Ardi Winangun
Ardi Winangun lainnya

Kabarkan Kepada Seluruh Dunia

Selanjutnya

Tutup

Politik highlight headline

Menyimak Kehadiran Pasukan Amerika di Marawi

19 Juni 2017   08:41 Diperbarui: 19 Juni 2017   10:45 2347 4 3
Menyimak Kehadiran Pasukan Amerika di Marawi
Seorang personel marinir Filipina membidik senapan serbunya saat berpatroli di kota Marawi, Mindanao.(TED ALJIBE / AFP )

Sejak pecah pemberontakan di Marawi, Filipina bagian selatan, 13 Mei 2017, yang dilakukan oleh Klan Maute yang disebut berbaiat pada ISIS, hingga saat ini, sepertinya gerakan separatisme itu belum bisa dipadamkan oleh militer Filipina. Bahkan dalam pertempuran itu, disebut 13 marinir tewas dan 40 marinir Filipina terluka, di samping mengakibatkan jatuhnya korban di kalangan sipil maupun di pihak pemberontak.

Tewasnya 13 marinir tersebut merupakan sebuah pukulan telak terhadap pemerintah Filipina. Jatuhnya korban sebanyak itu menunjukkan bahwa musuh yang dihadapi, pasukan Klan Maute, bukan pasukan biasa. Sepertinya mereka adalah kelompok yang terlatih dan menguasai medan. Mereka terlatih bisa jadi masyarakat di Filipina bagian selatan sudah terbiasa berkonflik. Sejak tahun 1969, di Filipina bagian selatan, silih berganti muncul kelompok militer yang melakukan upaya pemisahan diri dari pemerintah pusat di Manila. Keinginan memisahkan diri itu disebabkan oleh banyak faktor, seperti masyarakat Filipina bagian selatan mayoritas Islam sementara mayoritas di negara itu Katolik dan adanya unsur ketidakadilan pembangunan ekonomi dan sosial yang dilakukan pemerintah pusat di wilayah bagian selatan.

Akibat tidak mudahnya memadamkan pemberontakan Klan Maute membuat pemerintah Filipina kehabisan akal, pasukan, logistik, dan anggaran perang sehingga mereka, secara diam-diam atau terus terang, mengundang militer Amerika Serikat untuk hadir di Marawi untuk turut serta memadamkan gerakan sparatisme itu. Apa yang menyebabkan Filipina mengundang militer asing untuk terlibat urusan dalam negeri?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan Filipina mengundang militer Amerika dibanding mengundang militer dari negara lainnya. Faktor tersebut adalah, pertama, dari segi sejarah, memang kedua negara, Amerika dan Filipina, sudah sejak lama menjalin kesepakatan kerja sama militer. Dalam historia.id, kehadiran militer Amerika sudah lebih dari 100 tahun. Mereka hadir di negara kepulauan itu saat berkonflik dengan Spanyol. Setelah negeri Matador itu dikalahkan oleh negeri Paman Sam, 1898, maka Filipina dikuasai.

Sebagai negara yang ingin lepas dari segala bentuk penjajahan maka Filipina melawan Amerika yang telah menguasai. Namun hal itu tidak gampang. Negeri itu sempat lepas dari Amerika ketika Jepang melakukan invasi ke Asia Tenggara pada Perang Dunia II. Setelah Jepang kalah perang, Amerika kembali menguasai Filipina.

Ketidakmampuan Filipina menghadapi Amerika maka dibuatlah kompromi. Amerika memberi kemerdekaan pada Filipina pada 4 Juli 1946. Kompensasinya pada 14 Maret 1947, Amerika diperkenankan membangun pangkalan militer. Dari sinilah, Amerika mempunyai pangkalan angkatan laut di Teluk Subic dan Pangkalan Angkutan Udara Clark.

