Lihat ke Halaman Asli

Try Raharjo

Orang Republik

Menjelang Hari Wayang Dunia

Diperbarui: 28 Oktober 2020   07:23

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Wayang dimainkan oleh dalang, didukung oleh nayaga, waranggana, dan seniman lainnya. | Dokpri

Wayang adalah salah satu bentuk kekayaan warisan budaya asli bangsa Indonesia yang memiliki kandungan ajaran luhur, nilai-nilai moral, budi pekerti, dan berperan strategis dalam memperkuat pembentukan karakter dan jatidiri bangsa Indonesia.

Wayang dikenal masyarakat di Tanah Jawa sejak ratusan tahun yang lalu. Dari kekawin Arjuna Wiwaha yang dibuat Empu Kanwa pada abad ke-11 Masehi pada masa pemerintahan Raja Airlangga, bait 59 disebutkan:

Hanonton ringgit manangis asekel muda hidepan, huwus wruh towin yan
walulang inukir molah mangucap hatur ning wang tresneng wiyasa
malaha tan wihikana ritatwan yan maya sahan-hananing bhawa siluman
.

Arti dari tulisan berbahasa Jawa Kuno di atas kira-kira adalah sbb:

Menonton wayang kemudian orang menangis sedih hati, meskipun tahu hanya kulit yang diukir bergerak dan bicara. Yang melihat wayang itu diumpamakan orang yang memiliki nafsu duniawi sehingga gelap hati, seakan tidak mengetahui bahwa yang dimainkan itu hanya bayangan seperti siluman yang sesungguhnya kepalsuan saja.

Dr. G.A.J. Hazeu, dalam desertasinya yang berjudul Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (1897 di Leiden, Belanda) berkeyakinan bahwa pertunjukan wayang berasal dari kesenian asli Jawa. Hal ini dapat dilihat dari istilah-istilah yang digunakan banyak menggunakan bahasa Jawa, misalnya kelir, blencong, cempala, kepyak, dan wayang. 

Pada rumah adat Jawa pun ditemukan bagian-bagian ruangan yang meliputi: emperan, pendapa, omah mburi, gandhok senthong dan pringgitan. Dalam bahasa Jawa ringgit artinya wayang. Hal ini menunjukkan bahwa sebuah rumah, bagi orang Jawa, menjadi lengkap bila juga menyediakan tempat untuk pertunjukan wayang.

Dari sumber lain (Analisis Perkembangan Wayang Kulit yang Tertera dalam Kekawin Arjuna Wiwaha Sargah V Bait 9, Made Panji Wilimantara, 2011) disebutkan bahwa pada masa pemerintahan Kaizar Wu Ti, sekitar tahun 140 sebelum Masehi, ada pertunjukan bayang-bayang semacam wayang. Kemudian dikatakan bahwa pertunjukan ini menyebar ke India, baru kemudian dari India dibawa ke Indonesia. 

Untuk memperkuat hal ini, dalam majalah Koloniale Studien, seorang penulis mengemukakan adanya persamaan kata antara bahasa Cina Wa-yaah (Hokian), Wo-yong (Kanton), Woying (Mandarin), artinya pertunjukan bayang-bayang, yang sama dengan wayang dalam bahasa Jawa.

Pertunjukan wayang sesungguhnya melibatkan banyak seniman dari berbagai bidang yang antara lain meliputi dalang, nayaga (pengrawit, penabuh gamelan), waranggana (sinden, swarawati). Di samping itu juga tidak kalah pentingnya adalah peran empu penulis cerita, dan seniman tatah sungging sebagai orang yang berkarya membuat wayang kulit.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline