Mohon tunggu...
Eka Ayu Prihartini
Eka Ayu Prihartini Mohon Tunggu... Hai, perkenalkan saya Eka. Selamat datang di Blog saya dan selamat menikmati tulisan yang saya buat.

Masih pemula dalam blog, mari berikan saran dan kritik yang membangun. Salam Kenal dan Salam Literasi

Selanjutnya

Tutup

Finansial

Risiko Volatilitas Kurs Abnormal Akibat Wabah Corona, Akankah Kurs Rupiah Dapat Menguat Kembali?

6 April 2020   14:27 Diperbarui: 6 April 2020   14:39 43 0 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Risiko Volatilitas Kurs Abnormal Akibat Wabah Corona, Akankah Kurs Rupiah Dapat Menguat Kembali?
sumber: Bank Indonesia

 Seperti yang kita ketahui, bahwa akibat adanya penyebaran wabah corona virus atau pandemi covid-19 menyebabkan ketidakpastian global yang sangat tinggi dan berdampak dalam banyak aspek. Penyebaran wabah corona diluar Tiongkok, menyebar cepat ke banyak negara termasuk kawasan Asia dan negara adidaya yaitu Amerika Serikat. Dari ketidakpastian yang sangat tinggi ini memicu terjadinya gejolak dalam perekonomian global sehingga prospek pertumbuhan ekonomi global berisiko menurun.

Tidak hanya itu, dampak dari wabah corona virus turut memicu tertekannya banyak mata uang dunia yang mengakibatkan volatilitas kurs bergerak abnormal yang kata lainnya menjadi tidak stabil termasuk yang terjadi pada kurs Rupiah. Akibat dari volatilitas kurs yang bergerak abnormal memicu kepanikan terutama bagi para pelaku pasar, terlebih lagi bagi para investor yang sudah menanamkan modalnya baik itu di pasar uang, pasar saham atau lainnya. 

Guncangan yang terjadi pada perekonomian global akibat penyebaran wabah corona virus dikhawatirkan dapat menyebabkan resesi ekonomi sehingga merespons kondisi yang demikian, The Fed (The Federal Reserve System) yang menjadi panutan bank sentral global turut mengambil langkah atau memutuskan kebijakan guna menjaga ekonomi dari dampak penyebaran wabah corona virus. Langkah yang diambil yaitu melalui stimulus moneter dengan memangkas target suku bunga dan melakukan pembelian surat berharga.

Diikuti masing-masing negara terdampak, yang lantas tanggap mengambil langkah terkait upaya penanganan terhadap risiko ekonomi dan volatilitas kurs yang bergerak abnormal,  termasuk Indonesia. Baik yang dilakukan dari sisi stimulus fiskal maupun dari sisi stimulus moneter.

Mengamati perkembangan pergerakan kurs Rupiah terhadap dolar selama masa wabah corona virus sangatlah fluktuatif, mulai dari rentang Rp 14,877 per 16 Maret 2020 hingga berada pada level Rp 16,556 per dolar Amerika Serikat per hari ini. 

Bank Indonesia selaku lembaga yang memiliki tanggung jawab dan wewenang terhadap stabilitas moneter juga berupaya semaksimal mungkin dalam memitigasi dampak penyebaran wabah corona virus, termasuk risiko volatilitas kurs Rupiah yang bergerak abnormal selama wabah ini. Mulai dengan meningkatkan  intensitas stabilisasi di pasar domestic non deliverable forward (DNDF), pasar spot, dan pembelian surat berharga negara (SBN) dari pasar sekunder yang terkenal dengan kebijakan triple intervention guna menjaga stabilitas kurs Rupiah berjalan sesuai dengan mekanisme pasar dan fundamental.

Selain itu, Bank Indonesia juga terus berupaya mengoptimalkan operasi moneter agar mekanisme pasar dapat terus berjalan dan likuiditas di pasar uang maupun pasar valas ketersediaannya dapat dipastikan cukup yang tujuan utamanya yaitu agar perekonomian Indonesia tidak stagnan dan kurs Rupiah dapat kembali bergerak stabil. Upaya atau langkah yang sudah diambil oleh Bank Indonesia juga selalu dipantau perkembangannya dan dioptimalkan dari setiap perkembangan aspek yang perlu ditingkatkan.

Akan tetapi, menimbang kondisi dampak yang ditimbulkan dari penyebaran wabah corona virus yang tidak kunjung usai disamping pemerintah beserta komponennya berupaya menuntaskan permasalahan ini. Bank Indonesia mengambil langkah kembali sebagai last resort membeli SBN di pasar perdana dalam rangka untuk membantu pemerintah dalam membiayai penanganan dampak penyebaran corona virus terhadap stabilitas sistem keuangan. 

Bank Indonesia juga meyakini dengan terus memperkuat intensitas pada triple intervention baik secara domestic non deliverable forward (DNDF), spot, dan pembelian surat berharga negara (SBN)  dari pasar sekunder kurs Rupiah dapat bergerak stabil dan akan cenderung menguat pada level sekitar 15.000 per dolar Amerika Serikat pada akhir tahun 2020. 

Dan dengan melalui koordinasi yang baik dengan Pemerintah, Bank Indonesia juga meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi tidak akan lebih rendah dari 2,3% pada tahun 2020. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia, Perry Warijoyo pada Kamis (2/4) 2020. Bank Indonesia juga menegaskan kembali bahwasanya indikator makro yang telah disampaikan pada saat konferensi pers stimulus ekonomi adalah what if scenario dan bukan merupakan angka proyeksi. Disusunnya what if scenario dimaksudkan agar hal tersebut dapat dicegah dan diantisipasi melalui upaya bersama antara Bank Indonesia dengan Pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan LPS.   

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x