Mohon tunggu...
Andy Tirta
Andy Tirta Mohon Tunggu... Peace comes from within, don't seek it without.

Peace comes from within, don't seek it without.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kisah Nyata Andy Tirta

21 Agustus 2019   22:31 Diperbarui: 21 Agustus 2019   22:38 0 0 0 Mohon Tunggu...
Kisah Nyata Andy Tirta
dokpri

"Kisah Nyata Andy Tirta"

Saya setuju ketika Jokowi bilang 5 tahun ke depan akan membenahi masalah SDM. Sebagian besar SDM kita buruk sekali. Buruk baik dalam hal ketrampilan (skills) maupun mental.

Nih, buktinya ya :

Kisah nyata 1 :

Beberapa tahun lalu, saya pernah menjadi member sebuah bengkel khusus cuci dan poles mobil. Iuran membership setahun Rp 1.500.000.
Setiap saya mencuci mobil ke bengkel itu selalu saja tidak memuaskan. Kadang bagian bumpernya tidak tercuci bersih, kadang karpet tidak di-vacum sehingga masih berdebu dan berpasir, kadang dashboard dekat stir samasekali tidak dibersihkan.
Beberapa kali saya complain tapi tetap terulang dan terjadi. Akhirnya, saya tidak lagi memperpanjang membership itu.

Kisah nyata 2 :

Belakangan berjamur usaha-usaha laundry. Banyak ruko, rumah, kios dijadikan usaha laundry yakni menerima cuci pakaian alias binatu.  
Saya pernah cuci jas saya yg terbuat dari bahan wol di sebuah laundry. Yang saya beli saat dolan-dolan ke Singapura.  Selesai dicuci saya pakai saya terkejut jas itu kok ukurannya menciut kecil dan bagian lengannya menjadi pendek. Saya dulu pernah kerja di perusahaan garmen sedikit banyak tahu tentang garmen. Rupanya si tukang laundry tidak paham. Mestinya setiap menerima cuci laundry harus membaca dulu label yg ada di bagian dalam jas apakah boleh dicuci basah atau kering. Seterikanya harus dengan suhu berapa, apakah boleh atau tidak memakai pemutih. Biasanya, setiap jas atau pakaian mahal pasti ada label yg memberikan keterangan cara mencuci yg ditulis dengan beberapa bahasa: Inggeris, Perancis, Jerman, Mandarin, Indonesia.
Akhirnya, jas kesayangan itu terpaksa saya berikan ke teman yg tubuhnya lebih kecil dari saya. Saya tak tega meminta ganti rugi kepada Mbak yg bekerja di laundry. Pasti bisa habis gajinya buat ganti rugi. Mau ngamuk dengan pemiliknya tapi pemiliknya tak pernah datang.

Kisah nyata 3 :

Saya pernah tinggal di town house di sebuah apartemen di kawasan Jakarta Barat. Setiap hari warga penghuni ribut dan bertengkar gara-gara rebutan parkir. Pihak pengelola yaitu PPPSRS tidak bisa berbuat banyak apalagi para pengurus PPPSRS itu adalah orang-orangnya pengembang. Akhirnya para penghuni yg dirugikan.

Kisah nyata 4 :

Pernah pula saya mencicil seunit rumah susun di kawasan Cengkareng. Setelah lunas lebih dari 5 tahun, tapi pihak pengembang belum bisa menyerahkan sertifikat kepemilikan unitnya. Parahnya lagi adalah pihak pengembang melanggar UU no. 20 tahun 2011 tentang rumah susun yakni sudah lebih dari setahun tapi pihak pengembang tidak memfasilitasi terbentuknya PPPSRS.

Herannya, meskipun pihak pengembang telah melanggar UU tapi tidak ada sanksi hukum apapun dari pemerintah, apakah dari menteri perumahan, atau Gubernur atau Sudin perumahan.

Berkali-kali saya complain, baik secara lisan maupun tulisan, tapi tetap dianggap angin lalu oleh pengelola maupun pengembangnya. Pernah sekali manager pengembangnya bertengkar dengan saya, saya kejar dia lari kabur naik motor bersama anak buahnya. Sangking emosinya saya. Jika dia tidak kabur pastilah saya hajar pakai sepatu boot saya. Saya pijak-pijak dia itu bah!
Saya kalau sedang emosi saya suka bilang saya ini berasal dari Medan. Saya datang ke Jakarta tak pakai pesawat atau Tampomas, tapi pakai berenang!
(Bisa dibayangkan, mengapa saya begitu emosi sampai seperti anak2 mengamuk ala kungfu drunken master? Karena sebagai konsumen saya telah dibohongi telak dan saya tetap tak bisa menuntut hak-hak saya meskipun kewajiban saya telah saya lakukan. Padahal saya hidup di negara hukum! Kemana lagi bisa saya dapatkan keadilan itu???)

