Andi Wi
Andi Wi Pencari Sebab

www.guebaca.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Kisah dan Caramu Pulang ke Dalam Cerita

10 Februari 2018   16:20 Diperbarui: 11 Februari 2018   20:15 673 7 2
Kisah dan Caramu Pulang ke Dalam Cerita
ilustrasi (thinkstock)

Di sampingku duduk seorang pengemis tua. Pengemis tua yang terlihat kikuk, yang ragu-ragu apa dia harus mengulurkan tangannya atau tidak.

Pengemis tua itu mengenakan pakai lusuh layaknya seorang pengemis. Rambut acak-acakan yang tergerai sebahu a la pengemis, dan mukanya sungguh menandai dirinya benar-benar pengemis.

Dia duduk di sebelahku, di persimpangan lampu merah di tepi trotoar yang terik dan berisik dan bersila di atas buku yang belakangan kutahu judulnya: Keseimbangan. Ketika hujan turun dan semua jalanan basah, dia mengangkat bokongnya. Menepi dari jalan raya ke bawah pohon teduh dan seperti seorang serius dia membaca buku itu sambil tertawa-tawa. Pengemis itu tertawa dan sesekali melirik ke arahku yang juga ikut berteduh di sampingnya. Seolah-seolah dia sedang menantangku, apakah aku bisa sebahagia ini?

Aku suka tertawa. Aku cuma tidak suka caranya tertawa yang jika menyempatkan diri selama sepuluh menit, mengingatkanku dengan Ayahku.

Ayahku orang idiot. Dia meninggalkan ibuku ketika ibuku sedang berusaha keras tumbuh sehat. Dan ayahku tak bisa menunggu lebih lama lagi karena dia juga punya urusan.

Dia meninggalkan ibuku di rumah dan menyelesaikan urusannya hingga berhari-hari tak pulang. Dua minggu setelah dia pergi, dia mengemasi barang-barangnya dan tak pernah kembali lagi. Keadaan ibuku semakin kurus. Dia mengigau habis-habisan tengah memanggil ayahku. Tapi dia tak ada.

Aku tahu ke mana ayahku pergi. Aku mendatangi rumah kecil yang halamannya tak terurus itu dan menggedor pintu dan kebetulan sekali, aku mendapati ayahku sedang telanjang dada. Aku menantangnya duel seperti sering kulakukan ketika aku kesal kalah berjudi.

Seorang perempuan tiba-tiba menghentikan kami. Aku pernah berkelahi dengan banyak orang. Aku pernah berkelahi dengan pohon, sayangnya ayahku makhluk tiga dimensi yang nyaris bergerak dengan kecepatan supranatural. Sebelum sempat memukul ujung hidungnya, dia sudah menanduk tempurung kepalaku. Aku tersungkur. Lalu dalam keremangan yang tak biasa kulihat seorang lelaki memukul-mukul tubuhku dengan gagang sapu. Sebuah ayunan kaki juga mendarat di keningku. Ah. Rasanya seperti menjadi anak kecil lagi.

Aku belum kalah. Maksudku, aku masih punya kesempatan untuk menyelamatkan diri. Dan ketika ayahku lelah memukulku, aku bangkit dan kabur darinya.

Aku berlari seperti anak bajing yang ketakutan. Cuma berlari dan berlari. Sampai disebuah tikungan, tiba-tiba sebuah sepeda motor pengangkut sayuran menabrakku. Begini, mungkin bisa jadi sebaliknya: aku yang menabrak sepeda motor itu. Aku terlempar jauh dari jalan raya. Kakiku mungkin patah. Kepalaku mungkin pecah. Tapi tak ada darah. Aku muntah beberapa kali namun tak ada yang bisa kukeluarkan.

Seorang laki-laki membuka kaca helmnya dan dia menyapaku apa aku baik-baik saja. Aku mengangguk mesti setengah mati ingin bilang tak ada orang baik-baik saja setelah menyaksikan orang tuanya idiot, dan kau mengajaknya berkelahi namun kau kalah dan kau berlari namun bukan menghindari maut kau justru mendekatinya.

Aku dirubung banyak orang. Seperti bangkai yang dikelilingi lalat. Seekor lalat bilang padaku, apa aku butuh tumpangan ke rumah sakit. Aku menggeleng. Aku bangkit sekuat tenaga. Aku baik-baik saja begitu sugesti yang kutanamkan pada diri sendiri. Aku berjalan pincang menjauhi kerumunan lalat itu dan lalat itu membuka jalan.

Aku pulang. Aku membuka pintu gubuk tempatku tinggal, dan berdiri sekejap saja memandang ibuku yang juga sudah berdiri tak menapak tanah menyambutku pulang. Aku mengambil kursi untuk menyamakan tinggi tubuh ibuku dan tubuh diriku dan menciumnya. Lalu turun dari kursi. Lalu menyalahan sebatang rokok dan memandang sekeliling ruang itu.

