Mohon tunggu...
Mohammad Imam Farisi
Mohammad Imam Farisi Mohon Tunggu... Dosen - Pendidikan IPS

FKIP Universitas Terbuka

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Menakar Kekuatan Netizen dan Jurnalisme Netizen

4 Januari 2022   17:38 Diperbarui: 6 Januari 2022   18:40 242 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ruang Kelas. Sumber Ilustrasi: PAXELS

Netizen, Jurnalisme Netizen, dan Keterbukaan Informasi

Sejauh yang bisa dilacak, kata Netizen atau Net (citizens of the Net) dinisbatkan kepada Michael F. Hauben, seorang peneliti yang menggunakan istilah tersebut pertama kali tahun 1992 dalam artikel berjudul “The Net and Netizens: The Impact the Net Has on People's Lives”. Artikel ini kemudian dipublikasikan oleh IEEE Computer Society Press tahun 1997. Kehadiran Net atau Netizen sendiri, sejatinya sudah mulai sejak tahun 1960an, menghuni ruang-ruang maya jejaring komputer seperti Internet, BITNET, FIDOnet, atau jejaring fisikal lain, seperti Usenet, VMSnet,dll.

Menurut Hauben (1995), Netizen atau wargaNet adalah seseorang (masyarakat awam, guru, peneliti, jurnalis, dll.) yang berpartisipasi aktif dalam jejaring komunitas maya atau Internet secara global. Mereka adalah sebuah institusi sosial baru, penghuni bersama ruang elektonik, yang akan terus berkembang sejalan dengan perkembangan Internet itu sendiri. Netizen adalah sebuah kekuatan sosial baru yang akan terus berkembang (the developing forces), yang terbentuk dari para pekerja keras atas dasar dedikasi, dan sukarela, di bawah kontrol dan kuasa masyarakat klas-bawah untuk memberikan sesuatu yang berharga bagi dunia melalui posting-posting yang diunggahnya. 

Media Sosial (medsos) adalah istilah generik dari semua platform yang digunakan oleh Netizen untuk saling memproduksi dan berbagi informasi di ruang maya. Diantaranya adalah  Wikipedia dan berbagai projek sisternya, WebMK, WebBlog, Facebook, Instagram, Twitter, LinkedIn, MySpace, Snapchat, YouTube, WeChat, Tumblr, Quora, dll. Diantara platform medsos tersebut, Facebook, YouTube, WhatsApp, Facebook Messenger, dan Instagram menempati lima terbesar dihitung dari jumlah penggunannya (Wikipedia, 2021).  

Evolusi medsos dari generasi ke generasi selanjutnya telah membawa perubahan yang sangat drastis, tidak hanya dari sisi jumlah pengguna atau partisipannya. Lebih dari itu, adalah adanya perubahan dalam hal subtansi atau konten informasi yang mereka posting. Di era informasi dan masyarakat terbuka saat ini, medsos mendapatkan momentum yang sangat tepat untuk bertransformasi menjadi sebuah platform "jurnalisme netizen" atau "jurnalisme warga/publik" (citizen journalism).

Citizen journalism (juga disebut sebagai collaborative media, participatory journalism, democratic journalism, guerrilla journalism atau street journalism) secara konseptual berbeda dengan jurnalisme arus-utama (media massa). Di satu sisi, jurnalisme arus-utama (media massa) dikembangkan dari konsep “journalism is for citizens”, dimana warga hanya menjadi konsumen jurnalisme yang diproduksi, direview, dan didistribusikan oleh jurnalis profesional, dewan editor, dan penerbit. Di sisi lain, jurnalisme netizen dikembangkan dari konsep “journalism as citizenship”, dimana seluruh proses jurnalisme (pengumpulan, analisis, produksi, dan penyampaian informasi dan berita) dilakukan sendiri oleh netizen setiap saat dengan melibatkan masyarakat atas dasar sukarela dan partisipatif. Netizen juga bisa mengaktualisasikan sendiri identitas, peran, dan aktivitasnya sendiri (a form of citizenship for actualizing citizens) (Campbell, 2015). Jurnalisme netizen juga menggunakan sumber-sumber alternatif di luar jurnalisme arus-utama. Sekaligus merupakan respon terhadap jurnalisme arus-utama (Radsch, 2012, Moeller, 2009). 

Kehadiran jurnalisme netizen telah mendorong partisipasi warga negara tidak hanya menjadi penyampai informs atau berita belaka. Ia memungkinkan warga bisa menjadi sejarawan pemula yang dapat menciptakan momen penting, dengan perspektif baru yang kerap tidak dilaporkan oleh media-media massa arus-utama. Berbagai kasus seperti demonstrasi G20 di London pada tahun 2009; “Revolusi Hijau Iran” (The Iranian Green Movement) di Iran pasca pemilihan presiden tahun 2009; kematian Mohamed Bouazizi di Sidi Bouzid Tunisia tahun 2010; demonstrasi pro-demokrasi di Hongkong tahun 2019 yang terekspose melalui jejaring jurnalisme netizen merupakan fakta bahwa kehadirannya telah menandai era baru partisipasi publik dalam berbagai lini aktivitas, politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, dll. dengan segala pro dan kontra yang mengiringi. 

Jurnalisme netizen, kata Moeller (2009), merupakan “modal sosial” (social capital) yang menciptakan nilai bagi orang-orang yang terhubung, dan juga para pengamat, sebuah nilai yang menurut banyak orang tidak ada dan tidak dimiliki di media-media arus utama yang dikendalikan oleh elit politik atau korporasi. Ia telah menjadi kekuatan antitesis terhadap jurnalisme media massa arus-utama (cetak dan elektronik), yang dianggap telah menjelma menjadi media politik partisan (Ritonga & Syahputra, 2019); dan mengkooptasi publik untuk menyatakan pendapat secara terbuka, bebas, dan otonom (Radsch, 2012). Bisa jadi, karena alasan ini pula sejumlah media massa mainstream menginisiasi terbitnya jurnalisme netizen seperti kompasiana.com oleh Kompas.com, pasangmata.detik.com oleh detik.com, Indonesiana.id oleh Tempo, dan rubik.okezone.com oleh Okezone. Selain jurnalisme netizen yang diterbitkan oleh sekelompok jurnalis mereka secara independent seperti pepnews.com

Jurnalisme netizen telah menjadi sebuah kekuatan arus-bawah (grass root) yang hadir dalam semangat kebersamaan diprediksi akan menciptakan “a new more democratic world”, meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui penciptaan peluang-peluang hidup baru. Kegiatan saling berbagi informasi antarnetizen juga menjadikan informasi, dan produk intelektual lainnya menjadi tersedia secara bebas dan terbuka bagi siapapun, dan menjadi milik kolektif (Hauben, 1995). 

Jurnalisme Netizen dan Big Data

Sebagai sebuah jaringan informasi berskala global, jurnalisme netizen dalam taksonomi Kitchin (2015), merupakan salah satu dari tujuh domain yang menyediakan “Maha Data” (Big Data). Istilah Big Data digunakan pertama kali tahun 1990an oleh John Mashey, ilmuwan kepala pada komunitas Silicon Graphics (SGI) (Diebold, 2012), dan mendapatkan momentum di awal 2000-an ketika analis industri Douglas Laney mengartikulasikannya dalam konsep “tiga V” (Volume, Velocity, dan Varietas) (Laney, 2013). Konsep ini kemudian berkembang menjadi “lima V” (dengan tambahan aspek Veracity, dan Value). Panimalar, Shree, dan Katherine (2017) mengartikulasikannya lebih lanjut menjadi “17 V”. Bahkan, Tom Shafer (2017) bekerja sama dengan Elder Research mengartikulasikannya menjadi “42 V”.   

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ruang Kelas Selengkapnya
Lihat Ruang Kelas Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan