Mohon tunggu...
Andi Harianto
Andi Harianto Mohon Tunggu...

Tinggal di Kota Kecil Bantaeng, 120 Kilometer, arah Selatan Kota Makassar. Setiap orang adalah guru ku dan setiap tempat adalah sekolahku Sebagian tentang saya, ada di http://bungarung.blogspot.com/

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Ketika Sepatu Membawa Masalah

16 Februari 2015   15:59 Diperbarui: 17 Juni 2015   11:06 0 0 0 Mohon Tunggu...
Ketika Sepatu Membawa Masalah
14240515422007049518

[caption id="attachment_351363" align="aligncenter" width="610" caption="Sumber Image : http://forum.indowebster.com/showthread.php?t=101275"][/caption] Sepatu bagiku tidak lebih sebagai alas kaki sekaligus pakaian rutin yang tiap hari saya kenakan ke kantor, bersepeda atau pun dalam suasana saat berkendara untuk perjalanan yang jauh. Sepatu yang saya miliki hanya tiga pasang untuk kebutuhan-kebutuhan tersebut. Sepatu oxford untuk kantor, sepatu cats untuk berolahraga dan sepatu santai berjenis sneakers. Sepatu kantor, saya dapatkan hasil dari menjarah rak sepatu kakak saya, sepatu cats dari teman saya dan hanya sepatu santai yang saya beli dengan harga tidak lebih dari dua ratus ribu. Lelaki memang cenderung tak peduli dengan sepatu, beda dengan perempuan.

Saya menjadi tertarik untuk memulai berceritra tentang sepatu, sebab sudah banyak kali saya dapat masalah karena sepatu, bahkan masalah yang paling memalukan sekali pun pernah saya alami. Dua bulan lalu saya mengikuti pertemuan berkaliber nasional di Jakarta. Sebagai orang yang datang dari daerah, rasanya saya nampak gagah berkemeja batik kala itu. Sayang, ketika sampai di tempat acara sol sepatu saya terlepas. Penyebabnya, karena perekat sol  melemah akibat umur sepatu yang saya miliki. Mungkin pula karena banyaknya air yang tergenang di negeri kita ini.

Sol bagian belakang yang terlepas rasanya tidak menyenangkan. Pergerakan saya terbatas, karena sepatu harus ngesot untuk menghindari bunyi klepak. Solsepatu yang terlepas, juga terkesan nungging dengan (maaf) pantat sepatu seolah terbuka. Tentu acara sudah tidak menjadi perhatian serius saya, kening saya berkerut hanya untuk mencari solusi sepatu saya. Toko sepatu dari tempat acara jauh, karena tempat acaranya di taman Ecopark Ancol Jakarta.

Benak saya menemukan secercah harapan kala itu. Tali gantungan Id card bisa saya manfaatkan untuk mengikat sepatu, kebetulan warnanya hitam, cocok dengan warna sepatu butut saya yang hampir tiap tiga hari disemir agar tak memudar. Tidak enak mengutak atik sepatu dalam ruangan, toilet menjadi tempat privat yang akan saya manfaatkan. Singkat kisah, saya pun keluar ruangan. Saya berjalan mempertahankan gaya dengan mencoba mengaburkan ada masalah di bagian bawah kaki saya agar tidak menarik perhatian peserta yang berjubel. Peserta memang banyak, bahkan membludak sampai ke pintu ruangan.

Saya berjalan pelan menuju pintu keluar sambil sesekali memperhatikan sepatu saya. Bedebuk.....cringggg! jidat saya terhantam ke pintu kaca yang bening, kaca mata saya terjatuh dan banyak mata menoleh padaku. Huah, sangatlah memalukan. Tanpa menoleh ke belakang, saya secepat kilat memungut kaca mata dan ngeloyor pergi dengan tergesa. Agak lama saya di toilet mereparasi sepatu saya sambil menghilangkan rasa nyeri di jidat dan mengulur waktu agar orang-orang yang ada di pintu tadi melupakan kejadiannya. Mirip iklan, saya hanya bisa nyengir malu membayangkan saat itu.

Kejadian yang sama pernah terjadi sekitar tiga tahun lalu, tetapi tidak sampai harus mencium pintu. Acaran yang saya hadiri juga acara nasional di Gedung JCC, Jakarta. Beruntung waktu itu, acaranya malam, jadi perhatian orang terhadap sepatu saya yang sol nya terlepas dibagian muka tidak terlalu kentara. Solusi saya ketika itu sama dengan yang saat kejadian di Ancol, saya mengikatnya dengan tali tanda pengenal karena sepatu saya yang mengangah seolah tersenyum mengejek saya. Talinya berwarna kuning, sepatu saya hitam. Mungkin ke depan, saya harus menyiapkan lem dan minyak gosok anti bengkak untuk mengatasi problem sol sepatu yang memalukan dan menyakitkan ini.

[caption id="attachment_351365" align="aligncenter" width="320" caption="Image : lintasberita.com"]

14240520482082920708
14240520482082920708
[/caption]

Senin pagi ini, kala semua pekerja seperti saya ini harus tergesah menuju kantor, masalah kembali datang. Sepatu barus saya tersimpan di mobil, dan ikut bersama istri yang mengemudikannya ke kantor lebih dulu. Sepatu kesayangan yang menjadi biang masalah di gedung ecopark Ancol itu pun saya harus gunakan karena tidak keren memakai sepatu cats ke kantor. Sepatu ini memang tetap saya simpan, selain karena mereknya andalan, juga karena hasil pemberian. Ternyata, sepatu yang telah digudangkan dan dilem dengan rapi itu, kembali terbuka solnya saat saya hendak menggunakannya.

Walah, saya tidak menemukan lem untuk merekatnya sementara waktu yang mendesak sudah semakin menjengkelkan. Sambil celingak-celinguk bingung, saya pun menemukan paku. Dengan bergaya seolah insinyur sepatu, saya pun memaku sol sepatu dari bagian atas tembus ke bawah. Paku yang tembus kemudian saya bengkokkan agar tidak memberi ruang bergeser bagi sol yang terbuat dari karet keras itu. Aman, biar dibanting dengan tenaga dalam-sol sepatu saya tak bakalan lepas. Inilah tips paling tepat disituasi mendesak. Patut ditiru.

Nah, bagi kalian yang tidak mau mengalami situasi seperti saya, janganlah pelit membelajakan sepatu. Beli sebanyak mungkin sepatu dan periksa keadaan alas kaki Anda jika hendak perjalanan jauh atau akan mengikuti kegiatan bergengsi. Sepatu ibarat kendaraan, jikalau bannya rusak akan membawa masalah, walau tentu sol sepatu tidak layak dipompa seperti ban. Terlalu banyak para lelaki yang tidak peduli dengan sepatunya seperti saya. Mulai sekarang! Pedulilah dengan sepatu Anda. Belajarlah dari pengalaman menyedihkan ini.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x