Mohon tunggu...
Achmad Room Fitrianto
Achmad Room Fitrianto Mohon Tunggu...

Achmad Room adalah staf pengajar di UIN Sunan Ampel Surabaya sejak tahun 2003. Dia lulus dari Universitas Airlangga Surabaya tahun 2002. Memperoleh gelar Master Ekonomi Islam dari Program Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel pada tahun 2007, dan memperoleh Master of Arts dalam Kebijakan Publik dari Murdoch University pada tahun 2009. Saat ini sedang mengambil program PhD di Faculty of Humanities Curtin University dengan specialisasi Kajian Kebencanaan (Economic Development Policy). Sebelum menjadi akademisi di lingkungan pendidikan tinggi Islam Kementrian Agama RI, Achmad Room aktif di PUPUK (Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil) yang sebagian besar programnya terfokus pada program penyederhanaan pelayanan perijinan usaha di Indonesia. Selain itu, dia juga bekerja sebagai peneliti di the Regional Economic Development Institute (REDI) di bawah USAID’s Local Governance Support Program(LGSP), dan pada tahun 2005 dipercaya sebagai pelaksana internal assessments program bantuan teknis The Asia Foundation untuk mendukung Pelayanan the One Stop Services untuk Kota Kediri dan Kota Yogyakarta. Program terakhir yang ditangani adalah Evaluasi Kredit Usaha Rakyat tahun 2009, Kerja Sama Menko Perekonomian , Bank Dunia dan REDI di Propinsi Bangka Belitung. Achmad Room juga menjadi pengamat di isu isu reformasi pemerintahan, pengembangan masyarakat, pengembangan Usaha Kecil Menengah dan Ekonomi Islam

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Siapa Kita Sebenarnya

26 Agustus 2017   10:45 Diperbarui: 26 Agustus 2017   11:36 674 1 1 Mohon Tunggu...

Kemaren iseng iseng nonton serial Mahabarata di MNCTV, pas ada scene dimana Drupati di "blejeti" di tengah forum dan di akhir scene itu dia berkata  "Kebungkaman orang baik jauh lebih Jahat dari ucapan iblis"

Wow........mak jleb banget itu..........

Terus akhirnya teringat kampanye salah satu Capres di konvensi partai berkuasa saat itu, dengan gerakan "turun tangannya"............Hello........turun tangannya dimana? eh iya gerakan berjilid jilid guna memenjarakan seorang penista itu ya? wah wah wah iya ndak bungkam tuh.........tapi akhirnya pikiran ini jadi terusik, kemana para "mujahid" itu ketika banyak kaum muslimin tertipu dengan iming iming perjalanan ke Baitulloh dengan murah? Kemana teriakan teriakn yang mengelora itu dikumandangkan guna membela kaum muslim yang sangat rindu untuk berkunjung ke Baitullah? Lebih penista mana antara si "pejabat" dan "pengelola" Travel ini?

Sejurus kemudian jadi teringat " Fawaylullilmusholliinn" (QS Al- ma'un ayat 4)

Apakah ayat ini hanya berlaku bagi Muslim? saya kira tidak, banyak pemeluk agama lain yang juga memanfaatkan ajaran agama atau atas nama agama untuk kepentingan "perut" dan " bawah perut" nya.

"Jual beli" dengan mengatas namakan agama kayaknya sudah lazim dilakukan, tidak hanya masjid kayaknya di rumah rumah ibadah lainnya sepertinya kayak gitu. Misalkan ada seorang minoritas yang sangat humble dan terkenal terus tiba tiba dia ingin mendaftar jadi calon "lurah" maka tak ayal lah........ rumah ibadah kau yg mayoritas akan mengembar gemborkan "persatuan umat" sampai sampai konsep "dibawa ke lubang biawak" pun dikumandangkan, sedangkan di rumah ibadah minoritas, konsolidasi dilakukan baik secara syir ataupun terang terangan khususnya dilakukan diantara sesama mereka yang se "khufu" .

Memang rumah ibadah itu tempat untuk mengkontemplasi dan memberdayakan umat (baca masyarakat) dan tidak hanya "ansih" menjadi tempat ritualitas semata, itu mengapa saya pribadi sih tidak keberatan mengumpulkan massa untuk kepentingan apapun melalui rumah ibadah sepanjang tidak mengedepankan kebencian dan memecah belah masyarakat. Konsekwensi berdemokrasi, khususnya dengan model one man one vote, tidak bisa dinilai bila minoritas menjadi pimpinan atau menang pemilihan itu demokrasi yang dilakukan sudah baik dan teruji. Tidak tidak bisa seperti itu, proposional dengan memayungi minoritas dan memfasilitasi mayoritas bukan menang kalah.

Kadang saya berfikir apa sih kira kira  makna dan perwujudan do a yang sering dibaca berikut"Arinal haqqa haqqawn warzuqnat tiba'ah, wa arinal batila batilawn warzuqnajtinabah" iya memang artinya kurang lebih adalah "Tunjukilah kami kebenaran dan berikan kami jalan untuk mengikutinya, dan tunjukanlah kami kebatilan dan berikan kami jalan untuk menjauhinya" namun sepertinya banyak yang lupa akan kehaqiqian do a diatas, hanya karena sekedar untuk memuaskan suatu ambisi atau keinginan acapkali kita mencampur adukkan antara yang haq dan yang bathil menjadi satu.........Naudzubillah Mindzaliq

Fitrianto abu Attila

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x