Anthony Dio Martin
Anthony Dio Martin WISE (Writer, Inspirator, Speaker, Entepreneur), ICF Certified Coach, Psychotherapist, Trainer

Anthony Dio Martin, WISE (writer, inspirator, speaker dan entepreneur) dan juga ICF certified executive coach, yang dijuluki "The Best EQ Trainer Indonesia". Beliau penulis 16 buku dan lebih dari 25 CDAudio. Salah satu bukunya menerima penghargaan MURI. Beliau pernah memandu beberapa program motivasi di TV kabel, saat ini punya siaran rutin program radio “Smart Emotion” di SmartFM. Facebook: anthonydiomartinhrexcellency IG: anthonydiomartin Kontak & info: 021-3518505 atau 3862521 atau email: info@hrexcellency.com

Selanjutnya

Tutup

Parenting Pilihan

Bagaimanakah Memilih "Youth Camp" yang Baik?

24 Mei 2018   11:29 Diperbarui: 24 Mei 2018   11:41 1080 1 0
Bagaimanakah Memilih "Youth Camp" yang Baik?
sumber gambar https://www.pexels.com/

Anak adalah investasi masa depan! Memang, anak bukanlah barang. Tetapi, sebagai orang tua kita bertanggung jawab untuk masa depannya. Sekaligus, merekalah yang akan menjadi penerus sekaligus pewaris masa depan kita. Karena itulah, tak mengherankan dengan anak-anak kita berusaha memberikan yang terbaik.

Belakangan ini, ada mulai bermunculan camp bagi anak remaja. Mulai dari camp yang mengajarkan teknik belajar, teknik berbicara hingga membangun mental karakter yang baik. Banyak yang dikelola dengan bagus dan berkualitas. Ada juga yang tujuannya sangat komersial sehingga dalam prosesnya banyak hal yang dikorbankan. Akibatnya, bukannya manfaat yang diperoleh. Justru anak menjadi kapok dan kemudian merasa sia-sia.

Padahal, ada alasan penting mengapa Youth Camp sekarang ini menjadi penting!

Bahkan, sekolah-sekolah yang terbaikpun melakukan acara semacam youthcamp bagi siswa siswi didiknya. Khususnya pada masa liburan sekolah. Mengapakah dulu tidak popular, tetapi sekarang mulai muncul? Ada 2 alasan!

Pertama, kita tahu bahwa sekolah sangat menekankan pada aspek akademik. Karena itulah, mereka butuh penyeimbang. Masalahnya, waktu di sekolah, kebanyakan habis untuk kejar beban kurikulum. Karena itulah, banyak sekolah berkualitas yang juga ikut melakukan acara youthcamp untuk memberi bekal ilmu tambahan bagi anak didiknya.

Kedua, di masa depan, akademik saja tidak cukup. Tantangan ke depan, makin kompleks dan makin butuh banyak kemampuan yang diperlukan. Karena itu, butuh tambah pembelajaran untuk melengkapi mereka. Misalkan, ketrampilan hidup (life skills), mulai dari teknik mengatur waktu, teknik belajar, hingga kepada aspek karakter yang lebih penting misalkan menghadapi kegagalan, mengelola mood dan hadapi stress, dll. Semuanya itu, tidak ada di kurikulum di sekolah.

Tips Memilih Camp Remaja Yang Baik

Lantas, bagaimana memilih camp remaja yang baik?

Pertama-tama, tentunya dimulai dari latar belakang penanggung jawab dan pencetusnya. Perhatikan siapakah merea yang ada di belakang ide acara ini. Bagaimanakah reputasi sekolah, organisasi atau lembaganya? Kadang kala, acara camp seperti ini bisa menjadi sangat komersial dimana tujuannya lebih pada soal mengejar keuntungan saja tanpa memperhatikan aspek pengembangan si remaja. Memang sih tentunya, EO (event organizer) juga tidak boleh rugi, tetapi alasan utamanya bukanlah cari untung semata tanpa memperhatikan aspek kemajuan dan perkembangan si remaja.

Sebenarnya, adanya tim konselor, tim berlatar belakang ilmu pendidikan. Tim berlatar ilmu paedagogik apalagi psikologi, merupakan hal yang sangat membantu. Alasannya, mereka mengerti ilmunya. Mereka melihat remaja sebagai suatu bagian dari proses holistik dan tahu bagaimana haras memperlakukan dan bagaimana seharus diperlakukan.

Kedua. Jumlah pesertanya ideal. Jumlah peserta yang ideal sebenarnya sangat tergantung pada perbandingannya dengan jumlah fasilitator yang ada. Sebab, kemampuan kontrol fasilitator terbatas. Kadangkala terjadi kasus dimana perilaku peserta terabaikan dan dibiarkan karena tidak adanya kontrol. Kadangkala, demi alasan bisnis, peserta camp menjadi terlalu banyak sehingga peserta tidak terkendali. Pastikanlah anak-anak kita mendapatkan fasilitator yang bisa menjaga serta membimbingnya.

Ketiga, Ada pendampingnya. Masih melanjutkan dari yang diatas. Idealnya, tiap remaja didampingi sehingga ada yang memberikan feedback ataupun masukan. Kalau perlu, bahkan selama proses camp pun peserta punya pendamping dimana ia bisa curhat dan mengungkapkan kesulitan dan masalahnya. Dengan demikian, ada personal touch bagi anak remaja tersebut.

Keempat. Orang tuanya dilibatkan. Jadi, orang tua bukan hanya terima jadi. Terkadang banyak orang tua yang salah paham. Mereka berpikir bahwa anak bisa berubah dalam satu hingga tiga hari camp. Padahal, orang tualah yang mungkin paling bertanggung jawab dengan segala permasalahannya. Karena itu, orang tua juga perlu peduli. Camp yang baik melibatkan orang tua. Paling tidak, orang tua paham, apa yang terjadi selama proses camp berlangsung.

Kelima, metodologi dan outputnya terbukti. Paling gampang, lihatlah dari para alumninya. Juga testimonial dari para alumninya. Kalau perlu bicaralah jujur dengan mereka yang pernah ikut soal apa yang diperoleh juga dengan lihat perkembangan mereka. Tentunya, tidak semua remaja yang ikut camp dan sukses pasti karena sepenuhnya berkat camp ini. Tetapi, paling tidak menunjukkan bahwa camp ini bisa memberikan andil positif.

Adakah camp-camp remaja yang membangun karakter positif seperti itu di negeri ini?

Lumayan banyak kok!

Intinya. Ternyata ada cukup banyak kok camp-camp yang memang berkualitas dan boleh diikuti oleh anak remaja kita untuk membangun mental mereka! Intinya, bertanyalah dan galilah informasi dari mereka.

Sebagai salah satu ide, inilah adalah salah satu camp remaja yang bisa dipertimbangkan oleh para orang tua adalah yang diadakan oleh tim konselor dan psikologi dari lembaga HR Excellency. 

Informasinya bisa diperoleh di sini atau email: info@hrexcellency.com atau telpon: 021-3518505 atau 021-3862521.

Salam Antusias!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2