Kisah nyata 5 :

Di rumah saya yg saya huni saat ini, beberapa tahun lalu para warga penghuni demo gara-gara selama bertahun-tahun airnya bau dan bercacing tidak bersih dan tidak layak pakai. Tetapi, pihak pengelola yg juga adalah bagian dari pihak pengembang tidak bisa memberikan solusi. Misalnya memasukkan palija.  Pernah suatu kali, saya marah dan mengamuk ala kungfu drunken master. Saya tendang-tendangi toren penampung air saya yg korosi dan bocor padahal toren itu terbuat dari stainless steel. Kenapa bisa korosi dan bocor begitu saya complain ke manager estate-nya. Manager itu menjawab asal-asalan : maklumlah, pak, barang kalau sudah lama dipakai pastilah rusak.
Saya pun pergi ke toko penjual toren. Dimana penjualnya bilang toren stainless steel pasti akan korosi jika dalam air terdapat kandungan besi dan kapurnya tinggi. Itu penyebabnya bukan karena lama dipakai. Mendengar itu saya pun kembali menemui si manager estate yg mengelola komplek perumahan saya. Saya mengamuk kenapa jawabannya sebagai seorang manager sangat tidak profesional. Saya pun menendang-nendangi toren besar itu. Tidak ada seorang petugas security pun yg berani mendekati saya.  Managernya bersembunyi tak berani bertemu dengan saya. Saya teriak pada komandan satpamnya jika manager itu tak mau ketemu saya malam ini, mobilnya saya tabrak. Kebetulan mobilnya si manager yg masih baru sedang diparkirkan dekat saya berdiri. Dan keesokannya mereka datang pasangkan filter air di rumah saya tanpa saya harus mengeluarkan uang seperak pun.

Kisah nyata 6 :

Kawan-kawanku yg membeli ruko-ruko yg letaknya sekitar 10 menit pakai kendaraan bermotor, sejak 4 tahun lalu hingga detik ini belum diserahterimakan sertifikatnya. Mereka berkali-kali complain ke direktur pengelolanya, tapi tetap tiada solusi. Dan mereka juga complain minta masuk air palija tapi tak digubris.

Kisah nyata 7 :

Tak jauh dari ruko-ruko itu ada bangunan rumah susun yg sudah berdiri sejak era presiden SBY. Hingga kini masih belum masuk air palija. Menurut para penghuni air di rumah susun itu bau dan harus keluar uang ekstra pasang filter. Filternya cepat menjadi hitam meskipun baru dipasang 2-3 hari. Itu karena water treatment rumah susun itu kualitasnya buruk.

Saya harus menceritakan semua kejadian-kejadian di atas sedemikian rupa agar sahabat-sahabat Facebookers dan masyarakat bisa mengetahui betapa parah dan payahnya mutu SDM dan mutu pelayanan para produsen, para pengembang rumah susun, apartemen maupun perumahan serta pemilik bengkel cuci yg katanya berkelas di negeri ini.

Masalah utama yg ingin saya sampaikan adalah kualitas SDM manusia Indonesia yg buruk dan rendah serta pelayanan kepada masyarakat konsumen yg masih sangat rendah. Padahal sudah disahkan UU nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. UU perlindungan konsumen ini seolah macan ompong. Tak mampu memberikan perlindungan bagi konsumen. Begitupun terjadi masalah-masalah di hampir semua rumah susun maupun apartemen. Percuma ada UU no. 20 tahun 2011 tentang rumah susun. UU ini bagai harimau tidak punya taring dan cakar.  Warga penghuni senantiasa dirugikan.

Jokowi-Maruf 5 tahun ke depan harus bereskan masalah-masalah ini. Benahi mutu manusia Indonesia, sehingga pada gilirannya pelayanan produk dan jasa juga meningkat, yg pada akhirnya ekonomi pun meningkat.  
Persaingan semakin tajam jika tidak ditingkatkan pelayanan produk ataupun jasa, maka tentu akan kalah bersaing terutama dengan perusahaan-perusahaan asing yg masuk ke Indonesia untuk berinvestasi.

Berkali-kali pernah saya sebutkan bahwa apabila pemerintah  sebagai regulator tidak mampu menertibkan dan membuat efek jera bagi para produsen sehingga tidak melulu merugikan masyarakat konsumen, maka tentunya, pemerintah pun tidak bisa diharapkan akan mampu membuat Rakyat hidup makmur dan sejahtera.

Melindungi masyarakat konsumen saja pemerintah belum mampu, lalu apa yang bisa diharapkan untuk mampu membuat Rakyat hidup makmur sejahtera???

#SalamVictory

andy tirta, 21 Agustus 2019