Ani Siti Rohani
Ani Siti Rohani Buruh

Life is never flat

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cinta yang Kuterka

16 Mei 2019   18:37 Diperbarui: 16 Mei 2019   18:49 126 3 0
Cinta yang Kuterka
pixabay.com


Oleh : Ani Siti Rohani

Ini bukan pertama kalinya. Aku pasti tidak salah lihat. Lelaki itu, aku kenal betul bagaimana wajahnya, bentuk tubuhnya. Lalu bagaimana mungkin wanita anggun di hadapanku ini selalu mengelak bahwa yang kulihat bukan Mas Ardi, kakak kandungku sendiri.

"Kamu pasti salah lihat Rasti, Mas Ardi enggak mungkin begitu," ucapnya tak memandang sedikit pun raut kekhawatiranku.

"Mbak, sebenarnya apa yang terjadi? Ada apa dengan kalian? Aku yakin betul yang kulihat sore tadi atau kemarin-kemarin adalah Mas Ardi," balasku mencoba meyakinkan.

"Sudahlah Rasti. Kamu ini kan adiknya Mas Ardi, seharusnya kamu tahu kalau Mas Ardi tidak mungkin melakukan hal seperti itu," ucapnya dengan lembut, menggenggam jemariku.

Rasanya percuma bila kukatakan seribu kali pun Mbak Riana tidak akan percaya padaku. Aku sendiri tak pernah ingin mempercayai itu. Tapi dengan jelas aku melihat semua. Tidak hanya sekali tapi berkali-kali. Bagaimana mungkin aku salah?

Seperti hari-hari kemarin, aku mengalah. Aku memutuskan pergi dan mencoba mempercayai bahwa aku yang salah mengenali. Tidak, barangkali aku bisa menemukan bukti yang lebih meyakinkan. Bagaimana bisa aku berbuat seperti ini? Mas Ardi itu kakak kandungmu, Rasti!

Mentari menenggelamkan diri. Gelap alam meninggalkan sunyi. Aku, masih dengan ketidakpercayaanku, masih dengan kecurigaanku menyusuri jalan mengusir kebingungan.

Pernikahan mereka sudah berlangsung selama kurang lebih 5 tahun. Aku iri dengan kebahagiaan mereka. Mereka pasangan yang sangat serasi. Mas Ardi lelaki yang baik, penyayang, perhatian. 

Mbak Riana wanita yang lembut, setia, baik, penurut. Ya, aku selalu iri padanya. Karena ia seorang wanita yang penyabar, penuh kasih sayang. Sedangkan aku, ah siapa lah aku. Hanya seorang wanita keras kepala yang sampai saat ini masih belum menemukan sosok suami yang mendampingi. Aku terlalu banyak memilih. Begitu ibuku sering menasihati.

Aku selalu ingin mendapatkan yang seperti ayah, seperti Mas Ardi yang setia hanya pada satu istri. Masa laluku barangkali telah menyisakan trauma yang berlebih. Dua kali aku gagal menikah karena calonku berpaling dengan wanita lain. Benar, barangkali memang mereka bukan jodohku makanya Tuhan selalu menggagalkan. Tapi karena itu pula aku selalu khawatir, selalu khawatir ditinggal pergi atau bahkan diduakan sekalipun aku telah menikah. Pikirku berlebihan. Padahal aku tahu betul tidak semua lelaki demikian.

Malam mulai ramai. Banyak penjual jajanan berkeliaran. Aku menikmati waktu dengan duduk di sebuah warung pecel yang ada di pinggir jalan. Memesan segelas teh hangat dan seporsi nasi beserta pecel lele lengkap dengan sayur mayur dam sambel. Menyenangkan bukan? Tapi sayangnya selalu sendiri. Sudah berapa usiaku, masih saja betah sendiri dan menatap iri kemesraan keluarga Mas Ardi dan istri.

"Nasi sama pecel ayamnya Bang, dua porsi ya."

Suara itu, wanita itu. Dia wanita yang sering kulihat bersama Mas Ardi. Aku tidak mungkin salah. Tatapanku tak berlalu darinya. Aku yakin dia tidak sendiri.

"Mas Ardi," lirihku.

Benar apa dugaanku. Dia datang bersama mas Ardi. Sebenarnya siapa wanita itu. Kenapa mereka sering sekali bersama. Bahkan terlihat begitu mesra! Begitukan kelakuan kakakku sekarang?
Oh Tuhan! Rasanya kepalaku ini akan segera pecah melihat kelakuan mereka yang semakin lama semakin begitu terlihat dekat dan mesra. Selera makanku hilang sudah.

"Bang, totalanku berapa?"

"Dua puluh lima ribu aja, Mbak."
Aku segera bergegas meninggalkan tempat itu. Rasanya muak sekali melihat Mas Ardi bermesraan dengan wanita lain di hadapanku. Baiklah, meski mereka tidak mengetahui keberadaanku.
Aku memutuskan kembali menemui Mbak Riana. Dia harus tahu. Tidak peduli jika itu membuat hubungan mereka renggang atau apa. Aku malu. Aku malu melihat kakakku berbuat seperti itu. Dan aku tahu bagaimana perasaan Mbak Riana jika tahu. Lebih cepat terungkap lebih baik.
"Mbak Ri, sudah kubilang aku tidak salah lihat. Aku melihatnya dengan jelas kali ini. 

Itu Mas Ardi!" ucapku sedikit emosi.

"Tidak Rasti, kamu pasti salah lihat," balasnya tak membalas tatapanku sama sekali.

"Kalau bukan, kenapa Mbak Ri menangis?" balasku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3