi juga menyebutkan penghargaannya atas tingkat kepercayaan publik kepada Polri terus meningkat dari tahun ke tahun.

Misalnya,selama enam tahun berturut-turut Polri mendapatkan status Wajar Tanpa Perkecualian (WTP) dari BPK  yakni dari  2013-2018. Tingkat akuntabilitas kinerja juga naik dari 72,11 pada 2018 ke 74,8 atau meraih nilai BB plus. Selain itu telah tercipta 69 zona integritas wilayah bebas korupsi, jumlah terbanyak kedua setelah Kementerian Keuangan.

Barangkali tulisan ini akan terjerembap menjadi sebuah ode (tulisan penuh sanjungan) bila daftar prestasi Polri itu kita angkat. Namun yang jelas, langkah perbaikan yang dilakukan dan segera terlihat hasilnya itu nyaris sebuah kemustahilan bila melihat cepatnya perubahan yang terjadi.

Lihat saja, sebagaimana diakui Kapolri, pada 2016 Polri masih merupakan satu dari tiga institusi yang paling tidak dipercaya publik. Tak sampai setahun masa jabatannya, dengan  pasti kondisi tersebut berubah drastis.

Survey Poltracking Indonesia pada November 2017 menempatkan Polri pada urutan ke-5 lembaga yang paling dipercaya dengan tingkat kepercayaan mencapai 79 persen. Sedangkan survey Populi Center menempatkan Polri pada urutan ke-4 setelah lembaga Presiden, KPK RI, dan TNI, sebagai lembaga yang paling dipercaya publik. Survey lainnya tahun itu, yakni dari Litbang Kompas, menempatkan Polri di urutan ke-3 dalam trend Citra Lembaga Negara, di bawah TNI dan KPK.

Kepercayaan publik semakin tahun kian melekat kepada Polri. Pada 2018, survey Alvara Research Center pada bulan Mei 2018, juga menempatkan Polri sebagai urutan ke-3 lembaga yang paling bisa dipercaya. Menariknya, survey ini menunjukkan pada Polri adalah lembaga yang mengalami trend peningkatan di tengah trend penurunan yang terjadi pada lembaga lainnya selain KPK. Survey lainnya tahun itu dilaksanakan Litbang Kompas pada Juni 2018. Hasilnya, kepercayaan masyarakat terhadap institusi Kepolisian telah menyentuh angka 82,9 persen, angka tertinggi sejak era reformasi (pemisahan Polri dari ABRI).

Selaras dengan fakta itu, Gallup Inc sebuah lembaga survey Internasional ternama merilis  hasil survey yang isinya bahwa kepercayaan masyarakat terhadap petugas kepolisian dan perasaan aman masyarakat dari gangguan kejahatan di Indonesia, menduduki peringkat ke-9 dari 142 negara. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2017 dengan total responden mencapai 148.000 di 142 negara. Kurang dari dua tahun menjadi pimpinan tertinggi Polri, Jenderal Tito Karnavian mencetak prestasi dunia!

Bagaimana Tito mampu melakukan semua itu? Tentu saja kita bisa bicara banyak tentang perencanaan dan program kerja yang ia laksanakan dengan ketat dan terarah. Kita tahu, bahkan sejak fit and proper test di DPR RI, saat masih menjadi kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Tito telah membawa 11 program kerja utamanya andai ia menjadi Kapolri.

Pada saatnya amanah sebagai Kapolri itu datang, Tito sudah siap dengan program utamanya, Promoter yang menghendaki personel dan lembaga Polri menjadi entitas yang profesional, modern dan tepercaya. Ia siap dengan berbagai inovasi. Terbukti hingga 2017 saja di bawah Tito, Polri berhasil meluncurkan tak kurang dari 1.123 inovasi pelayanan berbasis teknologi informasi (TI). Belum lagi sekian banyak pembangunan berbagai Posko Terpadu atau Command Center ditingkat Polda, yang dilengkapi dengan CCTV guna memantau, mengawasi, maupun menanggulangi berbagai gangguan dan kejahatan.

Dalam bidang perbaikan kultur, Tito telah menerbitkan tiga Peraturan Kapolri yang berkaitan dengan perbaikan kultur, yakni Perkap Nomor 8 Tahun 2017 tentang Penyampaian LHKPN dilingkungan Polri, Perkap Nomor 9 Tahun 2017 tentang Usaha Bagi Anggota Polri, dan Perkap Nomor 10 Tahun 2017 tentang Kepemilikan Barang Yang Tergolong Mewah. Ketiga Perkap ini menjadi ampuh 'senjata' untuk mengerem budaya koruptif yang ada di tubuh Kepolisian.

Kapolri tentu bisa menyebutkan apa yang menjadi resep yang ia andalkan untuk mencapai prestasi dalam waktu secepat itu. Namun sebagai seorang diluar institusi yang melihat dari luar pagar, ada beberapa alasan dan satu resep utama mengapa Kapolri sukses membawa institusinya sarat prestasi.

Yang paling utama adalah karena Emotional quotient Jenderal Tito, kecerdasan emosional  yang ditunjukkan dengan kemampuannya berinteraksi dan membangun hubungan baik secara internal maupun eksternal dengan atasan, mitra dan tokoh-tokoh masyarakat.

Kemudian keluasan wawasan dan pengetahuan (knowledge) yang dibangun dari pondasi kemampuan intellectual quotient (IQ) diatas rata-rata yang ditandai dengan selalu menjadi juara kelas sejak SD. Kemudian diasah dengan pendidikan formal di dalam dan luar negeri di sekolah dengan reputasi tinggi hingga Ph.D dan Profesor.

Ini dimatangkan lagi dengan pengalaman lapangan sebagai polisi bertugas ditempat-tempat yang menantang seperti di Poso, Aceh, Ambon, dua kali Kapolda yang dalam kultur Polri adalah Kapolda daerah panas dan banyak konflik : Papua dan Jakarta. Pengalaman tugas menangani berbagai kasus teror makin menambah kematangannya.

Ia yakin dengan langkah yang telah dipikirkan, didiskusikannya dengan berbagai unsur yang terlibat, sebelum mengambil keputusan. Banyak pemimpin yang bisa melakukan dua hal terakhir: berpikir, berdiskusi, melibatkan banyak pihak dalam keputusannya. Namun sedikit yang yakin dalam langkahnya manakala menghadapi ujian dan cela.

Jenderal Tito adalah orang yang sedikit  di antara kelompok kecil itu. Ia berpikir, ia mau berbagi kesempatan dan melibatkan banyak orang, ia yakin dalam memutuskan. Dan ia sepenuhnya yakin dalam melangkah menjalankan apa yang ia percaya. Itu resep utamanya yang terbaca oleh publik [ ]