Lihat ke Halaman Asli

Zamhari

Internet Marketer

Pengalaman Membangun Rumah untuk Keluarga Kecilku

Diperbarui: 29 Januari 2020   04:00

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi: pexels.com

Mempunyai rumah sendiri apalagi untuk kedua orang tua merupakan sebuah impian setiap orang.  Nah, di sini Saya ingin berbagi cerita mengenai pengalaman membangun rumah untuk keluarga secara keseluruhan yang mungkin bisa dijadikan inspirasi.

Rumahku Istanaku

Siapa yang tidak ingin memiliki rumah dari hasil keringat sendiri? Tentunya setiap orang pasti punya keinginan seperti itu, begitu juga Saya. Meski gaji pada saat pertama dapat kerja tidak terlalu besar, namun niatan untuk menabung dan membangun rumah tetap di jalani.

Tidak perlu yang besar, yang penting bisa dijadikan peneduh di saat hujan dan melindungi diri dari terik matahari. Saya beranggapan bahwa setelah membangun pelan tapi pasti, rumah akan mendapatkan perawatan sedikit demi sedikit dan bisa diubah menjadi lebih besar.

Saat itu berpikir keras, karena sejak kecil keluarga Saya hanya sebagai kontraktor alias tukang kontrak rumah. Maka dari itu, setelah bekerja keinginan membangun rumah untuk keluarga semakin besar. Pelan-pelan mulai menyisihkan uang dari hasil bekerja untuk ditabung.

Harga bahan bangunanpun juga bermacam-macam, kalau Saya sendiri membeli dengan harga

  • Batu kali Rp 200.000 per meter kubik.
  • Batako Rp 3000 per buah
  • Bata ringan (hebel) Rp 750.000 per meter kubik
  • Pasir beton Rp 300.000 per meter kubik
  • Semen Rp 65.000 per bungkus 50 kg
  • Besi beton Rp160.000 (6mx12m)
  • Kayu Rp 10.500 (2mx3m)
  • Genteng Rp 3.000 per buah
  • Keramik  Rp 75.000 per meter persegi

Awal Mula Saya Membangun Rumah

Keinginan Saya dalam membangun rumah sering kali dihadapkan dengan betapa minimnya dana yang dimiliki. Memang sempat bingung dengan minim dana ini apa saja yang akan di dapatkan untuk modal dalam pembangunan. Apalagi bahan-bahannya juga tidak murah. Belum lagi jasa desain rumah yang kemungkinan juga akan menguras tenaga dan biaya.

Namun, setelah Saya mencoba untuk memanage uang akhirnya menemukan jalan keluar. Pada awalnya rencana ukuran bangunan hingga waku penyelesaiannya telah ditentukan sejak lama. Dengan begitu setelah rumah selesai, sesegera mungkin akan beberes dan keluar dari kontrakan.

Usaha awal yang Saya lakukan saat itu adalah membeli sepetak rumah terlebih dahulu. Dikarenakan membeli tanah, uang jadi berkurang banyak sedangkan masih banyak kebutuhan lain yang harus dibeli. Selagi menunggu dapat dana lagi, lebih baik merencanakan bahan yang akan dibeli nanti, termasuk memilih jasa desain rumah yang bisa memenuhi hasrat keinginan kita.

Membangun Rumah Impian untuk Keluarga

Setelah membeli sepetak tanah, langkah selanjutnya yang Saya lakukan masih merencanakan segala keperluan untuk dibeli. Jika semuanya dibeli, uangnya pasti tidak akan cukup dan pastinya berkurang. Jadi mendahulukan poin penting dulu seperti batu bata, semen, genting dan besi.

Setelah beberapa tahun, modal Saya mencukupi untuk membeli bahan-bahan lain. Sebelum itu, tukang untuk membantu dalam membangun juga sudah ada, jadi tinggal melaksanakannya saja. Apalagi model seperti apa rumahnya nanti sudah diserahkan seluruhnya kepada ahlinya.

Meski begitu, Saya masih harus memantau proses pembangunannya, takut-takut ada kesalahan atau melenceng dari model yang direncanakan sebelumnya. Memang menguras waktu jika harus melihat prosesnya setiap hari, karena di samping itu pekerjaan lain juga masih dijalani. Namun, ini semua demi rumah impian.

Kendala dalam Masa Pembangunan Rumah

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline