Travel Pilihan

Surat untuk Anak Krakatau yang Telah Pergi Menemui Ibunya

15 Januari 2019   02:04 Diperbarui: 15 Januari 2019   09:46 252 1 0
Surat untuk Anak Krakatau yang Telah Pergi Menemui Ibunya
Dokpri

Kaget. Itu yang saya rasakan pas membaca sebuah tulisan atau berita di koran harian. Koran harian yang diterbitkan oleh Kompas tertanggal Senin, 14 Januari 2019. Ada sebuah berita bertajuk Kebencanaan di halaman utama. Sebuah berita dengan gambar sedikit samar karena hasil cetakan di sebuah koran, dengan judul berita "Perlu Sinergi untuk Mengurangi Risiko Bencana"

Di berita itu, ada foto keadaan terkini gunung Anak Krakatau, yang setelah saya telusur sumbernya dari salah satu akun Instagram, yaitu @earthuncuttv. Tante saya, Asita DK yang memberi tau saya soal pemberitaan itu, saat saya sedang berkunjung ke rumahnya.

instagram @earthuncuttv
instagram @earthuncuttv
Di koran itu dijelaskan bahwa Anak Krakatau telah hilang sebagian. Gunung yang setiap waktunya terus tumbuh menjulang, saat ini hampir rata dengan daratan, dan menyisakan cairan berwarna oranye di salah satu sisi perairan pulau Anak Krakatau. Pemandangan itu sangat kontras dengan apa yang saya lihat beberapa bulan lalu saat saya berkunjung ke gunung Anak Krakatau -- bisa dibaca cerita dan catatan perjalanan saya beberapa bulan lalu saat berkunjung ke gunung Anak Krakatau --. 22 Desember 2018, tepat di hari ibu, si Anak Gunung ini pergi menemui ibunya. Kepergiannya membawa duka yang mendalam buat siapa aja yang ada di jangkauannya. Tsunami yang dikirimnya, menjadi pertanda kepergiannya. Karena kepergiannya pula, saya tertarik untuk mengirimkan surat untuknya.

Gunung Anak Krakatau dari Kejauhan
Gunung Anak Krakatau dari Kejauhan
"Wahai, Anak Krakatau, 

Bagaimana kabarmu sekarang?

Baru sekali kita bertemu beberapa bulan lalu. Baru sekali kita bermain dan bercanda saat itu. Baru sekali kau menyambut kami dengan sambutanmu. Dan, baru sekali juga kami pamit meninggalkanmu, di rumahmu. Sekarang kau telah pergi meninggalkan kami. Ternyata selama ini kami salah, kami kira kau seperti itu karena kau ingin menunjukkan kebahagiaanmu, kau ingin tunjukkan keeksitensianmu, kau ingin tunjukkan pertumbuhanmu dari seorang anak menuju dewasa saat itu, dan kau ingin tunjukkan ke kami jati dirimu dengan caramu bermain seperti itu.  Dengan segala aktivitasmu, yang bikin kami tertarik untuk mengunjungimu, bermain denganmu, dan lebih jauh mengenalmu. Dengan segala keaktifanmu yang bikin kami kualahan dan akhirnya menyerah untuk berlama-lama bermain denganmu saat itu. 

 

Wahai, Anak Krakatau, 

Memang benar, ternyata kami salah. Ternyata yang kau tunjukkan ke kami selama ini adalah sebuah kesedihan. Kesedihan seorang anak yang ditinggal seorang ibu. Kesedihan seorang anak yang tumbuh dan besar seorang diri di Bumi Pertiwi. Kesedihan yang kau tunjukkan selama ini lewat erupsi, asap, letupan, dan raunganmu, ternyata itu yang selama ini kami artikan sebagai kebahagiaanmu. Kami gak bisa mengerti maksudmu dengan cara seperti itu. Kau tunjukkan itu melalui isyarat, sedangkan kami terbiasa menangkap maksud melalui kalimat. Mungkin, karena itu kau jadi marah dengan kami. Maaf, kami gak bisa ikut merasakan kesedihanmu saat itu. 

 

Wahai, Anak Krakatau,

Ternyata kau merindukan ibumu. Sosok ibu yang belum pernah kau temui sejak kelahiranmu. Sampai di usia saat ini, kau masih belum pernah bertemu ibumu. Kau bagai anak rantau, Nak. Kau bagai anak rantau yang selalu merindukan kampung halaman dan tanah kelahiran. Tapi, ingatlah, tempat kelahiranmu di sana, di sebuah pulau di perairan Selat Sunda. Itu pun jadi tempat kelahiran ibu dan leluhurmu. Ibumu lah yang pergi meninggalkanmu. Ibumu pergi mencari ketenangan di bawah sana, dan ingin melihatmu hidup mandiri di atas sana. Dia tetap memantau pertumbuhanmu dari kejauhan, tapi kau gak sadar hal itu. Sekian lama kau berteriak mencari ibumu, akhirnya membuahkan hasil. 

dokpri
dokpri
Wahai, Anak Krakatau,

Saat ini kau telah menemui ibumu di bawah lautan sana. Kau pergi seketika saat kau telah tau di mana ibumu berada. Kesedihan yang selama ini kau tunjukkan, langsung berubah menjadi rasa antusias untuk menemui sosok yang kau rindukan. Kesedihan itu, baru terasa di kami saat ini. Kau gak pendam rasa sedih itu, tapi kau tebar rasa sedih itu ke berbagai penjuru. Kesedihan itu yang kami rasakan, tepat saat kau pergi menemuinya. Air laut yang kau hempaskan, itu pertanda besarnya antusiasmu untuk menemui sosok yang kau sayang. Kepergianmu turut kami rasakan, melalui tangisan, air mata, dan kesedihan, serta kehilangan.

 

Wahai, Anak Krakatau,

Sekarang kau sudah menemui ibumu di bawah sana. Kau sedang berada di pelukan dan pangkuannya. Yang kau tinggalkan di permukaan hanya sebagian jejak dan tapakmu. Sebagian dirimu telah pergi, sebagian lagi masih di sini. Apakah kau akan kembali? Ingat, jangan terburu-buru untuk kembali. Puaskan saja dirimu dulu di sana bertemu ibumu. Ceritakanlah semua hal yang kau alami selama kau sendiri di permukaan. Ceritakan semua pada ibumu tentang teman-temanmu yang pernah berkenalan, berkunjung, dan bermain denganmu. Puaskan rasa rindumu, sampai kau bisa mengganti kesedihan dengan kebahagiaanmu. Kau pasti bakal kembali, kapan pun itu. Pesanku, saat kau kembali, jangan ada lagi kesedihan yang selama ini kau tunjukkan lewat erupsi dan letupan. Kembalilah dengan cerita menarik, rasa bahagia, dan ketenangan. Stop semua kesedihanmu. Kau telah bertemu dengan sosok yang melahirkanmu. Sampaikan salamku untuk ibumu. Kutunggu kau kembali, kapan pun itu kau mau."

Suasana Perairan Anak Krakatau
Suasana Perairan Anak Krakatau
Semoga, surat saya bisa terkirim dan dibaca oleh si Anak Krakatau. Harapan saya cuma satu, kelak, saat anak itu kembali ke tanah kelahirannya, semoga dia kembali dengan ketenangan, bukan kembali dengan raungan.

Instagram: andrimam