Mohon tunggu...
Purbo Iriantono
Purbo Iriantono Mohon Tunggu... Jalani inspirasi yang berjalan

"Semangat selalu mencari yang paling ideal dan paling mengakar" merupakan hal yang paling krusial dalam jiwa seorang yang selalu merasa kehausan kasih...

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Nadiem Vs Covid: "Ikan Melihat Segala Hal Kecuali Air"

30 Juli 2020   00:06 Diperbarui: 30 Juli 2020   00:04 57 5 0 Mohon Tunggu...

Tanggapan imajiner paska ILC 28 Juli 2020

Pada tulisan sebelumnya, penulis mencoba memberi tanggapan atas penilaian banyak pihak pada beliau  yang cenderung mendasarkan penilaiannya hanya pada asumsi bahwa bapak menteri tidak paham atau tidak mau tahu tentang sejarah. Dan mereka meyakini hal tersebut berdasarkan apa yang beliau (bapak Nadiem ) katakan sendiri tentang ketidaktahuannya akan sejarah masa lalu dan hanya tahu tentang masa depan. 

Asumsi tentang sejarah yang harus dipahami hanya dari orientasi ke masa lalu itu sudah seperti air bagi sang ikan. Mereka tidak lagi mau mempertanyakan apa makna dari ungkapan lanjutan dari beliau bahwa ia hanya tahu masa depan. 

Pertanyaan kritisnya, mungkinkah kita tahu atau mampu memperoleh visi tentang masa depan tanpa tahu masa lalu? Bukankah dimensi waktu itu bukan bak remah-remah tanpa kaitan? Hanya setelah memahami tentang dimensi waktu yang saling berkaitan atau berkesinambunganlah kita siap untuk mulai mengunyah makna "The history of the present"-nya Foucault.

Penulis tertarik dengan beberapa pertanyaan (atau keberatan?) yang dilontarkan oleh beberapa panelis dalam ILC , terutama keberatan dari bapak Azumardy Alsa (maaf bila salah tulis) dan bapak Darmaningtyas (pakar dan pengamat pendidikan). Ketertarikan penulis bukan karena pretensi bahwa penulis lebih tahu persoalan (menguasai data lapangan) daripada mereka.

Sebaliknya, penulis hanya dapat menangkap semangat atau keprihatinan dasar dari bapak menteri yang kemudian mencetuskan gagasan POP. Lebih atas dasar kemiripan keprihatinan-lah yang mendorong penulis untuk mencoba mencermati dan meletakkan permasalahan mereka pada perspektif "upaya terobosan" dari bapak menteri. 

Dengan demikian, bisa jadi apa yang akan penulis paparkan tidak seratus persen berkesesuaian dengan semangat asli dari bapak menteri. Anggaplah ini sebagai tulisan imajiner penulis yang membayangkan diri sendiri sebagai bapak manteri Nadiem.

Persoalan atau keberatan utama yang penulis tangkap adalah masalah empati ; semangat POP merupakan antitesa dari kondisi keprihatinan yang sedang dan (mungkin sekali masih akan) terus merebak terkait Covid dan juga tentang jurang antara si  kaya dan miskin yang berdampak pada ketimpangan produk pembelajaran yang kian curam di pelbagai dimensi dan sektor.  

Keberatan ini berujung pada himbauan (tuntutan) untuk mengalihkan semua dana segar tersedia ke arah pemberdayaan pada target yang lebih lemah (baik siswa atau guru). Bila keberatan ini sementara kita anggap sah dan benar, pertanyaan penulis adalah apakah sekedar memenuhi tuntutan tersebut merupakan hal paling pantas yang harus dilakukan oleh seorang berkaliber menteri? Tak ada lagikah langkah lain yang lebih cerdas dan lebih luas serta dalam dampaknya?

Langkah lain yang mungkin akan memaksa si ikan untuk dapat lebih melihat dampak kehadiran air pada dirinya yang sebelumnya tak pernah disadari? Langkah yang akan memaksa si ikan untuk sejenak melompat keluar dari habitat airnya? Langkah yang mungkin akan memaksa kita untuk melupakan sejenak semua peran besar kesejarahan masa lalu yang telah menghidupi sekaligus membutakan kita?

Pada titik inilah, imajiner penulis menggapai gagasan bapak menteri. Pada titik ini jugalah, kita berusaha untuk dapat melihat dari sudut pandang yang sama sekali baru dan serentak bersifat menyeluruh aspek terobosannya. Sudut pandang "the history of present" yang hanya dapat  dilihat si ikan yang sudah berada di luar ruang hidup air-nya? 

Apakah si ikan yang menggelepar di daratan masih harus peduli dengan sejarah besar masa lalu si A atau si B (seandainya ada beberapa ikan yang senasib terlempar ke daratan) ataukah ia (mereka) hanya akan berfokus pada tujuan tunggal kembali ke air dengan semangat , daya hidup dan visi yang sama sekali baru?

"The history of present" adalah titik tolak POP, titik tolak si ikan yang harus mencermati segenap kondisi dan realitas kekinian yang serba penuh ancaman fatal, lalu mencoba menangkap alur perjalanan sejarah yang mendamparkannya ke puncak derita di luar ruang hidupnya, dan dengan hanya berbekal itulah si ikan mulai menggapai masa depan loncatan pungkasannya. 

Ikan tak lagi mau peduli dengan sejarah A atau B, ia hanya akan meyakini nasib keterdamparannya kini dan satu-satunya harapan ada pada daya pungkasan lontarannya (secara sendiri atau bersama-sama rekan senasib) yang akan membebaskan serentak memperkaya hidupnya kelak. Itulah "the spirit of POP" yang penulis tangkap dari semangat terobosan bapak menteri. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN