Arako
Arako mantan kuli tinta, freelance writer, mahasiswi

Random woman • Pekerja Teks Komersial • ADHD Person • Tukang Review • Pawang kucing profesional di kucingdomestik.com

Selanjutnya

Tutup

Kuliner Artikel Utama

Mencicip Barobbo, Bubur Jagung Khas Bugis di Pelosok Sumsel

3 Oktober 2018   08:02 Diperbarui: 4 Oktober 2018   11:09 2873 20 15
Mencicip Barobbo, Bubur Jagung Khas Bugis di Pelosok Sumsel
Barobbo, bubur jagung khas suku Bugis. (Foto: Tribun Timur/Sakinah Sudin)

Mengemban tugas dari Badan Restorasi Gambut (BRG), akhir September 2018 lalu saya dan tim berangkat menuju Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyu Asin, Sumatera Selatan. 

Butuh waktu 3,5-4 jam perjalanan air menggunakan speedboat dari Kota Palembang untuk sampai di sana. Ini perjalanan kedua kami setelah sebelumnya ke sana pada pertengahan Agustus.

Sampai di Lalan, ada tiga desa yang harus disambangi. Namun saya sangat terkesan dengan desa yang kami kunjungi di hari kedua, Desa Sri Gading. Di desa ini, kami menginap di rumah orang tua Sekretaris Desa setempat. Pak Haji, demikian orang-orang di sana akrab menyapa beliau.

Pak Haji sudah tua. Prediksi saya tidak kurang dari 70 tahun. Tapi entah kenapa masih terlihat gagah dan enerjik. Beliau ramah sekali. Mudah tersenyum dan gampang tertawa.

Selain punya sawah dan kebun sawit serta kelapa, beliau juga punya usaha penggilingan padi. Tepat di sebelah rumahnya dibangun lapangan voli, sarana olahraga sekaligus hiburan rakyat di dusun yang listriknya terbatas dan cuma menyala malam hari.

Lapangan voli di samping rumah Pak Haji | Dokpri
Lapangan voli di samping rumah Pak Haji | Dokpri
Beberapa jam setelah makan malam. Bu Haji menawarkan pada kami yang masih bercengkrama di teras, "Ada yang mau barobbo?"

Kening saya berkerut. Belum pernah mendengar kata itu sama sekali. Bahkan sempat missheard dan salah sebut dengan "barogo" dan "baroko" (maklum, saya tahunya cuma Burgo). Bu Haji dengan sabar mengoreksi sampai kami semua bisa melafalkan dengan tepat: Barobbo.

Barobbo, bubur jagung khas suku Bugis | coockpad.com
Barobbo, bubur jagung khas suku Bugis | coockpad.com
Penasaran, saya pun antusias mengiyakan. Tak peduli perut perut yang masih kenyang oleh sajian makan malam. Tak lama, Bu Haji keluar membawa nampan dengan mangkuk-mangkuk yang tampaknya berisi sejenis sup berwarna kuning.

Mangkuk-mangkuk itu masih mengepulkan asap. Liur saya langsung terangsang dengan aroma khas jagung dan kaldu yang menguar di udara.Saya pun jatuh cinta pada Barobbo sejak suapan pertama. 

Sambil makan, kami didongengi Bu Haji tentang Barobbo. Barobbo sendiri adalah bubur jagung khas Suku Bugis, Sulawesi Selatan.

Barobbo berbahan dasar jagung yang dimasak dengan kaldu dan sayuran. Disajikan dengan pelengkap sambal dan taburan bawang goreng. Rasanya lezat sekali.

Andai saya belum makan malam, saya yakin bakal nambah. Tapi malam itu hanya makan sedikit saja, faktor kekenyangan. Saya berharap besok pagi Barobbo masih ada. Sepertinya enak kalau untuk sarapan.

Barobbo ala Bu Haji | dokpri
Barobbo ala Bu Haji | dokpri
Meski demikian, Bu Haji bilang Barobbo buatannya malam itu tidak dibuat dengan resep asli turun-temurun keluarganya yang asli Bugis. "Ini barobbo-barobboan. Kalau yang asli itu pakai udang dan dicampur sayuran. Umumnya bayam. Tapi di sini susah cari udang, terus bapak sama anak-anak kurang makan sayur. Jadi ini cuma pakai ayam."

Mendengar itu, saya jadi penasaran dengan rasa Barobbo asli. Tidak pakai udang saja sudah enak sekali begitu, apalagi kalau ditambah udang.

Bagaimanapun, malam itu ilmu saya bertambah. Saya jadi tahu kalau ada makanan enak yang disebut Barobbo. Sepaket dengan resepnya yang kilat saya pelajari langsung dari Bu Haji.

Kenikmatan  kian  bertambah, ketika menyadari  bahwa saya yang berkalung salib ini (bersama tim yang terdiri dari orang Jawa, orang Batak, dan asli Sumsel), mencicipi Barobbo untuk pertama kalinya di rumah Pak Haji yang asli orang Bugis. Bukan nun jauh di Sulawesi sana, tapi di sebuah desa eks transmigrasi di pelosok Sumsel, di mana suku Jawa dan Sunda dominan di sini.

Sebuah potret keberagaman yang jelas Indonesia banget. Kurang bersyukur apa sih saya jadi bagian dari negeri ini?

Oh iya, kisah Pak Haji yang merantau meninggalkan kampung halamannya hingga terdampar di Sumsel sini juga sebetulnya menarik untuk dituliskan. Tapi mungkin lain waktu saja.

Salam dari Tepian Musi 😉

Bonus : 

Saya dan tim

Cewek sendiri? Biasaaa! |Dokpri
Cewek sendiri? Biasaaa! |Dokpri
Kompal : Kompasianer Palembang
Kompal : Kompasianer Palembang