Andi Syah
Andi Syah

Petani | Penanam Benih | Tukang Sapu | Penyedot kotoran Timeline hidupmu :)

Selanjutnya

Tutup

Politik

Jusuf Kalla dan Preman

20 Mei 2014   06:46 Diperbarui: 23 Juni 2015   22:20 1965 1 2

Masih ingat film dokumenter Jagal: Act of Killing. Jika belum, sempatkan menonton. Anda tidak perlu membelinya di toko DVD atau lapak DVD kaki lima karena tentu penjualnya tidak menjual film dokumenter itu.

Tidak perlu jauh-jauh keluar rumah, klik saja youtube.com dan ketikkan judul film itu. Pilih yang bukan trailer alias full movie dan tontonlah.

Kali ini, yang menarik dari film itu bukan soal si tokoh utama Anwar Kongo atau sepak terjang anggota Pemuda Pancasila meminta “sumbangan” ke pedagang-pedagang pasar di Medan.

Di salah satu adegannya, nampak Jusuf Kalla yang kala film dibuat tahun 2008 selaku Wakil Presiden RI, hadir di acara Pemuda Pancasila di Sumatera Utara.

Di hadapan anggota dan kader PP dan tentu saja Ketua Umum PP, Japto Soelistyo Soerjosoemarno, JK berorasi. Kita tidak perlu melebarkan daun telinga dan menaikkan volume speaker. Sangat jelas disitu, JK lantang bilang: kita butuh preman yang bisa menjalankan Pancasila.

Duhhhh… andaikan saja yang mengucapkan hal itu adalah Japto sendiri, saya bisa memahami. Tetapi ini adalah kata-kata yang meluncur dari mulut JK, seorang Wapres yang dikenal humanis dan mampu merangkul pihak-pihak yang berseteru seperti di Aceh.

Apalagi kita tahu sendiri, kecuali memang tutup mata bahwa kelakuan Pemuda Pancasila sangat jauh dari nilai-nilai Pancasila. Mana ada PP bisa diajak berdialog dengan akal sehat kecuali dengan duit atau adu senjata.

Saya awalnya berharap, JK mengucapkan hal itu sebagai pembuka orasi untuk mendongkrak semangat para anggota PP. Lantas, misalnya, JK memberi petuah-petuah agar PP berlaku lebih baik, lebih santun dan mencari dana untuk organisasi dari usaha yang halal. Bikin usaha atau aktivitas sosial lainnya.

Harapan saya itu tinggal asa kosong belaka. Dia malah terus saja membakar semangat. Bagi para anggota PP, ucapan JK sama saja membenarkan kelakuan mereka. Seolah surat kuasa, semacam fatwa.

Lantas, sekarang JK maju bersama Jokowi untuk menjadi pasangan capres-cawapres. Partai pengusungnya: tentu saja PDIP, lalu Nasdem, PKB dan Hanura.

Konon, JK dipilih karena sosok kesantunannya, jago lobi, ahli negosiasi, perangkul kalangan yang berselisih dan paham ekonomi. Seperti itulah.

Gambaran mirip malaikat itu lantas beralih menjadi kengerian. Bagaimana mungkin profil santun Jusuf Kalla bisa mengamini perilaku preman yang sehari-hari tak tersentuh hukum, bagaimana pula sosok humanis seorang JK malah mendukung kelakuan preman yang menghisap rakyat dengan pungli dan palak-memalak.