Kandidat

Pelajaran Masa Kecil Jokowi dan Alasan untuk Apa Berkuasa Itu

8 Januari 2019   17:45 Diperbarui: 8 Januari 2019   17:52 296 0 0
Pelajaran Masa Kecil Jokowi dan Alasan untuk Apa Berkuasa Itu
foto:tempo.co

Tak ada yang menyangkal bila Joko Widodo adalah sosok Presiden Republik Indonesia yang agak berbeda dibandingkan lainnya. Satu yang paling jelas, dia bukan keturunan siapa-siapa, elite politik, ataupun bangsawan. Seluruh karirnya dibangun dari bawah, seperti kebanyakan orang biasa.

Oleh karena itu, karir politik Jokowi bisa dikatakan sedikit terlambat. Sebab, dia melalui proses waktu itu tanpa sesuatu yang instan. Ia meniti jalan dari Walikota, Gubernur, hingga akhirnya Presiden.

Sedikit menengok ke belakang, nama Jokowi mulai mencuat ketika menjadi Walikota Solo, sebuah kota di Jawa Tengah. Sebelumnya, dia adalah pengusaha mebel di kota tersebut. Dia dan istrinya, Ibu Iriana, memulai usaha tersebut juga dari nol. Maklum, dia bukanlah anak juragan ataupun bos.

Ketika menjadi Walikota Solo itu, cara Jokowi menata kota menjadi sorotan publik. Dia berhasil membangun kota yang asri, tertata, tapi tanpa harus menyingkirkan orang-orang kecil atau wong cilik. Dia memulainya dengan pendekatan yang humanis.

Kisah pemindahan merelokasi pedagang kaki lima di kawasan Banjarsari di kota Solo ke Pasar Klitikan menggambarkan itu seluruhnya. Dia menolak menggunakan Satpol PP dan menggusur paksa para pedagang yang ada.

Jokowi lantas mengajak 11 paguyuban PKL untuk makan siang bersama di kantor wali kota, Lojigandrung, Solo. Setelah beberapa kali makan siang, para pedagang itu akhirnya bersedia direlokasi tanpa kekerasan.

Di sisi lain, Jokowi juga dikenal tegas kepada para pengusaha kakap. Ia memutuskan adanya moratorium (penghentian) izin pendirian mall di Solo. Sebab, mall itu telah banyak sehingga dikhawatirkan mengganggu ekosistem pasar rakyat.

Karena keputusannya itu, tentu saja para pengusaha tak tinggal diam. Jokowi bahkan sempat bersitegang dengan Gubernur Jawa Tengah saat itu, Bibit Waluyo. Tetapi, Jokowi tak bergeming.

Sikapnya jelas. Jokowi hanya ingin pasar tradisional itu berkembang dan hidup, pedagang bisa berdaya, dan rakyat bisa mendapatkan komoditas yang murah di pasar rakyat yang sudah dimodernisasi. Untuk itu, pembangunan pasar modern (mall) harus dihentikan dulu.

Sikap Jokowi itu, memang terkesan kolot. Tetapi dia memiliki jawaban lain atas sikap kerasnya tersebut. Ketika menjadi pemimpin, dia hanya ingin membantu mereka yang lemah. Yakni, golongan rakyat biasa dan miskin.

Sebab, dirinya sendiri juga pernah hidup susah. Jokowi dalam buku otobiografi berjudul,  "Jokowi Menuju Cahaya" (2018), bercerita bahwa dirinya memiliki kehidupan masa kecil yang sulit.  

"Saya kecil hidup di pinggir kali, namanya Kali Anyar. Namanya hidup di kali ya, ya semua orang tahu, nggak harus saya ceritakan. Yang jelas kesulitan, kesusahan, dan perjuangan hidup menjadi keseharian kita dan saya kira hal-hal seperti itu tidak perlu diekspos," ujar Jokowi di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (13/12/2018).
Saat itu, Jokowi masih duduk di bangku sekolah dasar. Karena rumahnya digusur, ia sekeluarga pindah ke rumah tantenya.

"Tahun 1970-an, saya ingat betul, masih SD, entah kelas II atau kelas III, rumah saya di pinggir kali digusur. Brrrrrt. Ya kayak sekian tahun pembangunan kan senangnya gusur seperti itu. Ya digusur. Dan tidak diberi ganti rugi, tidak diberi solusi, sehingga kami sekeluarga tinggal di tempat kakak ibu saya mungkin selama 1,5 tahun di situ," ungkapnya.

Jokowi memaknai masa kecilnya yang sulit sebagai pembelajaran di masa dewasa. Yang penting, ia tidak perlu merasa mendramatisasi kehidupannya.

Yang lebih penting lagi, saat dirinya memegang kekuasaan, maka itu harus diarahkan untuk berpihak dan memperbaiki kualitas kehidupan masyarakat, khususnya yang miskin dan marjinal.

Inilah alasan transformasi struktural yang digagas Jokowi melalui NawaCita harus dilakukan. Tanpa mengumbar kebijakan yang 'asal rakyat senang', Jokowi sedang bekerja memperbaiki pondasi Indonesia yang Maju dan rakyatnya sejahtera.

Kalau tidak percaya, silakan tengok data-data statistik dan kenyataan di lapangan. Harusnya cukup mudah, karena kita sendiri sudah merasakan dampak perbaikan itu.