Mohon tunggu...
Mbah Ukik
Mbah Ukik Mohon Tunggu... Jalma desa saba wana.

Wong desa

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Suka Dukaku di Dunia Media Sosial 2019

2 Januari 2020   20:47 Diperbarui: 3 Januari 2020   09:20 123 20 12 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Suka Dukaku di Dunia Media Sosial 2019
Tangkap layar Local Guide. Dokpri

Sebagai seseorang yang punya hobi moto atau motret dan menulis, maka hasil jeprat-jepret dan corat-coret saya sering saya tumpahkan di FB dan Kompasiana. Sebelumnya, pada tahun 2010 saya tuangkan di blogspot yang hanya berumur 1 tahun karena diblokir sebab dianggap menayangkan sesuatu yang tak pantas alias ketelanjangan. Padahal yang kuposting selalu foto-foto budaya, alam, dan human interest.

Pada awal 2011, mulailah saya terjun ke FB namun hanya sekedar lihat postingan, dan pada Mei 2011 mulai masuk Kompasiana dengan lebih banyak memamerkan hasil jepretan. Walau masih belum sepenuh hati.

Baru 2013, mulai sedikit unjuk diri dengan rasa sedikit minder melihat karya-karya Kampret yang awalnya akronim dari Kompasiana Hobi Jepret lalu berubah jadi Komunitas Hobi Jepret.

Tangkap layar Local Guide. Dokpri
Tangkap layar Local Guide. Dokpri
Hla seperti ini kok malah banyak. Dokpri
Hla seperti ini kok malah banyak. Dokpri
Rupanya, ketertarikan pembaca Kompasiana pada budaya dan alam kurang begitu menggigit, walau tulisan tentang alam, budaya, dan human interest juga sering jadi Artikel Utama. Namun demikian yang membuat bangga tentunya, pada akhir 2018 terpilih sebagai Best Citizen Journalism dan People Choice's.

Rupanya, pembaca mulai 'bosan' dengan kisah-kisah dan gaya tulisan saya, maka, foto-foto yang kuanggap baik kuposting di FB dan kadang mengadakan pameran secara terbuka di gereja atau tempat terbatas seperti di lingkup cafe dan sekolah.

Sialnya, selama tiga tahun terakhir ini sering ditegur dan tiga kali foto saya diblokir FB karena dianggap berbau ketelanjangan. Ditambah lagi saya ditendang dari tiga komunitas budaya dengan alasan terlalu kritis terhadap hal yang berbau klenik. Wal hasil akun FB saya pun tutup.

Mulailah, saya melirik IG yang baru berumur satu tahun. Dasar sial, 5 hari setelah akun FB saya tutup, ganti dua postingan saya di IG dihapus Admin dengan alasan mengandung unsur ketelanjangan pula. Padahal saat kuposting di Kompasiana aman-aman saja dan memang tidak ada unsur ketelanjangan.

Menanggapi hal ini saya cuma gregetan, mengingat beberapa postingan di IG bisa dikatakan lebih hot dan tidak pantas. Dalam hati saya cuma bisa mengelus dada sambil bertanya dalam hati 'apa bener foto-foto postingan saya tidak pantas tayang?'

Ada yang lapor? Tanya beberapa Kompasianer. Entahlah. Tak perlu suudzon, mungkin FB dan IG harus kutinggalkan. Tapi dengan konsekuensi tak bisa ikut lomba nulis ato foto.

Kebun kami cuma dilihat 3X. Dokpri
Kebun kami cuma dilihat 3X. Dokpri
Cukup bagus cuma dilihat 1X. Dokpri
Cukup bagus cuma dilihat 1X. Dokpri
Jika FB dan IG mendapat prestasi buruk pada akhir tahun 2019, maka beda lagi di Local Guide, Google Map, justru saya masuk level 10 dengan raihan viewers foto sebanyak 200.999. Cukup menggembirakan.

Foto-foto yang kuposting tetap pemandangan alam, human interest, dan budaya di sekitar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan Jogja serta sedikit foto-foto suasana mall di Malang saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x