Arako
Arako mantan kuli tinta, freelance writer, mahasiswi

Random woman • ADHD Person • Pawang kucing profesional di kucingdomestik.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

Fenomena E-Book Bajakan, Jeruk Nipis untuk Luka Hati Para Penulis

11 Maret 2018   00:48 Diperbarui: 11 Maret 2018   14:24 1382 10 12
Fenomena E-Book Bajakan, Jeruk Nipis untuk Luka Hati Para Penulis
Ilustrasi. Curata.com

Mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran sudah jelas. Menyisihkan dana dan upaya untuk riset tentu tidak sedikit. Menebalkan muka saat merayu penerbit sembari menyiapkan mental jika seandainya naskah ditolak. Setelah diterima pun masih harus menabahkan hati karena ternyata naskahnya dicorat-coret editor dengan sadis. Belum lagi proses revisi berulang yang kadang lebih ribet dari skripsi. Pun akhirnya terbit, perjuangan belumlah usai karena masih harus sibuk dengan promosi sana-sini.

Belum lagi terbayar segenap jerih payah menghasilkan buku setebal ratusan halaman itu, mendadak harus mendapati sejumlah akun Instagram yang menjual buku tersebut seharga Rp 1000 saja. Benar-benar hanya seribu rupiah, yang bahkan untuk membayar pulsa listrik laptopnya saja tidak cukup.

Perih dan sakit dalam hati jelas tak terkata lagi. Seperti luka bakar derajat II yang dengan sengaja ditetesi perasan jeruk nipis. Dan ... inilah yang saat ini tengah dirasakan oleh sahabat-sahabat saya yang tergabung dalam sebuah grup kepenulisan.

Beberapa akun instagram kedapatan menawarkan sejumlah e-book bajakan dengan harga sangat murah. Berkisar Rp 1-5 ribu saja. Mirisnya, beberapa akun bahkan masih memberi diskon untuk pembelian dalam jumlah banyak selain menawarkan pula opsi pembayaran lewat pulsa.

Judul-judul buku yang ditawarkan (screenshot pribadi)
Judul-judul buku yang ditawarkan (screenshot pribadi)

E-book yang ditawarkan sangat bervariasi, dan umumnya berasal dari penerbit ternama. Bisa ditebak, sejumlah buku milik sahabat-sahabat saya ini muncul juga di lapak jualan mereka.

M. Dwipatra, penulis novel Twinwar terbitan Gramedia Pustaka Utama mengaku sangat geram mendapati bukunya dijual dengan harga murah. Lebih miris lagi, novel yang meraih predikat juara 1 kontes Gramedia Writing Project #3 ini termasuk belum lama diterbitkan, baru resmi rilis beberapa bulan yang lalu. "Gila. Nulis-revisi-terbit itu butuh waktu berbulan-bulan,  dijual seenaknya seharga  seribu. Parkir aja 2 ribu ...," ujar Patra tak terima.

Senada, Vevina Aisyahra, penulis yang akrab disapa Rara ini juga menyatakan keberatannya. Novel A Sweet Mistake yang ditulisnya rupanya juga menjadi sasaran pembajakan. "Yang membajak nggak punya hati. Nggak cuma buku saya yang dibajak, novel teman-teman lain seperti Kak Handi Namire, Kak Lia Nurida, dan Kak Pretty Angelia juga menjadi korban," keluhnya.

Nikmatus Solikha, sahabat saya yang  lain, seorang novelis sekaligus penulis skenario rupanya penasaran dengan orang-orang di balik akun penjual e-book bajakan. Dia pun mencoba berkomunikasi. Dari hasil foto tangkapan layar yang dikirimnya ke grup, diketahui si penjual ternyata mengakui status bajakan barang dagangannya dengan teramat santai.

Pengakuan dari si penjual (screenshot pribadi)
Pengakuan dari si penjual (screenshot pribadi)

Duh, duh, duh.

Kok enak sekali ya memperoleh keuntungan dari jerih payah orang lain tanpa izin? Para pembajak ini sadar tidak sih kalau yang dilakukannya adalah tindakan melanggar hukum?

Sayang, seperti halnya dunia musik, dunia literasi Indonesia agaknya juga sama-sama kewalahan menghadapi fenomena pembajakan. Undang- Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta sejauh ini terkesan hanya pajangan semata.

Sampai saat ini, yang bisa saya dan sahabat-sahabat saya lakukan hanyalah sebatas me-report akun-akun penjual tersebut satu per satu. Jauh di lubuk hati, sebetulnya saya mengakui jika ini adalah tindakan menggarami lautan. Sia-sia. Sebab satu akun penjual terblokir, akun-akun senada akan terus menerus bermunculan, bahkan beranak pinak. Kian hari jumlahnya kian banyak hingga akhirnya tak terpantau lagi.

Akun-akun penjual e-book bajakan (screenshot pribadi)
Akun-akun penjual e-book bajakan (screenshot pribadi)

Benar. Sia-sia.  Tapi ini jauh lebih baik daripada berdiam diri saja. Setidaknya ada hal yang bisa kami upayakan untuk memerangi keberadaan e-book bajakan ini.

Pasar e-book bajakan masih eksis lantaran masih banyak pembelinya. Untuk itu, saya memohon dengan sangat, bagi kalian yang masih senang berbelanja e-book bajakan ... tolong berhentilah. Tolong pikirkan sejenak perasaan sahabat-sahabat saya yang saat ini tengah terluka. 

Penghasilan penulis (terutama penulis baru) itu, tidaklah seberapa. Royalti yang mereka terima dari buku-buku yang laku terjual masih harus dipotong pajak yang nominalnya tidak sedikit. Pahamilah, hanya segelintir saja penulis yang bisa sesukses J.K Rowling atau Tere Liye.

Saya mengerti, kalian mungkin tergiur dengan harga murah yang ditawarkan. Yup, harga buku sekarang memang mahal. Tapi kalau kalian mengerti proses panjang terbitnya sebuah buku, pasti akan maklum. Toh penulis tidak akan marah kalau kalian tidak mampu membelinya. Masih bisa pinjam punya teman, masih bisa ikut kuis-kuis atau give away yang menghadiahkan buku gratis, masih bisa jadi anggota perpustakaan. Apa sajalah, yang penting jangan beli buku bajakan.

Aplikasi iPusnas (screenshot pribadi)
Aplikasi iPusnas (screenshot pribadi)

Bahkan jika kalian benar-benar tidak punya uang  untuk membeli e-book yang asli, kalian masih bisa menikmati e-book gratis secara legal kok. Ada aplikasi iPusnas dari perpustakaan nasional RI. Cukup unduh aplikasinya, dan kalian akan dapati kalau koleksi bukunya cukup lengkap. Lebih enak lagi, kalian bisa membacanya dengan leluasa tanpa rasa bersalah.


Yuk, sama-sama membiasakan diri untuk tidak bangga jadi pencuri!


****


Salam dari Tepian Musi,

Arako



Sumber foto tangkapan layar :

WA Group Gramedia Writing Project Batch 3


Kompal : Kompasianer Palembang
Kompal : Kompasianer Palembang