Pada tahun 1991, kedua pangkalan militer tersebut sebenarnya sudah ditutup oleh pemerintah Filipina dan membuat negara itu bebas dari pengaruh militer Amerika. Namun ketidakmampuan Filipina dalam menghadapi China dalam konflik Laut China Selatan membuat negeri itu pada tahun 2014 mengundang kembali Amerika untuk ikut bantu-bantu menggertak China.

Jadi bantuan pasukan Amerika di Marawi itu merupakan kelanjutan bentuk kerja sama militer kedua negara seperti sebelumnya. Seperti pada Perjanjian 1947 yang mengatakan, Amerika memberi pelatihan dan peralatan militer kepada militer Filipina, sebagai kompensasi dibuka pangkalan militer Amerika.

Kedua, Filipina tetap percaya kepada Amerika untuk membantu pasukan dalam negeri dalam konflik di Marawi sebab pasukan Amerika dilihat oleh Filipina merupakan militer yang sudah teruji dalam teknologi militer, mata-mata, pengalaman tempur, dan ketangguhan serta ketrampilan prajuritnya. Disebut dalam operasi militer Amerika di Marawi, pesawat  pengintai P3 Orion telah melakukan missinya. Pun demikian, tentara Paman Sam telah memberi pelatihan dan memnberikan peralatan tempur kepada marinir Filipina.

Dengan keunggulan teknologi, mata-mata, dan pengalaman tempur yang dimiliki oleh militer Amerika membuat Filipina optimis pemberontakan yang dilakukan Klan Maute akan secepatnya bisa dipadamkan.

Nah menjadi masalah, apa arti kehadiran militer Amerika di Marawi? Ada beberapa dampak kehadiran militer Amerika di Marawi. (a). Kehadiran militer Amerika di Marawi, sepertinya tidak disadari oleh Filipina bahwa cara itu membuat negerinya semakin dikuasai Amerika di berbagai sudut. Setelah di bagian utara, Subic dan Clark, sekarang di Marawi, wilayah selatan. Bila di Sulu, Filipina bagian barat daya, terjadi pemberontakan dan mengundang kembali Amerika maka bertambah lagi cengkraman. Bila konflik dengan China semakin memanas maka tidak hanya di utara namun di barat juga akan hadir militer Amerika. Dengan demikian, negeri itu di sekujur wilayahnya dikuasai oleh Amerika. Hal demikian menunjukkan militer Filipina lemah sehingga tergantung bantuan militer dari negara lain.

(b). Kehadiran militer Amerika di Marawi akan semakin memperbanyak kehadiran kekuatan Amerika di berbagai belahan dunia. Kehadiran di Marawi menambah titik kekuatan Amerika setelah di Korea Selatan, Jepang, Singapura, negara-negara Timur Tengah, Australia, kawasan Amerika Latin, dan sudut-sudut strategis dunia lainnya. Kehadiran militer Amerika di Marawi yang diundang secara resmi membuat Amerika semakin mencengkram dunia.

(c). Bila pemberontakan Klan Maute susah dipadamkan maka hal demikian akan memperlama kehadiran militer Amerika di Marawi. Cepat atau lambat akan menimbulkan masalah dengan Indonesia dan Malaysia. Arogansi militer di Marawi akan menyebabkan terjadinya pelanggaran batas udara dan laut yang dilakukan oleh militer Amerika di wilayah Indonesia dan Malaysia. Arogansi militer Amerika itu bisa mengakibatkan memanasnya hubungan Indonesia-Amerika-Malaysia. Bila ini terjadi bisa memunculkan konflik langsung Indonesia-Amerika-Malaysia.

Arogansi militer Amerika kepada Indonesia pernah terjadi pada tahun 2003 ketika 5 pesawat F/A 18 Hornet milik US Force nyelonong tanpa ijin terbang di langit Pulau Bawean, Madura, Jawa Timur. Akibat terbang tanpa ijin masuk wilayah udara Indonesia menyebabkan ketegangan di langit antara dua pesawat F-16 TNIAU dengan kelima hornet itu. Untung di udara mereka saling kontak dan memahami hingga akhirnya tak terjadi dog fight.