Mohon tunggu...
Arief Bakhtiar D.
Arief Bakhtiar D. Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

Twitter: @AriefBakhtiarD │ Instagram: @AriefBakhtiarD │ Goodreads: AriefBakhtiarD

Selanjutnya

Tutup

Muda Pilihan

Umar

25 November 2015   10:40 Diperbarui: 25 November 2015   11:56 50 0 0 Mohon Tunggu...

Untuk Umar, di Sheffield

Sejak saya melihatnya pada pertengahan tahun 2008 di Universitas Gadjah Mada, tempat kuliah kami, Umar hampir-hampir tak pernah berubah. Ia pemuda Banjarmasin yang hidup di masa lalu: dengan lagu-lagu Rinto Harahap, Iwan Fals, Exist, atau Broery Pesulima.

Orang yang telah lama mengenalnya akan mengatakan Umar adalah seorang lelaki lugu—ada teman mengidentifikasi Umar dengan kalimat “seseorang yang tidak tahu bahaya apa yang akan menimpa dia”. Penampilannya agak tak terurus, mungkin karena ia tak punya pacar atau perempuan cerewet yang memberi perhatian lebih soal itu. Ia pernah tampil agak gundul, juga pernah memanjangkan rambut (yang membuatnya terlihat benar-benar sebagai pemuda yang berantakan). Tapi bagaimana pun Umar masih lebih cocok dalam pakaian necis ketimbang saya yang dulu kerap cuma memakai kaos dan sandal untuk kuliah. Gayanya juga lebih intelektual—cara-cara bicara yang hanya pantas kalau mengungkapkan problem yang serius dan dalam. Saya kerap membayangkan dirinya, di masa depan, dengan Umar yang memakai jas, dasi, dan kaca mata yang merosot layaknya profesor yang digambarkan di film-film.

Bayangan itu agaknya bukan andai-andai. Umar telah biasa diandalkan di bagian-bagian sulit dalam suatu makalah kelompok atau riset. Sebagai seorang yang pernah satu tim riset mengenai tambang minyak bumi di Bojonegoro, saya bisa cerita kalau ia mendapat bagian kerja yang sulit di bab analisis, juga bagian editor. Yang kiranya perlu saya ceritakan di sini, dalam daftar pustaka makalah riset itu, Umar rupanya memasukkan bacaan Das Kapital: Kritik der Politische Oekonomie (terjemahan Samuel Moore dan Mark Aveling) dan Manifesto of The Communist Party dari Karl Marx, serta Politik Pembebasan: Teori-Teori Negara Pascakolonial dari Vedi R. Hadiz. Mulai dari situ saya kerap memperhatikan, tulisan-tulisannya dipengaruhi oleh intelektual kiri, bahkan tulisannya di BEM UGM mengenai beberapa kebijakan.

Dalam pengakuannya di kemudian hari, Umar telah membaca buku Paulo Freire sewaktu di sekolah menengah atas. Barangkali sejak itu ia mulai condong untuk mendekati masalah memakai pemikiran Marx, tapi hanya sebagai ideologi personal. Dalam arti bukan mengaguminya sebagai sistem politik. Pendekatan Marxis itu tentu saja harus kita bedakan dengan penyebaran propaganda untuk menjadi Marxis atau komunis. Lebih jelas saya katakan, Umar memakai metodologi Marx untuk keberpihakan pada rakyat yang berada dalam relasi tertindas oleh negara atau perusahaan multinasional. Kata “relasi” itulah yang menjadi perhatiannya. Sebab komunisme punya sifat membebaskan, tapi tidak dalam sistem politik. Di Soviet dulu, rezim yang berkuasa bahkan melarang pembahasan mengenai pemikiran Marx karena di dalamnya memunculkan manusia sebagai subjek yang harus bebas.

