Lihat ke Halaman Asli

Sejarah LGBT ala Nogizaka46

Diperbarui: 23 November 2017   20:14

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Sebelumnya, aku akan memberi peringatan kalau artikel kali ini mengandung unsur yang akan sedikit offensive bagi sebagian. Yah, dari judulnya saja sudah kelihatan bukan? Well, kalau belum paham, aku akan mengingatkan sekali lagi, topik kali ini lebih berat dari biasanya dan akan sulit diterima jika tidak membacanya dengan pikiran terbuka. It's your choice.

Lanjut. Termsuntuk Pride sebenarnya memang ambigu, karena secara kontekstual, ini mengacu pada kebanggaan, sebagai kata sifat. Then being one of the Seven Deadly Sins.Lalu ketiga, menjadi singkatan untuk gerakan-gerakan kelompok tertentu di dunia ini. Ada Black Pride, biasa juga disebut sebagai Black Power, gerakan untuk menentang rasisme pada kaum kulit hitam.

Kelompok ini memperjuangkan hak kulit hitam sejak hampir seratus tahun terakhir. Meski tidak bisa dihubungkan langsung, Malcolm X, Martin Luther King, Stokely Carmichael, bahkan godfather of soul,James Brown membawakan lagu berjudul Say it Loud -- I'm Black and I'm Proud. Black Power secara langsung berhadapan dengan White Pride.

Yang ini jelas kebalikan dari Black Power, mereka mengagungkan supremasi kaum kulit putih. Sudah pernah kutulis sedikit dalam artikel Donald Trump sebelumnya, gerakan White Pride juga mencakup kelompok ekstrim seperti Neo-Nazi dan Ku Klux Klan. Dua gerakan ini clashdan mungkin tidak akan pernah ada akhirnya.

And I won't sided with any, 'cause it wasn't even my own race.

Gerakan Pride ketiga, nah ini dia, adalah Gay Prideatau LGBT Pride. Now I supposed y'all know this, except you're livin under the rock for decades. Ya, gerakan untuk mendukung kaum LGBT atas diskriminasi yang mereka terima. Gerakan ini dimulai sekitar periode 50'an, salah satu saat paling represif bagi LGBT di USA. No wonder,tiga gerakan ini semua berasal dari States.

Saat itu kaum LGBT dipandang sebagai penyakitan, seperti yang umum dipandang di negara-negara "konservatif" sampai sekarang. And to me, it's a shame, because all humans are equal. Homosexuality have existed since the beginning of time itself.Bukalah wikipedia setidaknya, lihat sejarah akan homosexuality, ada di seluruh belahan bumi, dari Yunani kuno, Mesir, India, Amerika Selatan, Afrika, you name it.

Dalam agama, bagi tiga agama Samawi tentu tahu tentang kisah Nabi Luth dan kaum Sodom. Dalam agama Hindu, di negeri asalnya dianggap sebagai subyek yang tidak tabu, begitu juga dengan agama Budha yang memiliki banyak kisah tentang ini. Kembali ke topik utama sebelum ini menjadi terlalu religius dan membuatku bisa dituntut ke meja hijau.

Hari ini, di negara-negara yang belum melegalkan same sex marriage, masih ada yang berpikiran kalau mendengar kata homosexualityberarti cacat mental, disaat ini adalah hal yang salah. Jika memang cacat mental, tidak akan ada kisah Shah dan Sultan dari Timur Tengah yang memiliki male companion -disini tidak ada keterangan apakah memang gay atau bukan, mengingat bahasa dan penafsiran adalah hal yang kompleks-

After all, this is complicated.Karena memang agama dan sains memang kadang bisa saling membantu, dan kadang bisa clash.Aku tidak akan membahas dari sisi agamanya, dan lebih pada sisi humanis. Imagine yourself in their shoes, confined in their own self because of "laws" and "religion" can't be happy eventhough they're also human like the non-LGBT people.

Di awal Millenium, Belanda menjadi negara pertama yang melegalkan same sex marriage.Langkah ini diikuti oleh banyak negara setelahnya. Setelah US melegalkan ini di 50 negara bagian pada 2015, maka sudah bisa dipastikan langkah ini akan diikuti banyak negara lain.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline