Mohon tunggu...
Prof Dr Apridar SE M Si
Prof Dr Apridar SE M Si Mohon Tunggu... Dosen - Universitas Syiah Kuala

Guru besar ilmu ekonomi studi pembangunan Rektor Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (apridar@unsyiah.ac.id)

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Membangun Visi Universitas Lokal dalam Era-Global

8 Oktober 2021   08:00 Diperbarui: 8 Oktober 2021   08:08 64 5 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Sebagai jawaban ekonomi-pedagogis kontekstual atas krisis yang kini melanda dunia, khususnya di wilayah salah satu asal pelopor peradaban modern seperti Eropa/Barat dan sekutunya, maka  salah satu solusi yang relevan adalah mencoba mematurisasikan visi kolektif menuju reformasi di bidang edukasi, khususnya warisan visi historis-alternatif di perguruan tinggi lokal dengan misi global.

Secara historis, untuk menjawab tantangan jamannya, tradisi reformis perguruan tinggi/universitas prominen pasca Abad Baru di Barat/Eropa telah dimulai renaissancenya sejak Abad ke-19, dengan dua kutub aliran reformatif yang memiliki echo kontinuitas sampai kini, misalnya yang dirintis oleh John Henry Newman (1801-1889) yang berspirit theologis-ilmiah yang berkembang di Britania (Oxford, Cambridge, Dublin, dll.) di satu pihak, dengan tradisi reformis yang dikembangkan di Germania (Berlin, Goettingen, Heidelberg, dll.) yang dipelopori oleh Wilhelm von Humboldt (1767-1835) zang berspirit etatisme-ilmiah di lain pihak.

Newman lebih menitikberatkan pada prinsip „pengajaran jalan tengah antara pemikiran bebas dengan otoritas moral“ (Idea of a University) sebagai proses iluminasi, sementara Humboldt yang yakin dengan paralelisme bebas antara riset dan pengajaran („Freiheit von Forschung und Lehre“), dengan lebih mentitikberatkan peran universitas sebagai pengembang riset ilmiah (research-oriented university) buat kejayaan negara, yang diharap mampu memacu pengembangan ilmu dan teknologi innovatif dalam tantangan jaman sebagai solusinya.

Dalam proses transformasi lanjutannya, kedua kutub aliran utama ini mendapat reaksi multivisioner dari sejumlah kalangan di Eropa, khususnya di Prancis, Spanyol, Jerman dst. Secara simplifikatif, mungkin ada sejumlah tokoh pemikir edukatif yang relevan dikaji kembali dalam konteks ini, seperti: Jose Ortega y Gasset (1883-1955), Karl Jaspers (1883-1969), Max Horkheimer (1895-1973), Frank Richard Leavis (1895-1978), Paul Tillich (1886-1965), sampai ke Miguel de Unamuno (1864-1934), dll., untuk menyebut sejumlah tokoh yang sering direfleksi ulang oleh kaum pemikir reformis perguruan tinggi kontemporer, karena semuanya pernah menjabarkan visinya tentang reformasi universitas yang ideal.

Namun, menurut hemat penulis, sementara ada dua tokoh edukator tersebut di atas yang masih relevan dikontekstualkan kembali dalam situasi kini, seperti: Jose Ortega y Gasset & Karl Jaspers. Dalam karyanya bertajuk „Misión de la universidad“ (Misi Universitas), Madrid,1930, Ortega y Gasset memperkenalkan sistem doktrin pendidikan „parsimony“ (penghematan) yang menandaskan bahwa pendidikan terjadi karena adanya prinsip ekonomi, yakni prinsip keterbatasan. Ortega yakin, semua manusia punya kemampuan untuk dididik, tapi keterbatasan untuk mendidik yang membuat pendidikan tidak mungkin berlaku mudah buat semua.

Prinsip-prinsip ekonomi mengajarkan adanya permintaan dan suplay yang melingkupi tantangan siklus kehidupan. Pendidikan juga harus mampu memenuhi kapasitas yang dididik serta apa yang diperlukannya. Pertimbangan kebutuhan pedagogis yang seharusnya menyelaraskan sistem kurikulum, metodik dan tematik pendidikan, dll. Juga dalam hal ini, Ortega yang terpengaruh oeh visi Neokantian Jerman ketika kuliah di Marburg, ikut terserap dengan alam pikiran kaum Goethean, yang, di pihak lain, ingin membebaskan diri dari sifat mubazir, yang megharapkan juga, dalam pengembangan sistem pendidikan ideal, agar kita tidak mengarah pada hal negatif demikian.

Pada prinsipnya, Ortega y Gasset tetap berpedoman pada aliran pengembangan ilmu yang mengarah pada „research-oriented“, namun perguruan tinggi/universitas harus mampu menuju pada proses sistematisasi ilmu dan sintesanya.

Sebuah bangsa yang besar dan agung, menurutnya, adalah suatu bangsa yang memiliki visi pendidikan yang mulia, mulai dari sekolah dasar sampai  perguruan tinggi, di mana misalnya agama, politik dan ilmu pengetahuan bisa ditempatkan dalam posisi yang harmonis. Diyakini, dengan membaiknya  sistem pendidikan dan riset, akan mampu menstimulasikan harapan kejayaan suatu wilayah termasuk kawasan lokal yang selektif terkoneksi dengan sistem global.

Manusia ideal memiliki cita-cita ideal, tetapi kehidupan ideal dialami dalam kepastian keyakinan. Bagi Ortega, tanpa adanya ide kreatif, maka kita tidak akan mampu „hidup manusiawi“; selanjutnya untuk bisa mewujudkan sistem pendidikan yang „lebih sejati“, maka diperlukan pemahaman prinsip-prinsip ekonomi yang kompatibel dengan permasalahan pada jamannya.

Sementara tokoh filsuf pendidikan unik lainnya, Karl Jaspers, dalam karya utamanya bertajuk „Die Idee der Universitaet“ (Ide Universitas), 1923, (rev. 1947), ketika berupaya membuka gerakan pembaruan di kampus universitas Jerman tertua, yakni Universitas Heidelberg, dengan tegas menandaskan bahwa kampus adalah komunitas kaum ilmuan dan para mahasiswa yang tertarik menyelidiki kebenaran hakiki.

Perguruan tinggi/universitas adalah wilayah tempat terjadinya transmisi riset dan pengajaran menuju training pendidikan yang profesional. Universitas harus bebas dari pengaruh politik pemerintahan picisan, karena ilmu pengetahuan bukanlah alat kepentingan politik negara sepihak, justru universitas harus mampu mengontrol kekuasaan negara dengan kekuatan ilmu kebenarannya yang netral.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan