Mohon tunggu...
Dwi Ardian
Dwi Ardian Mohon Tunggu... Statistisi

DIV Statistika Politeknik Statistika STIS-Jakarta "Belajar, belajar, dan belajar." ....... email: 16.9090@stis.ac.id

Selanjutnya

Tutup

Finansial

Ekspor-Impor: Surplus dengan Catatan

27 Juni 2019   06:28 Diperbarui: 1 Juli 2019   16:56 0 1 0 Mohon Tunggu...

Nilai neraca perdagangan ekspor dan impor Indonesia pada bulan Mei akhirnya mengalami surplus setelah beberapa saat yang lalu mengalami defisit yang dalam. Pada Bulan Mei 2018-Mei 2019 surplus mencapai US$207,6 juta. Sebagaimana diketahui Bersama bahwa pada Bulan April neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit mencapai US$2.286,5 juta. Nilai itu disebut-sebut sebagai defisit yang terbesar dalam sejarah ekspor dan impor Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) pada rilis Berita Resmi Statistik, Senin (24/6) di Kantor BPS RI.

Data ini tentu ditunggu-tunggu oleh berbagai pihak, utamanya pemerintah dalam mengevaluasi program yang telah dijalankan atau yang akan dilakukan. Jika diperhatikan memang dalam setahun terakhir neraca perdagangan cukup mengkhawatirkan. Terdapat sebanyak 8 bulan mengalami defisit dengan nilai yang cukup besar, dari US$953,0 juta sampai yang terbesar US$2.286,5 juta. Sedangkan sebanyak 4 bulan mengalami surplus dengan nilai yang hanya mencapai seperti surplus pada Bulan Mei ini. Surplus terbesar hanya terjadi pada Bulan Juni tahun sebelumnya yang mencapai US$1.673,8 juta.

Penyebab Surplus

Surplus pada neraca perdagangan bisa disebabkan karena nilai ekspor meningkat atau lebih besar daripada nilai impor. Bisa juga karena nilai ekspor tidak mengalami perubahan tetapi nilai impor yang lebih kecil. Bahkan bisa saja keduanya (ekspor dan impor) mengalami penurunan tetapi penurunan impor lebih besar sehingga secara total nilai ekspor lebih besar daripada nilai impor. Kondisi idealnya atau yang diharapkan adalah bagaimana kita bisa melakukan ekspor sebesar-besarnya dengan bisa melakukan kontrol terhadap impor.

Penyebab surplus pada Bulan Mei bukanlah karena penyebab yang idealnya diharapkan, melainkan karena adanya penurunan nilai impor yang cukup besar. Bukan karena ekspor meningkat. Bahkan bila dibandigkan nilai ekspor pada Mei 2018, ada penurunan nilai ekspor yang mencapai 8,99 persen. Surplus terjadi karena ditolong oleh kondisi impor yang ditekan hingga mengalami penurunan mencapai 17,71 persen.

Hal ini terlihat pada nilai total ekspor pada Mei 2018 yang mencapai US$16.198,3 juta menurun menjadi US$14.741,8 juta pada Mei 2019. Ada pun nilai impor penurunannya lebih besar lagi dari US$17.662,9 juta pad Mei 2018 menjadi US$14.534,2 juta. Yang juga berarti bahwa surplus nilai ekspor pada Bulan Mei 2019 sangat kecil.

Ekspor nonmigas Mei 2019 mencapai US$13,63 miliar, naik 10,16 persen dibanding April 2019. Sementara dibanding ekspor nonmigas Mei 2018, turun 6,44 persen. Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Mei 2019 terhadap April 2019 terjadi  pada  lemak  dan  minyak  hewani/nabati  sebesar  US$178,0 juta (14,97 persen), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$131,1 juta (49,05 persen).

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia periode Januari–Mei 2019 mencapai US$68,46 miliar atau turun 8,61 persen dibanding periode yang sama tahun 2018, demikian juga ekspor kumulatif nonmigas mencapai US$63,12 miliar atau menurun 7,33 persen. Total nilai ekspor masih sangat didominasi oleh nonmigas yang mencapai 92,20 persen, migas hanya 7,80 persen.

Impor nonmigas Mei 2019 mencapai US$12,44 miliar atau turun 5,48 persen dibanding April 2019. Demikian pula jika dibandingkan Mei 2018 turun 15,94 persen. Penurunan impor nonmigas terbesar Mei 2019 dibanding April 2019 adalah golongan mesin dan peralatan listrik sebesar US$158,5 juta (8,68 persen), sedangkan peningkatan terbesar adalah golongan sayuran sebesar US$69,8 juta (269,50 persen).

Nilai impor kumulatif Januari–Mei 2019 adalah US$70.601,9 juta atau turun 9,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Total nilai impor juga didominasi oleh nonmigas yang mencapai 87,13 persen, migas mencapai 12,87 persen. Memperlihatkan bahwa struktur impor migas lebih besar daripada ekspor.

Dari Mana ke Mana?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x