Lihat ke Halaman Asli

Wildan Nanda Wicaksana

Menyukai dunia balap

Brabham BT46B, Mobil F1 yang Memiliki Fitur Paling Radikal yang Hanya Sekali Belapan

Diperbarui: 25 Oktober 2022   14:15

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Brabham BT46B, Foto: Martin Lee/flickr.com

Desainer terhebat merupakan yang terbaik saat menghadapi masalah yang nampaknya tidak dapat diselesaikan. 

Bagi desainer jenius asal Afrika Selatan Gordon Murray, masalah yang takkan pergi dengan segara adalah mesin flat-12 milik Alfa Romeo yang rumit dan boros bahan bakar. 

Desain dari Murray telah menarik perhatian pemilik tim Brabham Bernie Ecclestone namun desain mobil F1 pada tahun 1978 merupakan sesuatu yang lain. 

Ferrari telah memenangi gelar juara dunia konstruktor dengan mesin flat-12nya namun mesin dengan tipe yang sama milik Alfa Romeo yang digunakan Brabham jelas bukan tandingan Ferrari dan kedatangan teknologi aerodinamika ground effect di akhir tahun 1970an membuat penggunaan mesin flat merupakan sebuah kelemahan karena kepala silinder menghalangi aliran udara yang coba disalurkan oleh desainer melalui sisi mobil untuk mengembangkan downforce

Oleh karena itu dengan diperkenalkannya Brabham BT46 merupakan jawaban inovatif Murray atas masalah tersebut. 

Murray berpikir bahwa jiak dia tidak dapat menggunakan sidepod untuk meciptakan ground effect maka dia akan memperkecil ukuran sidepod dan menebus relatif kurangnya downforce di BT46 dengan konsep mobil dengan gaya hambat yang sangat rendah.

Ini berarti mereka harus membuang radiator yang umumnya menempati sebagian besar di tiap sidepod dan menggnatinya dengan sisitem yang kompleks dari penukar panas yang berbentuk datar yang dipasang di permukaan bodi mobil BT46. 

Namun sayangnya tidak terlalu berhasil. Pada pagi di musim dingin di Donington Park, Inggris tiba-tiba BT46 mengalami overheat.

Murray dengan cepat mendesain ulang BT46 dengan radiator di bagian hidung mobil dan dia menolak untuk mengakui kekelahan. 

Dia bertekad untuk memecahkan masalah ground effect joleh karena itu ketimbang menggunakan sidepod yang mengalirkan udara untuk menciptakan tekanan rendah di bawah mobil, dia memutuskan untuk menggunakan kipas raksasa untuk menghisap udara keluar. 

Di tahun 1970 Chaparral 2J Can-Am menggunakan trik yang sama dengan Brabham dengan menggunakan dua kipas di bagian belakang mobil yang digerakkan oleh mesin dua langkah khusus untuk menarik sejumlah besar udara dari bawah sasis, mengurangi tekanan dan menciptakan downforce. Mobil itu dengan segera dilarang oleh otoritas olahraga.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline