Mohon tunggu...
Andrico Rafly Fadjarianto
Andrico Rafly Fadjarianto Mohon Tunggu... Freelance Article Writer at Posciety

Tempat mencurahkan isi pikiran dan opini ke dalam tulisan

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Rollercoaster ala Chelsea FC

31 Mei 2021   20:00 Diperbarui: 31 Mei 2021   23:19 156 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Rollercoaster ala Chelsea FC
(https://twitter.com/ChelseaFC)

Musim ini perjalanan klub Chelsea FC seperti rollercoaster. Di awal musim rollercoaster Chelsea sedang naik, dengan mendatangkan sejumlah pemain besar, Chelsea yang saat itu masih dinahkodai Lampard digadang-gadang akan bersaing memperebutkan juara Premier League

Namun, nyatanya tidak, pengalaman Lampard sebagai pelatih masih minim, membuat ia tidak bisa memanfaatkan potensi dari para pemain yang rata-rata masih muda. Alhasil legenda Chelsea tersebut harus diputus kontraknya. Disaat ini Rollercoaster Chelsea sedang turun.

Lalu didatangkan lah pelatih kelas dunia, Thomas Tuchel, debut Tuchel bersama Chelsea pun berjalan dengan baik. Dengan pengalaman dan strategi yang ia miliki, membuat performa Chelsea meningkat kembali, bahkan Chelsea berhasil mencatatkan unbeaten dalam beberapa pertandingan awal Tuchel melatih Chelsea. Dalam situasi tersebut, Rollercoaster Chelsea perlahan naik kembali.

Namun, di akhir musim, dengan jadwal yang padat, dimana Chelsea masih berlaga di 3 kompetisi berbeda, yakni Premier League, FA Cup, dan UEFA Champions League (UCL). Tuchel terpaksa melakukan rotasi pemain. Alhasil Chelsea kembali meraih hasil buruk di beberapa pertandingan, akibat strategi nya yang memainkan pola 3-4-3 atau 3-5-2 sudah terbaca oleh pelatih lain ditambah kondisi pemain yang kurang fit akibat kelelahan. 

Puncaknya adalah kekalahan di final FA Cup melawan Leicester City. Bahkan hingga match terakhir Premier League melawan Aston Villa, dimana Chelsea membutuhkan poin untuk lolos ke zona UCL, Chelsea harus kembali menerima kekalahan. Beruntung dipertandingan lain Leicester berhasil dikalahkan oleh Tottenham Hotspur. Alhasil Chelsea berhasil mengamankan zona UCL, dan bisa fokus untuk laga final UCL. Di saat ini, Rollercoaster Chelsea turun kembali.

Menjelang pertandingan final UCL, Manchester City digadang-gadang bakal menang melawan Chelsea. Namun, Tuchel belajar dari kesalahannya, ia kembali meracik strategi baru. Di final UCL, Tuchel secara tak terduga memasang formasi 5-4-1. Formasi yang belum pernah ia terapkan selama melatih Chelsea.

 Lewat formasi tak terduga itulah, Chelsea berhasil meredam strategi Pep Guardiola. Dan Kante bermain sangat baik di lapangan tengah sehingga beberapa serangan yang dilancarkan pemain City berhasil di potong olehnya. Alhasil Kante berhasil menyabet gelar Man of the match, dan melengkapi catatan hattricknya sebagai Man of the match di UCL setelah sebelumnya ia berhasil mendapatkannya di dua laga semifinal melawan Real Madrid. Chelsea pun berhasil menjuarai UCL lewat kemenangan tipis 1-0 dan berhasil menambah koleksi gelar UCL nya menjadi 2 gelar. Dan akhirnya Rollercoaster Chelsea pun berhasil naik kembali.

Setelah berhasil menjuarai UCL, Chelsea kini dihadapkan dejavu dengan kejadian di musim 2012-2013, dimana di musim 2012- 2013 atau satu musim setelah mereka menjuarai UCL, Chelsea yang berstatus juara UCL tidak berhasil memenangkan pertandingan di UEFA Super Cup melawan Atletico Madrid serta gagal menjuarai FIFA Club World Cup. Serta di UCL, Chelsea terpaksa harus turun ke UEFA Europa League (UEL) setelah hanya berhasil duduk di peringkat ke 3. Meskipun begitu, di UEL Chelsea berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Benfica di final. Patut dinantikan apakah musim 2021-2022 mendatang Chelsea mengalami dejavu atau tidak? 

Di UEFA Super Cup nanti, Chelsea akan berhadapan dengan wakil dari La Liga Spanyol, Villarreal yang berhasil menjuarai UEL setelah di final berhasil mengalahkan Manchester United. Serta Chelsea kembali akan menjadi wakil Eropa di FIFA Club World Cup.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x