Anep Paoji
Anep Paoji wiraswasta

Anep Paoji, saya tinggal di kota kecil indah dan bersahabat.

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Artikel Utama

Begini Proses Quick Count (QC) dari Sudut Pandang Surveyor

19 April 2019   13:42 Diperbarui: 21 April 2019   11:56 807 9 4
Begini Proses Quick Count (QC) dari Sudut Pandang Surveyor
Foto: Dokumentasi pribadi

Tiga hari terakhir jagat media dihebohkan dengan hasil perhitungan cepat atau Quick Count (QC) perolehan hasil Pemilu Pilpres dan Pileg 2019. QC sendiri sudah diperkenalkan di Indonesia sejak Pemilu 2014. Di luar negeri, QC diperkenalkan lebih lama lagi.

Kini, mengetahui informasi atau kesimpulan awal perolehan suara masing-masing calon calon presiden/wakil, kepala daerah dalam Pilkada, tidak harus menunggu waktu berbulan-bulan. Hari itu pemilihan, sore hari sudah didapat kesimpulan awal siapa pemenangnya. Siaran TV pun 24 jam bahas perolehan suara, juga media sosial yang selalu berisik tak henti-henti.

QC biasanya dilakukan oleh lembaga survei yang selama ini intens mensurvei elektabiltas pasangan calon, baik Pilpres, Pilgub, Pilkota dan juga Pileg. Ada juga lembaga perguruan tinggi yang melakukan QC namun kalah populer. 

Pada dasarnya, QC merupakan kegiatan akademis murni yang digunakan untuk hasil kerja politik. Sehingga metodologi yang digunakan murni akademis. Bisa jadi, prediksinya benar atau terjadi kesalahan (bukan bohong) yang masih bisa ditolelir, atau yang disebut dengan margin error.

Perhitungan Suara (Foto: Dokumentasi pribadi)
Perhitungan Suara (Foto: Dokumentasi pribadi)
Nah, sejak 2017 akhir saya agak intents terlibat menjadi surveyor lapangan dari berbagai lembaga survei di Indonesia. Surveyor ini bagi saya merupakan pekerjaan murni, profesional, dan mendapatkan upah. 

Hal yang sama dalam proses Pemilu Pilpres/Pileg 2019 ini, saya juga terlibat menjadi petugas lapangan QC dan Exit Poll. QC dan Exit Poll ini sama-sama cara untuk menghasilkan prediksi perolehan suara dari lapangan berdasarkan metode tertentu yang biasanya dilakukan secara random.

Antara Survei Pra Pemilu (untuk mendapat angka elektabilitas), Exit Poll dan QC, ketiganya ada sedikit perbedaan. Untuk pertama kita bahas Exit Poll. Exit Poll dilakukan dengan cara langsung mewawancarai seseorang di sebuah TPS yang ditentukan sebelumnya. Waktu wawancara, begitu voter keluar dari bilik suara atau dari gedung tempat pemugutan dengan jam yang ditentukan.

Proses Pemilihan (Foto: Dokumentasi pribadi)
Proses Pemilihan (Foto: Dokumentasi pribadi)
Salah satu pertanyaan misalnya, siapa yang anda tadi pilih, paslon A, B atau C. Enumerator (pewawancara) langsung mencatat jawaban tersebut pada berkas EP. Pertanyaan cukup banyak, termasuk pilihan Caleg hingga pertanyaan kapan menentukan pilihannya. 

Sebelumnya, pewawancara bertanya nama, usia, dan juga memastikan bahwa responden sudah memilih dan asli punya Kartu Keluarga (KK) di RT/RT tempat itu. Setelah proses ini selesai, enumerator mengunggah atau upload data pada aplikasi android yang telah disediakan. Selesailah proses EP di lapangan.

Kedua, Quick Count (QC). QC ini lebih mudah ketimbang EP. Tidak harus wawancara seperti di EP. Cukup menunggu hasil perolehan suara di masing-masing TPS yang telah ditentukan. 

Hasil perolehan suara langsung diupload pada aplikasi. Tugas selesai. Enumerator tinggal minta tanda tangan kepada KPPS dan stempel pada berkas. Isinya salinan perolehan suara yang sudah dihitung tadi. Jadi kalau EP hasil perolehan suara dari per orang sedangkan QC hasil total perolehan suara dari TPS setelah perhitungan selesai.

Ketiga, survei elektabilitas yang biasanya dilakukan beberapa minggu, bulan bahkan tahun sebelum pemilihan secara berkala. Saya sendiri lebih dari 10 kali survei selama tahun 2018 sampai 2019 untuk Pilpres, Pileg, dan Pilkada.

Perhitungan suara (Foto: Dokumentasi pribadi)
Perhitungan suara (Foto: Dokumentasi pribadi)
Survei elektabilitas relatif rumit dibanding EP dan QC. Pewawancara harus memahami langkah-langkah yang ditentukan. Seperti menentukan RT yang warganya akan kena sampel/diwawancara hingga menentukan anggota keluarga yang harus diwawancara.

Prosesnya pun cukup panjang. Seorang surveyor sebelum turun ke RT tujuan harus datang ke kelurahan/desa. Selain menyampaikan perizinan juga harus mendapat informasi berapa jumlah RT/RW di desa tersebut. RT/RW ini untuk disusun pada kolom acak, sehingga akan keluar RT mana saja yang harus dituju.

Biasanya, dari total RT di kelurahan tersebut, beberapa survei mengambil 2 RT yang kemudian masing-masing RT diwawancara 5 orang. Jadi jumlah responden dari dua RT 10 orang. Laki laki dan perempuan. Sedangkan untuk beberapa lembaga survei, mengambil 5 RT untuk memilih 10 responden. Masing-masing RT diwawancarai 2 orang, responden laki-laki dan perempuan.

Menentukan RT yang dituju bukan berdasarkan pilihan seseorang atau ditentukan oleh lembaga survei atau oleh pihak desa, melainkan oleh metode lembar acak dalam kertas. Semua petugas survei akan mendapat lembar acak yang berbeda sehingga setiap kelurahan/desa yang didatangi, akan berbeda sampel RT dan tidak akan sama.

Setelah proses selesai, pewawancara mendatangi kepada RT yang telah ditemukan tadi. Di sinilah perjuangan surveyor dimulai. Mencari RT yang sedemikian banyak tidaklah mudah. Lokasinya bisa jadi mudah ditemukan, tapi petugas RT-nya lagi keluar rumah atau kerja. 

Di pedesaan, bisa jadi antara RT yang satu dengan RT yang lain sangat jauh, bisa lintas sungai, pasir, dan gunung. Beda dengan di perkotaan. Sebelum ketemu RT tidak boleh wawancara ke warga. Karena selain pemberitahuan kepada RT, surveyor harus memperoleh nama-nama Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di RT tersebut.

Berdasarkan data RT, surveyor menyusun nama KK secara alfabet. Untuk kemudian dicari 2 KK atau 5 nama KK sebagai responden. Proses itu selesai, barulah surveyor mendatangi nama KK yang ditemukan tadi pada lembar acak. O iya, untuk menentukan siapa yang diwawancara bukan atas dasar petunjuk RT, tapi melalui metode acak bertingkat yang disediakan pada lembar kertas dari lembaga survei yang sudah baku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2