Ardiansyah Taher
Ardiansyah Taher Sociolinguist

Music, Sports, Languages

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Artikel Utama

Penerjemah Lisan di Asian Para Games 2018, "The Unsung Hero"

18 Oktober 2018   10:40 Diperbarui: 18 Oktober 2018   14:02 749 3 1
Penerjemah Lisan di Asian Para Games 2018, "The Unsung Hero"
Para Interpreter yang bertugas di Asian Para Games 2018 cabang Tenis Meja (Foto: Nurali/INAPGOC))

Kemeriahan ajang Asian Para Games 2018 mungkin tidak sama dengan Asian Games yang digelar sebulan sebelumnya. Namun banyak cerita dari orang-orang yang terlibat dalam sejarah terselenggaranya pesta olahraga yang satu ini.

Para atlet dan ofisial Negara peserta Asian Para Games 2018 adalah manusia hebat dan kuat. Mereka telah membuktikan bahwa begitu banyak kelebihan yang diberikan Tuhan di balik segala kekurangan.

Keterbatasan fisik bukan hambatan untuk bisa berkompetisi dan berprestasi mengharumkan nama negara. Tanpa mereka, pesta olahraga terbesar di Asia ini takkan pernah ada.

Namun terkadang keterbatasan bahasa menjadi kendala utama bagi mereka yang bersinggungan langsung dengan atlet dan ofisial tim dalam sebuah event internasional. Apalagi banyak dari mereka yang tidak bisa berbahasa asing.

Salah satu pahlawan yang jarang disorot dan patut diberi apresiasi juga adalah penerjemah lisan alias Interpreter. Mereka adalah orang terpilih yang dipercaya untuk turut mensukseskan gelaran yang mungkin tidak terulang lagi 50 tahun ke depan.

Mereka pun hadir di Asian Games dan Asian Para Games 2018 bukan tanpa alasan.

Kru Televisi Korea Selatan sedang mewawancarai atlet (Dokumentasi Pribadi)
Kru Televisi Korea Selatan sedang mewawancarai atlet (Dokumentasi Pribadi)
Penerjemah lisan berperan penting untuk menjembatani segala informasi kepada seluruh orang yang terlibat dalam sebuah event skala Internasional; para panitia, atlet dan ofisial negara peserta, tim medis, pihak keamanan, relawan, awak media, hingga para penonton. Biasanya, Interpreter dibutuhkan untuk kebutuhan konferensi pers, wawancara atlet, keluhan terkait pertandingan dan medis, dan lain-lain.

Seperti Ahmad, misalnya, salah satu Interpreter Bahasa Arab yang bertugas di cabang olahraga Tenis Meja Asian Para Games 2018. Dalam tugasnya, beliau yang juga seorang Dosen di Universitas Negeri Jakarta ini, sama sekali tidak canggung dan kesulitan karena beberapa negara seperti Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Irak berbahasa yang sama.

"Merupakan sebuah kebanggaan menjadi bagian dari sejarah Indonesia menjadi tuan rumah ajang yang prestisius ini," katanya.

Interpreter yang paling "laris" dalam pekerjaannya adalah Bapak Irwan Gunadi. Sebagai penerejmah lisan Bahasa Tiongkok, beliau lebih sibuk dibandingkan rekan-rekan Interpreter lainnya seperti Pak Ahmad serta Interpreter lain yang bisa berbahasa Inggris, Korea, dan Jepang.

Aksi Pak Irwan membantu mewawancarai atlet China Taipei (Dokumentasi Pribadi)
Aksi Pak Irwan membantu mewawancarai atlet China Taipei (Dokumentasi Pribadi)
Wajar saja, beberapa atlet dan ofisial dari Republik Takyat Tiongkok, Macau, China Taipei, dan Hongkong mendominasi di setiap venue cabang olahraga Asian Para Games 2018, dan hampir semuanya tidak bisa berbahasa Inggris.

Menurut Irwan, menjadi Interpreter itu menyenangkan karena bisa menambah teman baru dan bergaul lebih luas lagi serta membuka wawasan budaya Internasional.

"Ini memang pengalaman pertama Saya menjadi Interpreter di event olahraga, namun ini menjadi menarik karena Saya bisa menambah pengalaman dan teman baru di sini." ungkapnya.

Dalam menjalani tugasnya, tentu ada beberapa kendala yang harus dihadapi para Interpreter. Misalnya kesulitan mengajak wawancara atlet Korea Utara, begitu juga dengan atlet Tiongkok yang harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari sang pelatih kepala. Tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi para Interpreter.

Interpreter Korea membantu menerjemahkan saat proses wawancara (Dokumentasi Pribadi)
Interpreter Korea membantu menerjemahkan saat proses wawancara (Dokumentasi Pribadi)
Beliau juga berpesan kepada seluruh generasi muda di Indonesia untuk mempelajari bahasa asing selain Bahasa Inggris, meskipun bukan bahasa mayoritas di dunia ini, menguasai bahasa asing akan menjadi nilai lebih untuk kita dan menjadi bermanfaat untuk berkarir di masa depan.

Menjadi Interpreter itu juga merupakan kebanggaan dan belajar mengasah kemampuan bahasa asing kita.

Ditambah lagi, pendapatan para Interpreter itu begitu menggiurkan lho! Apalagi jika bertugas di sebuah konferensi tingkat dunia.

Jadi, siapa yang berminat menjadi Interpreter?