Semasa kuliah, kami bersama-sama mempelajari Marx atau Gramsci atau Engels, meskipun tidak persis betul waktunya. Setidaknya kami pernah mengambil mata kuliah Teori Sosialisme yang dipegang oleh Eric Hiariej dalam semester yang berlainan. Tapi Umar, tentu saja, lebih rajin, rapi dan tekun dalam menulis daripada saya. Hal itu mudah diamati: tulisan-tulisannya saat masih menjadi mahasiswa sarjana menembus harian nasional, juga harian berbahasa Inggris. Saya sering bercanda bahwa dia kini manusia abadi (dari kata Pram, bahwa menulis adalah kerja keabadian). Diam-diam saya berterima kasih atas rajin dan tekunnya: kalau tidak satu tim riset dengan dia, saya mungkin tak akan pernah ke luar negeri selama mahasiswa.

Kadang-kadang, kalau ia dapat honor cukup banyak karena tulisannya dimuat di koran nasional, ia kerap menraktir saya makan-makan. Tidak perlu di restoran atau kedai yang elit, karena kehidupan muda kami memang tidak berhamburan uang (juga barangkali karena dipengaruhi besaran uang saku kiriman orang tua). Jalan-jalan yang bagi kami tergolong elit adalah sekedar nonton film di bioskop, yang dilakukan tidak sampai sebanyak jari tangan per tahun. Dalam acara perayaan pesta wisuda Umar di sebuah tempat makan Jalan Kaliurang, rupanya ia singgung juga tentang itu. Di pesta yang dihadiri beberapa laki-laki dan gadis-gadis yang tidak begitu saya kenal itu, ia memperkenalkan saya sebagai “teman nonton film”.

Dalam masa-masa kuliah itu juga saya mengenang, Umar adalah sedikit golongan manusia yang dengan setia terus memakai telepon genggam merek Nokia tipe paling sederhana. Baru beberapa hari yang lalu, setelah saya dengar kabar tulisannya dimuat di koran Kompas, ia lapor telah memakai telepon genggam yang lebih trendi. Saya belum lihat, mungkin yang layarnya digerakkan dengan sentuhan. Hal itu menyenangkan saya, karena ia kini seorang brilian dan trendi.

Masalah brilian ini kiranya saya bahas sedikit lebih. Pada tahun-tahun terakhir masa studi kami, Umar tidak pernah tampak membawa tas. Satu hal: kebiasaan itu mengesankan bahwa ilmu buku-buku telah mengendap di otaknya sehingga ia tak perlu membawa buku, secara fisik, ke mana-mana. Saya kira ia punya gaya Oxford: mahasiswa brilian di Oxford, seperti dikatakan Stephen Hawking dalam My Brief History, adalah yang tidak menunjukkan usaha keras, atau punya gengsi “anti-bekerja”.

Memang itu bukan soal yang begitu perlu ditilik dari Umar. Yang lebih perlu dilihat, dan mungkin ditiru, adalah bagaimana Umar menulis untuk menyelesaikan persoalan (berbeda dengan saya yang sering menulis untuk melemparkan persoalan). Saya percaya selamanya ia akan menulis untuk menghadapi dan melawan kejahatan dengan ilmiah, dengan kapasitasnya sebagai seorang akademisi. Ia akan mengorek kebusukan dunia, apakah itu perusahanaan multinasional, gerakan mahasiswa atau partai politik, selama itu perlu. Barangkali ia, pemikiran-pemikirannya, ide-idenya, kelak dihantam. Tapi saya bisa yakin Umar tidak akan bonyok, atau tidak mudah—sebuah keuntungan punya karakter lugu yang saya katakan di awal tadi.

Untuk saat ini, orang-orang seperti dia punya potensi untuk menempuh, meminjam kalimat Ariel Heryanto, “persimpangan jalan yang tidak sepenuhnya menyenangkan”: bekerja di lingkungan akademik dengan dukungan sarana dan material yang terbatas, atau mendalami ilmu dan berkiprah di luar tanah air, untuk tanah air yang bukan Indonesia. Keduanya punya resiko: yang pertama adanya tuntutan-tuntutan kepegawaian seperti rapat-rapat atau tugas birokratis lain, yang akan mengendapkan daya analitisnya, dan yang kedua ia sangat mungkin terasing di tempat baru dan mungkin dari negerinya sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x