Mohon tunggu...
Ardy Firmansyah
Ardy Firmansyah Mohon Tunggu... Mencari candu yang baru

Lagi belajar nulis di Kompasiana | Psikologi Universitas Negeri Malang 2015 | email : ardyf3311@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

'Anjay' dan Umpatan yang Tidak Akan Ada Habisnya

2 September 2020   13:31 Diperbarui: 2 September 2020   13:34 185 22 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
'Anjay' dan Umpatan yang Tidak Akan Ada Habisnya
Dok. Pribadi diolah dari PicSay Pro

"Umpatan adalah bumbu percakapan yang nikmat."

Siapa sih yang masalahin kata 'Anjay'! Dasar Alay! tuh kan lega banget habis nulis itu hahaha.

Bukan bermaksud membenarkan perilaku yang sering ngomong kotor kalau lagi nongkrong ataupun merundung, tapi di setiap budaya saat sedang berkumpul dengan teman-teman dekat, kata-kata umpatan itu pasti akan muncul dengan sendirinya. Menandakan sebuah keakraban dan digunakan sebagai bumbu percakapan.

Fenomena kata 'Anjay' yang bermasalah, tidak bermoral-lah atau barangkali jadi sebuah dosa kalau sering diucapkan, membuat saya berpikir, "selama ini saya berdosa dong". Meski saya tahu secara dasar itu adalah tugas Malaikat dan Tuhan sih.

Mungkin menurut moralitas beberapa orang, mengumpat itu bukan hal yang baik. Tetapi menurut beberapa yang lain mengumpat itu biasa saja dalam kehidupan sehari-hari. Bisa saja maksud si Lutfi Agizal adalah memperjuangkan 'moral' dan 'nilai' yang ia percayai.

Mungkin ia ingin mengubah 'dunia bersosialisasi' orang Indonesia yang berwarna 'hitam dan abu-abu' sesuai dengan 'moral' dan 'nilai' naifnya. Semuanya jadi putih dan suci. Niatnya baik tapi serasa dia masih bocah polos.

Bisa saja menurutnya di dalam dunia ini hanya ada hitam dan putih. Dan menurut dia, dengan 'memutihkan' cara berinteraksi orang-orang Indonesia melalui larangan penggunaan kata 'Anjay' itu semua bisa diselesaikan. Atau mungkin ia pernah tersakiti dengan kata 'Anjay', merasa terluka ataupun jijik. Lalu pengalaman personalnya itu dibawa untuk mempermasalahkan suatu hal yang tidak perlu dipermasalahkan?

Unfaedah syekali~

Padahal penggunaan kata harus disesuaikan dengan tempat (lingkungan) dan juga konteks. Selain itu masih banyak kata lain yang bisa dibuat sebagai umpatan.  Bahkan kata yang berkonotasi baik, bisa digunakan sebagai ejekan. Coba cek saja artikel "Pohon Kata Bernama Anjing" dari bang Khrisna, sudah lengkap membahas hal itu. Artikel bahasa yang paripurna, hewhew.

Jika permasalahannya bukan sebuah kata, namun perilaku atau penggunaan kata itu sendiri. Berarti yang menjadi isu disini adalah manusianya. Manusia yang berusaha untuk menyakiti orang lain, dalam hal ini mengumpat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN