Lihat ke Halaman Asli

Akhlis Purnomo

TERVERIFIKASI

Copywriter, editor, guru yoga

Mindful Eating, Cara Menerapkan, dan Tantangannya dalam Keseharian

Diperbarui: 6 Februari 2024   10:48

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Makan dengan penuh kesadaran alias mindful eating tidak cuma soal makan perlahan-lahan. (Foto: Pexels.com)

SEBAGAI seorang instruktur yoga, saya merasa familiar dengan istilah "mindfulness" dan "mindful eating" yang memang naik daun akhir-akhir ini.

Mindfulness ini kerap dikaitkan dengan kesehatan fisik dan mental yang digadang-gadang oleh gen Z.

Dan memang ada benarnya bahwa mindfulness dan kesehatan secara holistik (menyeluruh) itu ada kaitan erat.

Mindful eating sendiri berhubungan dengan penerapan prinsip mindfulness saat menyantap makanan.

Dalam tulisan ini, saya akan menjelaskan beberapa poin sebagai berikut:
- definisi mindful eating
- kaitan mindfulness, yoga, dan mindful eating
- beberapa manfaat kesehatan mindful eating berdasarkan sains
- cara membangun kebiasan mindful eating

tantangan menerapkan mindful eating

Apa Itu Mindful Eating?

Jika ditanya apa itu artinya "mindful eating", sederhananya istilah itu sama saja dengan kebiasaan makan yang penuh kesadaran dan fokus penuh pada makanan yang hendak disantap. Tidak terburu-buru, lupa daratan, begitu lahap sampai kekenyangan, atau makan sambil menonton Netflix.

Lawannya ialah kebiasaan makan yang emosional (emotional eating). Hal ini kerap dilakukan orang-orang yang terbiasa melampiaskan stres dengan menyantap makanan dalam jumlah yang tidak terkendali.

Emotional eating menjadi salah satu alat coping mechanism (metode mengatasi stres atau hal yang tidak kita nikmati dalam hidup) terpopuler masa kini. Anda pasti pernah dengar ada orang yang tiap kali stres lalu terdorong untuk wisata kuliner atau order makanan favorit lewat GoFood.

Mindful eating sendiri adalah bagian dari filosofi hidup kesadaran penuh (mindfulness) yang mengajarkan kita untuk menerapkan konsentrasi penuh pada sensasi fisik, emosi, maupun pikiran yang kita sedang miliki dan alami saat ini, detik ini.

Dengan lata lain, kita diajarkan untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan fokus penuh pada aktivitas yang kita lakukan (monotasking), tidak ada istilah 'nyambi' alias multitasking yang membuat pikiran kita dan tubuh 'tercerai berai'.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline