Mohon tunggu...
MA Fauzi
MA Fauzi Mohon Tunggu... Penulis

Mahasiswa fiksi, pecandu aliran surealisme; Penganut sastra modernis; Kuliah di Prodi Ilmu Quran dan Tafsir, Bandung

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Bunga Perekam

26 September 2019   21:09 Diperbarui: 27 September 2019   18:45 0 14 4 Mohon Tunggu...
Cerpen | Bunga Perekam
Sumber: Pexels.com

Sebelum bayangan lampu-lampu jalanan menjauh ke timur, adakah aku bisa menggapaimu ke barat sampai tepat depan rumahmu? Jalanan bak ular liar merebak ke sepanjang destinasi, aku tertahan diantara dua sepi yang datang dari utara dan selatan.

Kaki tersentak dari diamku lalu jalan pelan-pelan mendatangi sosokmu, kayu-kayu di ambang langit menutupi jalan, semua tentangmu aku timbun dalam bumi lisanku. Kau tak pernah tahu betapa waktu ini cukup perih bagiku namun seperih itukah bila aku datang tepat di bola matamu lalu bertamu di meja amigdalamu kita berbincang sesuatu. Ternyata, sama perihnya.

Bukan yang kau bayangkan, aku jalan dalam kesepian yang larut bagai gula dalam air: kau adalah sisa-sisa perasa jasadku. Daun gugur tergeletak. Cahaya barat tersibak merah tembaga jatuh di lengkung nestapa yang mungkin hanya terbentuk dalam bibirku. Aku murung. Langit kemudian terhapus oleh goresan hitam pekat tanpa bintang, terpelatuk di ujung mata saat aku disesatkan untuk ke rumahmu.

Bila ini caramu agar Tuhan menutup ruang mataku agar jalur rumahmu senantiasa pekat dan tak boleh siapapun datang berkunjung menyantap seduh cakap bicaramu kala duduk di ruang tamu, aku hanya datang memberi seperangkat alat berkebun untuk hati yang perlu ditanam dan dirawat.

Kau, jauh-jauh menghampi diriku dari persimpangan waktu yang bermuara di jalan menuju kampus. Aku sebenarnya tak tahu maksudmu kala kau memberiku sepotong gelisah yang kau bungkus dalam bunga mawar. 

Aku perhatikan, kadang gelisahmu turun ke dalam mimpiku padahal aku sama sekali tidak berdoa untuk kedatanganmu di setangkup harapanku. Namun, sesering gelisah itu menghantarku untuk bangun lebih cepat dari biasanya: Tahajjud pada Tuhanku, meminang doa serta kasih sayang-Nya padaku. 

Sejak dari pengalaman yang terus-menerus, aku jadi lebih yakin dapat merasakan getar nadimu di balik sajadahku isyarat dirimu sedang berada di sekitarku. Aku berdoa pada Tuhan agar aku bisa menyentuhmu dalam pelukan halal seusai aku dan kau berikrar sah menjadi suami-istri. 

Namun, hari itu aku dibuatnya kecewa dan entah kenapa kaki ini terlalu berani menyelinap masuk ke jalan pulangmu sementara langit duduk merunduk tanpa tahu apa yang selanjutnya terjadi. Bisa jadi isyarat buruk,

"Aku ingin berbincang denganmu. Dalam hati, tangan sambil mengepal buket bunga yang mungil sebagai tanda bahwa aku benar-benar sudah merekam monologku pada bunga tersebut dan untukmu lantas usai bunga itu kau terima, tolong dengarlah baik-baik agar kau menjadi perempuan yang yakin akan kedatanganku malam-malam kelam ini.

Ada yang bertanya di balik pembuatan kisah ini, kenapa musti malam-malam? karena ada pelajaran berharga diantara pekat langit dan jalan yang menguap akibat penderitaanku tumpah di sepanjang ini. 

Aku beritahu perihal malam bila ia jatuh akan muncul beberapa bintang demi menghias langit dan justru bintang itu seketika terang di pekarangan rumahmu dan terlihat betapa gempitanya rumahmu sampai mataku terlampau menyising dari sinar itu dan kembali dibutakan oleh gelap yang menyayat.

Jangan sampai waktu subuh datang merayap dari tepian ufuk lalu membungkusku dengan perekat gelisah sebelum buket bunga dariku kau terima dengan senyum yang sukacita.

Adakah malam ini bisa menurunkan sepotong hidayah agar aku bisa berjalan di atasnya, menyusuri hutan liar, cabang-cabang yang mengerikan, jembatan batu yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dari berbagai aliran yang dengan itu aku bisa menemui wajahmu meski tak harus ku bicara padamu tentang definisi perih malam ini?

Singkat cerita, aku melihat sosok putih bercahaya menuntunku masuk ke dalam rumahmu. Awalnya aku bergidik, namun setelah ia menumbuhkan tunas senyum dari bibirnya hatiku menjadi tenteram sekali.

