Mohon tunggu...
Anis Hidayatie
Anis Hidayatie Mohon Tunggu... Penulis, guru

aniesday18@gmail.com. Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Mari tebar cinta dengan kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Perlawanan "Lonte" Demi Pertaubatan 3

26 November 2020   05:30 Diperbarui: 26 November 2020   05:31 517 52 18 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Perlawanan "Lonte" Demi Pertaubatan 3
Pixabay

"Janji, jangan perlakukan aku seperti lonte lagi ya?"

"Iya  janji
."Dua jari telunjuk dan tengah tangan kanan diacungkan sejajar. Membentuk victory tanda sepakat.

 "Jauh jarak kutempuh hanya untukmu. Aku tak mau kehilangamu. Maafkan aku ya."

Anggukan mantap, sungging senyum elegan, menumbuhkan kepercayaan. Kuselidik rona mukanya, ketulusan nampak. Sepertinya tak mengapa aku tidur di sini. Meski satu ruang toh beda tempat.

"Baiklah, aku percaya padamu."

Cermin di toilet tempatku membersihkan muka dan gosok gigi memantulkan cahaya sangat terang dengan aura kurasakan buram. Ini pertama kali tidur satu tempat dengan lelaki.

Kukenakan stelan piyama celana panjang. Hijab berbahan kaos lebar panjang. Untuk tidur dengan nyaman dan aman. Agar tidak menarik, kutambah jaket bertopi. Memakai masker pula, dan kaos kaki panjang.

"Aman!"

Sekali lagi kutatap cermin,  meminta kesepakatan penampilan. Aku berhijab, ironi dengan yang telah kulakukan tadi. Tetiba sedih menggayuti, bulir air mulai menggenang, jenis perempuan apakah aku ini?

Tentang hijab aku pernah tidak sepakat dengan Zal, rekan dosen kampus. Dia ajukan pemakluman atas banyaknya kasus wanita berhijab yang melanggar syariat. Berzina misalnya. Ada berita "Wanita Berjilbab Tertangkap Mesum Dengan Lelaki Suami Sejawat".

Dia katakan, itu karena karakter tidak berbanding lurus dengan perilaku.

"Karena karakter di sikap! Bukan prilaku."

"Maksudmu?"

"Semua wanita muslimah pake hijab, pake cadar atau melakukan kewajiban. Itu di prilaku.Tapi, apakah semua wanita itu menghidari zina, riba, delele? Itu sikap!"

Kurasakan perkataan Zal memukuli otak. Mengiangkan seringai sinis atas debatku padanya dulu.

"Harusnya, muslimah yang sudah sadar kewajiban bisa menghindari maksiat."

Sanggahanku padanya kini sedang menuding diriku sendiri.

" Ya Tuhan, apa yang sedang kulakukan?"

Shalat, tetiba aku ingin melaksanakan sebagai pengantar tidur. Qashar ta'khir untuk Maghrib dan Isyak. Melepas lagi hijab, wudhu.

Kugelar handuk kering tepat di samping pintu keluar, mengarahkan ke kiblat sesuai petunjuk kompas gawai. Sholat di sana, tanpa mukena, cukup baju yang kukenakan ini. Dengan hijab lebar, Jaket dan kaos kaki.

Bed ukuran besar kutuju. Ada 2 selimut melapisi, tebal dan tipis. Kuberikan yang tebal pada John. Aku tipis saja, toh pakaianku sudah cukup tebal.

"Kau pakai bed covernya ya."

"Aku tidak memerlukan itu. Kau pakai saja semua. Room boy akan mengantar."

"Baiklah, aku tidur kalau begitu. Janji loh ya. Have a good sleep."

"Iya, tidurlah. Matikan saja lampu di atas tempat tidurmu itu. Aku akan membalas email-email dulu dan mengerjakan laporan. Jangan kuatir, aku tak akan menyentuhmu. Have a good sleep too."

Terlihat laptop di meja sedang ditekuri John dengan serius. Baguslah, itu meyakinkan untuk keamananku tidur sendiri. Dia sedang fokus bekerja, tak mungkin sempat berpikir yang ya ya ya.

Kumatikan lampu tidur. Menarik selimut menutupi seluruh tubuh, bahkan wajah pula. Doa-doa kupanjatkan mengiringiku ke alam impian.

Lelap. 

Satu gerakan mengagetkan terasa. Seperti ada yang menarik pelan selimut dari kepalaku. Memicingkan mata, ya ampun! Wajah John sudah berada tepat di atas mukaku. Sontak kusibakkan rautnya.

"Apa yang akan kau lakukan?"


Bersambung

Anis Hidayatie untuk Kompasiana, Ngroto 26/11/2020




VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x