Mohon tunggu...
Anung Anindita
Anung Anindita Mohon Tunggu... Guru - Pengajar Bahasa Indonesia SMP Negeri 21 Semarang

twitter: @anunganinditaaal instagram: @anuuuung_

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pembebanan Moralitas Kata "Anjay", hingga Kasus Zaki-Zara sebagai "Publik Figur"

22 Agustus 2020   09:49 Diperbarui: 2 September 2020   10:39 459
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kata "moral" berasal dari Bahasa Latin, yakni mos yang berarti kebiasaan atau adat (zonareferensi.com). Sementara itu, menurut KBBI V, moral memiliki pengertian salah satunya adalah ajaran tentang baik atau buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, akhlak, budi pekerti, dan lain-lain. 

Dari sini sangat jelas terdeteksi bahwa "moral" tidak berada pada ranah benar-salah. Artinya, ranah baik/ buruk memiliki preferensi yang berbeda antarsatu manusia.

Nah, baru-baru ini publik heboh dengan munculnya konten mengatasnamakan moral dengan pembahasan yang penuh bias. Dalam akun Youtubenya, Lutfi Agizal mencoba mencari validasi atas pemikirannya tentang kontribusi kata "anjay" dalam merusak moral bangsa Bersama narasumber seorang ahli bahasa, Dr. Tommi Yuniawan, M.Hum. 

Beberapa hal yang cenderung membuat bias dari Lutfi Agizal adalah adanya kesalahan penalaran dalam beberapa fakta yang dipaparkan narasumber, Dr. Tommi Yuniawan, M.Hum. Kesalahan penalaran Lutfi Agizal adalah sebagai berikut.

1. Narasumber menjelaskan bahwa "fenomena bahasa" terjadi sebagai bentuk ekspresi bahasa yang digunakan untuk berinteraksi. Dijelaskan pula bahwa manusia tidak homogen, tetapi heterogen yang menjadikan bahasa juga heterogen. 

Selain itu, adanya perubahan wujud bahasa secara gramatikal yang seharusnya "anjing" menjadi "anjay" dan beberapa kata lainnya pasti bermunculan dan tidak bisa dilarang sehingga penyebarannya meluas. 

Pendapat ini kemudian oleh Lutfi direspons dengan pertanyaan "Apakah anjay merupakan plesetan kata anjing?" Respons ini dinilai tidak sepenuhnya menjangkau esensi penting yang disampaikan narasumber. 

Pertanyaan ini juga mengindikasikan bahwa Lutfi tidak sedang melakukan diskusi terbuka, tetapi hanya mencari validasi benar/ salah dari kata "anjay" yang akan dikaitkannya ke ranah moral.

2. Selanjutnya, pertanyaan Lutfi tentang ketepatan mengagungkan sesuatu dengan kata "anjay" dijelaskan oleh narasumber bahwa kata "anjay" tidak bisa terlepas dari "konteks makna". Penjelasan ini sedikit terpotong oleh asumsi Lutfi yang menegaskan bahwa "anjay" pasti bermakna "anjing". 

Kemudian, dijelaskan lagi oleh narasumber bahwa ada kategori makna, yaitu makna lugas dan kiasan/ tidak langsung yang seluruhnya terkait dengan afektif atau nilai rasa yang dipengaruhi konteks tertentu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun