Mohon tunggu...
Andri Asmara
Andri Asmara Mohon Tunggu... Penulis

Musik adalah serpihan bebunyian surga yang jatuh ke dunia.

Selanjutnya

Tutup

Musik Artikel Utama

Adakah yang Sudah Rindu Kehadiran Pengamen Bus?

8 November 2020   18:54 Diperbarui: 10 November 2020   11:16 232 13 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Adakah yang Sudah Rindu Kehadiran Pengamen Bus?
Pengamen adalah fenomena sosial di sekitar kita. (sumber: @kompasTV/Twitter)

Meski kini pandemi sudah kehilangan wibawanya dalam menakuti masyarakat, tetap saja keadaan terlanjur sudah berubah. Dulu, orang tak ragu untuk traveling. Jika keadaan kalian sepertiku, yaitu ekonomi pas-pasan, pasti transportasi motor dan bus ekonomi menjadi pilihan utama untuk menerabas kota lain, yang pastinya berjarak tidak terlampau jauh seperti Jogja-Jakarta.

Bagaimana tidak, dana untuk sewa mobil rental jelas mencekik. Memilih kereta api lokal, sama saja, ribet. Harus beli tiket dulu-lah, menunjukan nomor KTP-lah, jam kereta yang nanggung-lah, tiket gampang habis-lah, takut wajib rapid-lah, serta jutaan kemalasan lainnya yang berat untuk dilakukan.

Berbeda dengan memilih memakai bus ekonomi. Pilihan yang tepat terutama jika kalian takut mengantuk dalam mengendarai motor, pasti bus adalah solusinya. Ordernya pun mudah, tinggal berdiri di pinggir jalan, lambaikan tangan ke arah bus, bus berhenti, naik pilih tempat duduk, dan perjalanan pun dimulai.

Setelah ditagih duit dari sang kenek, kewajiban kita sebagai penumpang telah purna. Mau tidur, tinggal tidur. Malahan, biasanya kita mendapat service yang spesial dari kenek, yaitu dibangunkan secara gratis ketika tujuan sudah dekat, tentunya dengan teriakan kencangnya yang mengagetkan.

Ah, ini merupakan kerinduanku yang pertama dalam suasana menaiki bus ekonomi. Pandemi ini menjadikan kebiasaanku naik bus untuk mudik ke Kebumen berkurang. Selain karena saya sendiri sebetulnya masih takut berkerumun, juga karena tarif bus yang dua kali lipat kenaikannya. Duh, tombok!

Selain itu, kerinduanku yang kedua adalah menonton "konser" dari pengamen yang ikut numpang di dalamnya. Nah, aku ingat sekali, sekitar tahun 2009-2013 aku sering sekali naik bus jalur utama kota Jogja-Kebumen, begitu pun sebaliknya. Jalur itu memang lahan basah bagi para pengamen, karena selain penumpangnya banyak, pemberhentiannya juga berdekatan.

Baru saja berhenti di Pasar Gamping, pengamen kloter pertama sudah ikut naik. Sampai daerah Karangnongko pengamen ini turun, berganti dengan pengamen lain, kloter kedua. Begitu seterusnya sampai daerah Purworejo, kalau sedang ramai bisa sampai 5 pengamen dalam satu kali perjalanan.

Jika diperhatikan, rata-rata formasi musik para pengamen bus sudah tertebak. Kalau ngga solo instrumen, biasanya mereka bertiga (menggunakan tambahan pemain kendang paralon membran karet dan tamborin). Namun format solo adalah yang paling sering dipakai.

Dengan menenteng gitar, seringkali pula kencrung (sebutan lokal dari ukulele), mereka bermain instrumen sambil bernyanyi. Usia mereka variatif, kadang tua, kadang muda, sehingga kadang yang ngamen sudah bapak-bapak, sudah ibu-ibu, hingga yang masih bocah tanggung seumuran SMP. Sepertinya menarik untuk kita membahas lebih dalam. Mari, aku ajak pelan-pelan mengidentifikasi musik pengamen bus kota ini.

Pertama, yang paling gampang untuk diidentifikasi adalah kelantangan suara bernyanyinya. Ini bisa dikaitkan dengan space (ruang) performancenya yang memang sedang berada di dalam bus yang berjalan kencang, dan terbuka.

Ya, kita tahu sendiri bahwa rata-rata bus ekonomi itu jarang yang ber-AC. Keadaan ini membuat pengamen harus ekstra dalam memproduksi volume suaranya, karena kebanyakan mereka bermain tanpa amplifikasi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x