MA Fauzi
MA Fauzi Penulis

Mahasiswa fiksi, pecandu aliran surealisme; Penganut sastra modernis; Kuliah di Prodi Ilmu Quran dan Tafsir, Bandung

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Potongan Skenario yang Aneh

15 Mei 2019   22:31 Diperbarui: 19 Mei 2019   20:32 418 12 2
Cerpen | Potongan Skenario yang Aneh
Photo by Pixabay

(1)

Suara teriakan memekak, masuk ke kuping kanan keluar lewat pori-pori kepala. Kepala berkeringat. Bantal yang jadi perebahan mendadak basah. Merembes ke seisi mimpi. Bukan lagi mimpi basah. Seakan suara itu menganggu jam malam. Lebih keras dari sirene ambulans. Bahkan tidak ada kicau-kicau kematian dari tetangga sebelah. Semenit menambah kencang. Sejenis rintihan paling sakral di muka bumi. 

Kian tubuhya bergidik parah. Berusaha menyelimuti tubuh yang semakin getar-getar. Remasan tangan sudah tak kuat. Dingin membeku. Hanya gelinjang mata yang mondar-mandir. Berputar di poros kekhawatiran. Padahal alarm tidak sedang berbunyi, bisu sebagaimana biasa. Jendela pun tidak sedang diterpa udara. Tenang. 

Namun, adakah suara itu menyelinap lewat ranjang lalu diam-diam berbisik dengan corong panjang menusuk gendang telinga. Mengaum. Kadang merintih sepanjang malam. Lelaki itu sudah tak tahan. Ingin keluar dari kamar lalu mengambil telepon rumah, sekadar laporan bahwa rumah lagi darurat. Karena tidak berdaya, lelaki itu hanya diam di muka kecemasan.

Ada yang bilang itu sejenis halusinasi tingkat tinggi. Dia bukan konsumen obat penenang. Pagi setelah kejadian, dia bergegas keluar kamar. Sempat mencium bau anyir serta gosong. Dia hiraukan secara berkala. Tidak diteruskan sampai inti. Dia ketakutan stadium IV. Di kulkas, sebotol susu murni dikeluarkan. Buat mencairkan lambung, sekaligus menenangkan pikiran. Lelaki itu duduk agak tenang. Padahal dipaksa agar tenang. Duduk di depan meja makan yang kosong. Dia pun kembali ke kulkas. Mengambil potongan-potongan roti yang sengaja dibekukan, lalu didiamkan agar meleleh. O, ada kejunya. Dia menyukai susu dan keju sejak kecil.

Akibat semalam, matanya masih bergulir tidak selaras. Hidung tak memompa maksimal. Badannya lemas dan sukar dipaksa tegar. Sekarang, mukanya tidak ceria. Ada yang aneh. Seakan raut kesenangan terhapus sudah dan membasuh pintalan ingatan menjadi cemas. Secemas apakah dia yang larut di sepiring roti seketika roti sampai mulut tak dikunyah secara beraturan. 

Seteguk air susu mendarat di lidah masuk menembus lewat tabung panjang ke arah lambung. Roti tadi tidak dicerna sepenuhnya dan tersangkut di lintang kerongkongan, melalui bantuan susu hingga akhirnya mendorong ke dasar lambung; hari itu, bumi sedang sakit dan mendung sekali.

Aku, sebenarnya yang jadi lelaki itu bukanlah siapa-siapa kecuali aku yang menulis kisahku sendiri. Karena takut melanda, maka sudut pandang pakai orang ketiga. Biarkan orang ketiga merasakan keperihan paling menyayat tengah malam. ini bukan reinkarnasi. Namun aku di sana merasa bukan di alamku, tiba-tiba melayang sendiri. Kakiku mengangkat sendiri. Tidak menapak lantai. Aku seperti tak terjadi apa-apa. 

Seakan itu khayalku saja yang berputar di sudut amigdala. Bersarang bak peluru menghunjam di tiap lekukan saraf limbik. Ini berkaitan dengan biologi tapi aku merasa acuh dengan yang terjadi sekarang. Nyata. Semenit kemudian tubuhku terjatuh, merapat ke sela lantai. Bagai semut kecil hitam yang terinjak. Suara gubrakan terdengar remang, menjadi kunang-kunang tengah taman berbunga. Aku bukan lagi di taman. Namun, suara itu mengalihkan posisi telingaku jadi sedikit normal. O, aku jatuh kenapa baru sadar sekarang?

Aku sendiri di rumah. Tidak ada pembantu atau penjaga bayi. Emak lagi kerja di luar kota. Entah kota apa, setahuku kota itu di luar teritorial mimpi. Sangat jauh. Pasporku tidak bisa menjemputnya kembali. Kata orang beliau mati. Tapi beliau terasa hidup di hatiku. Begitu pula bapak, sudah dua tahun belum berpulang.

Katanya urusan negara, negara apa yang  masih sibuk sampai bapakku belum pulang sekarang? Saat suasana genting setahun silam. Sana-sini banyak mercon liar. Menembus kaca tebal, hancur. Tenyata beliau kena ledak dari koordinat timur yang menjadikannya terpental jauh ke arah barat. beliau kerja di pabrik roti saat menabur ragi. Tiba-tiba kaca dibelakangnya terhempas ke badan bapak, bagian punggung dirobek oleh serpih kaca. Berdarah. Lalu mati.

Aku sendiri dan terkadang ilusi masa lalu mendarat begitu saja. Datang menyelusup pelan-pelan, parkir di cabang syaraf otak, menilang kesenanganku. Banyak sekali kejadian memilukan yang aku alami. Atau ini efek menahun dari kegilaanku? Suara simpang-siur mendekam.

Bau anyir berjatuhan di lantai kamar. Menggentayangi siapa saja yang tidur di ranjang itu. alarm pun menambah kesan mencekam. Kadang bunyi sendiri tanpa diatur. Aku kembali bangkit dan meraih kaki kursi di samping badanku. Aku menghuyung badanku agar terangkat dan duduk nyaman tanpa ingatan stress itu.

(2)

Aku bukan pecandu alkoholik. Semuanya tercipta gara-gara masa kecilku sedikit sepia dan suram. Aku tahu, semasa kecil aku diasuh nenek. Bapak-emak sedang tidak bisa mengasuh, kontrakan karir dengan gaji menggunduk besar membuat keduanya terpikat. Mereka ke kota pada akhirnya. Bapak menyuruh nenek agar aku kecil tinggal di kampung. Jangan di kota. Takut aku penasaran belum melihat gunung, sungai, sawah hijau segar bila kelak menetap di kota yang segar akan asap metropolitan. Kemelut.

Dialah nenek, beliau sosok wanita tegar meski usia direnggut ulat waktu. Saban hari usai bertani, beliau  terbiasa duduk di bale bambu samping sawak milik almarhum kakek. Aku persis duduk di sisinya mendengar tiap ringkik jangkrik dan nafas terengah nenek saat berbicara.

Beliau kadang suka bercerita masa--masa penjajahan dulu. Seram. Adegan bunuh-bunuhan bukanlah adegan sensor lagi. Nyata di bola mata nenek. Sempat aku lihat, bayangan darah mengerang keras terlintas dalam kornea nenek. Bahkan lebih dramatis dan mengerikan. Nenek nangis saat itu. aku tidak bicara lebih dalam mengapa nenek menangis. Aku rasa gara-gara kue gula miliknya aku comot di piring saat di bale, ujung sore.

Nenek hanya mengintip sawah saja. Yang mengurus adalah tetangga sebelah yang kelihatan muda nan segar. Biasanya 3-4 pria pengangguran tidak jelas berjalan-jalan kecil menuju sawah nenek sambil memanggul cangkul. Itu suruhan nenek. Beliau upahi para pria pengangguran itu setara dengan lima kali makan nasi porsi keluarga (tiga kilogram), sekilo jagung, dua kilo umbi-umbian. Mereka nampak senang. Nenek pun melengkungkan kurva bibir yang tak semerah gincu.

Di masa sorenya, nenek ambil kesempatan lebih lama duduk bersamaku di bale bambu sambil memerhatikan pekerja sawah ayunkan cangkul. Nenek bercerita perihal masa mudanya; jalan panjang mengular dan berputar di diameter gunung. Gerobak-gerobak labu dan jagung diangkut dengan bantuan kuda ke arah gunung.

Danau biru berbau aroma kersen kian membundar dan iring-iringan bebek mengikuti induk. Anak-anak berlarian mengejar keong sawah, tangannya berlumpur, hasil tangkapan ditaruh dalam ember. Pulang ke rumah saat sore agak meradang gelap dengan perasaan senang. Aku menatap cerlak nenek seakan kembali ke masa muda. Nostalgia.Betapa bahagianya nenek ketika kicau burung itu setiba lintas di atas hamparan sawah. Mengingatkan kisah lampaunya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2