Aku menutup pintu gubuk itu dari luar. Melemparkan rokokku ke atap dan setelah yakin api mulai menyala di sana, aku meninggalkan rumah yang kuanggap neraka itu sambil pelan-pelan menggumamkan kata-kata, "Kamu sudah tenang."

Lalu aku berjalan terus sampai lelah. Sampai kemudian hujan turun dan aku berteduh di bak mobil yang berisi buah melon yang terparkir di pinggir jalan dan aku tertidur sampai kusadari mobil pick up itu membawaku ke suatu kota yang tak kukenal.

Ketika aku hendak turun diam-diam ternyata sopir mobil itu mengawasiku. Diberinya aku sebutir melon sebelum akhirnya dia menyerah bahkan kami bisa berkomunikasi dengan baik. Ketika dia bertanya dari mana asalku, aku cuma menjawab sekeliling dengan pandangan mata. Ketika dia bertanya apa aku lapar, aki cuma memandang melon. Ketika dia bilang, "Di dunia ini ada banyak sekali orang tak berhasil mencapai tiga puluh sudah sinting. Tapi jangan cemas. Tuhan mengasihi semua umatnya. Semoga hidupmu diberkahi. Semoga umurmu senantiasa panjang." Lalu dia memberiku sebutir melon dan melanjutkan perjalanannya.

Aku menepi ke jalan raya dan memakan melon itu sampai kemudian aku merasa kenyang, aku membaginya dengan pengemis yang kuceritakan di atas. Dia senang sekali aku memberinya melon. Kata dia, aku memang peminta-minta. "Tapi seumur hidup baru kali ini aku benar-benar bersyukur menjadi peminta-minta. Melon ini enak sekali. Boleh aku minta nambah lagi?"

Aku mengulurkan sisa melonku. Dan menunggunya makan. Lantas ketika dia merasa kenyang, dia menarik tanganku dan memintaku untuk duduk sedikit lebih maju. Lebih maju sedikit katanya. Aku menurut. Lalu dia mengajariku caranya mengulurkan tangan ke udara.

Hari pertama aku mendapatkan sedikit. Dia lebih banyak. Maklum kesalahan pemula. Tapi lalu setelah seminggu aku mahir melakukan itu, pemasukanku sudah hampir bisa menyamai lelaki itu. Aku sangat senang dia sudah mengajariku cara yang benar mengulurkan tangan.

Lantas setelah satu bulan, maksudku, setelah aku benar-benar berpenampilan seperti pengemis; pakaian yang tak pernah ganti, rambut yang tak pernah disisir, muka yang jarang dicuci pemasukanku nyaris sama dengan lelaki itu. Dia sangat senang punya murid yang pandai yang bisa meneladai sikap gurunya.

Kemudian, suatu siang, aku mengulurkan tangan terlalu panjang. Ini membuat seseorang pengemudi mobil kesal. Dia memakiku, "Tolol! Tanganmu mau butung disambar mobil! Hah!" Lalu dari balik kaca mobil, dia melempariku sebuah buku yang kena langsung ke kepalaku.

Aku tidak marah. Pengemis kata guruku, pelajaran pertama, tidak boleh mudah marah.

Aku menyerahkan buku itu ke guruku dan dia senang sekali. Dan dia tertawa-tawa ketika sedang membacanya. Dan ketika dia tertawa dan melirikku di ujung matanya, ada perasaan marah kecil yang tiba-tiba kurasakan. Seolah lelaki itu sedang menertawakan nasibku. Tapi itu hanya perasaan sesaat. Namun lama kelamaan suara tawanya sungguh menggangguku. Karena mengingatkanku dengan ayahku.

Suatu malam, aku tak lagi tidur di sampingnya. Aku mencari tempat sendiri yang menurutku bisa jauh darinya. Tepat malam itu aku bermimpi dengan bertemu ibuku. Dia tak lagi setengah meter mengambang dari udara. Melainkan menapak tanah. Dia berkata, terimakasih sambil mengusap-ngusap kepalaku. Lalu menyelipkan rambut di antara telingaku dengan lembut dan melanjutkan kata-katanya, "Jangan pernah pulang ke dalam dirimu sendiri."

Aku menggeleng.

Ibuku bertanya lagi. "Di mana ayah?"

Aku menggeleng.

Kemudian dia bertanya lagi. "Di mana kamu?"

"Oh tidak apa-apa," katanya. Lalu kurasakan dimemelukku erat.

***

Pagi hari aku terbangun agak malas-malasan. Dan seolah merasa tak bisa menggerakan tubuh sendiri aku menyadari ternyata aku sedang dipeluk oleh seorang laki-laki. Aku tidak membencinya. Sudah kuputuskan aku tidak lagi membencinya, aku sudah melupakannya. Jadi ketika tahu seseorang memelukku seperti ayah memeluk putranya, aku menganggap dia lah satu-satunya yang kumiliki.

(*)

Andi Wi

Ajibarang, 10 Februari 2018