Aku tak sempat bertanya dari mana asal makhluk itu yang jelas bukanlah orang-orang yang biasa kutemui. Ia mengetuk pintu rumahmu lantas menukilkan salam. Aku lihat jelas kau membuka pintu dengan jawaban salam penuh ramah dan santun.

Lalu kau persilahkan kedua tamu ini masuk dan duduk di ruang tamu. Tak ada yang aneh, hanya saja di meja ada buket bunga yang ingin ku beri. Mengapa ada di sini? Aku tidak berkhayal yang tidak-tidak. Tetap bersikap dingin dan tak berkata-kata.

Aku merasa amanahku selesai ketika buket bunga yang persis milikku sudah mendarat di mejamu. Hatiku lega. Perasaanku kembali biasa. Selang beberapa detik ke depan, makhluk di sampingku mendekat ke telingaku. Berbisik.

Aku mengangguk paham tanpa tahu apa kalimat yang disampaikan. Ia berbicara dengan bahasa yang tak pernah kudengar namun seolah itu mengisyaratkan aku agar berbicara sejujurnya padamu. Diam.

Aku hanya berterima kasih atas sepotong gelisahmu. Tanganmu hanya mendekap saja. Udara dingin membuatmu berbalut selimut. Aku juga berterima kasih atas pemberian buket bungamu tempo lalu.

Aku merinding. Seakan ingin membantah ucapannya dengan kata kapan. Ya, keringat deras menghunjam dari dahi ke leher. Suasana mencekam. Aku sontak ingin keluar dari rumah itu namun anehnya tidak ada pintu. Hanya tembok tebal saja yang melindungi rumah ini.

Bagaimana aku bisa berpamitan padanya? Padahal aku melihat jelas kau membukakan pintu pada kami berdua. Kau hidangkan dua teh hangat. Kau pula yang mempersilahkanku masuk dan duduk.

Sebentar. Kau memotong segala keherananku, aku duduk kaku sembari berpura-pura menyicip teh hangat, Atas pemberianmu, aku diutus untuk mencintaimu dalam sedekap doa.

Tuhan tak pernah salah menurunkan pasangan. Kau lantas mendekatiku dan menggenggam jemariku dengan tatapan tak biasa. Maaf, kau tak boleh berkelakuan itu sebelum benar ada ikrar sah.

Aku melepas gamitan jemari itu dan memalingkan wajahku kemana saja yang aku kehendaki. Namun, kau mengambil buket bungaku dan menyerahkan padaku. aku meneguk ludahku sendiri.

Bukankah kau sudah melamarku dua hari yang lalu? sambil tangan putihnya memamerkan cincin tunangan. Buktinya, buket bunga darimu sudah melepas masa perawanku.

Aku mendadak bingung dan tak tahu apa-apa. Wajahku pucat pasi. Tanganku bergetar sekuat tenaga. Ritme jantung yang tak menentu. Padahal, baru kali ini aku kunjungi rumahmu dan kali ini kau katakan aku sudah melamarmu.

***

Pagi, sebelum langit tumbuh simpul fajar, aku duduk diam di atas sajadah. Kejadian dua hari ke depan aku melihat dari ujung pintu kamarku ada yang membuka. Memberikan buket bunga padaku dan ia lantas keluar lagi. 

Aku tidak tahu siapa yang datang tadi. Aku meneruskan doa tahajud yang terputus sembari menggenggam bunga diantara kamar gelap pekat. Penantianku akan subuh dihabiskan dengan kata-kata harapan yang berujung pada kalimat,

"Kabulkanlah doaku...

Ya, kau ingat kala sepotong gelisahmu itu aku simpan di vas jendela? Entah kenapa, tiba-tiba ia berubah jadi sosok bercahaya dan terang bak rembulan, tertiup angin ke arah rumahmu, melayang-layang dengan ringkikan suara tertawa. Ia turun di sebuah pohon raksasa dan menyanyi lagu yang tak pernah ada. 

Ia memangkul dahan besar. aku terbelakak kaget tatkala usai kata amin terlontar dari penghabisan doaku. Dengan sengaja, aku lemparkan bunga tadi ke arah makhluk cahaya tadi. Lantas, ia lenyap dari sudut mataku dan juga bunganya.

Ketika itu aku berbalik badan bersiap solat subuh. Ada suara lembut keluar dari belakang pundakku dan menempelkanku setangkai bunga, ia berubah menjadi sosok wanita yang sangat jelita dan rupawan sampai-sampai aku hanya diam tak bergeming. 

Lalu dia menyelimutiku dari belakang dan terbesit aku menatap jemari itu lengkap persis dengan cincin tunangan yang kau pakai dua hari ke depan.
Bandung, 2019

KONTEN MENARIK LAINNYA
x