Arief Budimanw
Arief Budimanw lainnya

rumah di jakarta..

Selanjutnya

Tutup

Politik

Membandingkan Cara Kerja Ahok dan Anies

9 Maret 2018   00:03 Diperbarui: 9 Maret 2018   00:29 1137 6 5
Membandingkan Cara Kerja Ahok dan Anies
Sungai Ciliwung di Bukit Duri Jakarta Selatan, luas dan dalam dan perlu getek untuk menyeberang ke rumah diseberang sungai.

Sudah  sekian bulan lamanya  Anies Baswedan mengatur kota  Metropolitan DKI Jakarta ini. Sudah kelihatan sekarang pola dan  kebiasaan kerja dari gubernur yang sangat pandai dalam menata kata ini.  Gebrakan-gebrakannya selalu membuat terpana penduduk dan masyarakat  Jakarta. Out of the box. luar biasa. benar-benar diluar kebiasaan kita.  Saya dan mungkin sebagian masyarakat Jakarta tidak pernah berpikir  sampai disitu. It's amazing.  

Namun lama-lama, dari pengamatan  orang awam seperti saya, cara mengelola dan mengatur ibukota Negara ini  mulai terbaca polanya. Dan jika dibandingkan pengelolaan kota oleh AHOK  dan oleh Anies sudah terlihat bedanya. Sangat berbeda. Sangat-sangat  bertolak belakang. Diibaratkan jika mereka berjalan mau ke suatu tempat,  kemudian terhalang oleh sungai berarus deras dan dalam maka kita bisa  lihat bagaimana cara mereka mengatasinya.

Untuk orang seperti Ahok  sudah jelas. Sebagai lulusan Tehnik Geologi Universitas Trisakti. Dia  akan berfikir lurus . Harus nyebrang sungai titik. Maka harus dibangun  jembatan yang kokoh. Yang bisa berumur ratusan tahun. Tahan gempa dan  bisa dipakai oleh semua orang dan kendaraan. Bagaimana biayanya.   Biayanya NOL Rupiah. Semua ditanggung CSR.

Jelas. Clear. Kristal.

Bagaimana dengan cara Anies?

Sebagai  lulusan Fakultas Ekonomi  Universitas UGM dan University of Maryland   USA, maka saya akan membayangkan adalah langkah yang pertama diambil  adalah dia akan mencoba naik getek dulu. Jika sudah ada getek maka  masalah selesai.  Tidak perlu jembatan titik.

 Namun jika tidak  ada getek maka cerita berlanjut. Langkah kedua adalah mencari jalan  memutar namun jika terlalu jauh  maka  dibuatlah  jembatan bambu sebagai  jembatan sementara sambil merumuskan apa yang akan diambil dan  dikerjakan besok lusa. Kemudian rapat dengan staffnya untuk  brainstorming mengatasai masalah ini. Perlu dibuat atau tidak, untung  ruginya, panjang kali lebar kali tinggi.  Setelah putus lalu dibikin  disainnya. Rapat lagi untuk bikin tender dan budjet. kemudian penawaran  lelang. Lalu baru munculah pemenang tender. Akhirnya  jembatan bisa  dibuat. Alhamdulillah jadi juga dibangun itu jembatan.

Namun  karena rapat dan pengambilan keputusannya terlalu lama. Di sekitar  jembatan bambu tadi sudah banyak tumbuh pedagang kaki lima. Rumah-rumah  makan sederhana. Pokoknya lokasi tadi jadi ramai penuh tempat kegiatan  ekonomi baru yang bagus dan pesat. Dan jadi masalah baru harus digusur  atau tidak. Masalah ini akhirnya digodok ulang dalam rapat panjang di  balaikota.

Mumet masalahnya jadinya.

Lalu Demo terjadi.  Kemudian mereka  diundang ke balaikota dan hasilnya adalah Geser dan  kemudian bikin tenda penampungan.  Semua senang. Masalah selesai. Anggap  aja selesai. Berapa biayanya? Pasti banyak rupiahlah. Siapa yang  nanggung? APBD pastinya karena pakai tender.

Ilustrasi diatas  adalah yang saya bayangkan terjadi jika  membaca pola dan cara memimpin  para gubernur  DKI Jakarta saat ini.  Terus apakah cara Ahok benar dan  cara Anies salah. Menurut saya dua-duanya benar karena tidak ada yang  melakukan kejahatan. Tapi jika harus ada yang salah maka itu semua  tergantung cara pandang kita. Jika kita berfikiran yang salah masuk  penjara, berarti cara Ahok salah. Karena dia (lagi) di penjara. Tidak  nyambung memang dengan kisah diatas. Namun sekarang ini logika sudah  disimpan di lemari es. Mereka beku disana.

Akhirnya berfikir..

Buni  Yani dinyatakan bersalah di pengadilan tapi tidak masuk penjara..  berarti dia tidak salah karena yang salah masuk penjara. Itu logika saya  saat ini. Dan saat ini masih ada di dalam kulkas.

Selamat bekerja  Pak Anies. Kota Jakarta ini milikmu sampai 5 tahun kedepan. Baik dan  buruknya kota ini semua terserah bapak. Keberpihakan bapak terhadap  pengendara motor saya hargai. Salut. Itu benar-benar ciri cara kerja  bapak. Tapi untuk pedagang di jalan jatibaru saya rasa itu bukan cara  kerja Bapak.