Lihat ke Halaman Asli

Syahirul Alim

TERVERIFIKASI

Penulis Lepas, Penceramah, dan Akademisi

“Ruwahan” Sebagai Pembuka Gerbang Bulan Suci

Diperbarui: 4 Juni 2016   23:35

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Kedatangan bulan Ramadhan dianggap sebagai “tamu agung” bagi seluruh umat muslim, tak terkecuali di Indonesia. Banyak tradisi yang dilakukan masyarakat muslim dalam menyambut masuknya Bulan Suci Ramadhan. Di beberapa daerah di Indonesia, khususnya Jakarta, tradisi menyambut Ramadhan dilakukan bahkan 15 hari sebelumnya yang kemudian lebih dikenal dengan istilah “ruwahan”. 

Istilah ini dikenal di masyarakat Betawi sebagai ajang silaturrahim atau saling berkunjung antar keluarga, baik dengan mereka yang masih hidup maupun yang sudah wafat. 

Padahal melihat dari asal katanya, “ruwah” dalam bahasa Arab berati “arwah” sehingga istilah Ruwahan dipakai oleh masyarakat Betawi untuk berkunjung atau berziarah ke makam orang tua mereka atau leluhur mereka. Tradisi seperti ini dilakukan bersamaan dengan datangnya Bulan Ramadhan, biasanya pada 15 sampai 2 hari menjelang Ramadhan.

Masyarakat Muslim meyakini, bahwa bulan Ramadhan adalah bulan suci, sehingga mereka harus suci terlebih dahulu sebelum sampai apalagi memasuki “gerbang”nya. Tradisi mensucikan diri mereka lakukan dengan cara saling memaafkan antar sesama, berdoa bersama dan mengunjungi pemakaman-pemakaman keluarga mereka untuk mendoakan sekaligus silaturrahim. 

Sebab dalam ajaran Islam, silaturrahim yang diajarkan tidak hanya sekedar menjalin pertemuan dan saling berkunjung kepada yang masih hidup saja, tetapi bersilaturrahim juga dianjurkan kepada mereka yang sudah wafat. Ternyata tidak hanya di masyarakat Betawi, tradisi ruwahan juga dikenal di beberapa wilayah di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. 

Intinya tradisi ini banyak memiliki kesamaan dan nilai-nilai historis yang patut dilembagakan, karena tidak ada bulan semeriah bulan Ramadhan dalam hal kebaikan, dimana manusia berkumpul, saling bermaafan, berdoa bersama dan bersilaturrahim kecuali hanya di bulan suci.

Dalam ajaran Islam, mengapresiasi dan bergembira menyambut kedatangan bulan Ramadhan sudah dihitung sebagai pahala, apalagi ketika masuk dan melaksanakan ibadah puasanya dengan baik. Inilah yang kemudian dijadikan tradisi turun temurun dalam masyarakat Muslim bahwa memasuki bulan suci tidak sembarangan orang bisa masuk, kecuali memang dirinya telah “disucikan” terlebih dahulu sebelumnya. Proses “pensucian” menjelang Ramadhan dilakukan sebagian besar kalangan umat Islam melalui pengakuan atas kesalahan dirinya sendiri dan mengharap maaf dari orang lain. 

Tradisi saling memaafkan pada saat Ruwahan, dianggap sebagai tradisi baik karena hanya pada menjelang memasuki Ramadhan semua umat muslim bersilaturrahim, bertatap muka, saling mendoakan dan saling memaafkan. Konsep saling memaafkan (‘afiina aninnaas) digambarkan oleh kitab suci al-Quran sebagai ciri dari kesempurnaan manusia (taqwa). Dalam kitab suci al-Quran, jalan manusia menuju kesempurnaan harus dilewati oleh tiga kondisi: harus menafkahkan hartanya, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, mampu menahan amarah dan saling memaafkan antar sesama manusia (QS.  3: 134).

Bulan Ramadhan diyakini oleh umat Muslim sebagai bulan yang paling banyak memiliki relasi sosial dan sedikit hubungannya dengan ritus individual. Kita bisa melihat sejak awal penyambutannya, begitu banyak permohonan maaf baik secara langsung maupun tidak langsung yang terjadi dalam masyarakat. Belum lagi silaturrahim antarkeluarga, antarwarga, bahkan bersilaturrahim dengan mereka-mereka yang sudah tidak hidup lagi. 

Sebelum memasuki bulan suci, umat muslim semakin banyak yang membuka dirinya untuk jujur akan kesalahan-kesalahannya seraya mengharap maaf kepada sesama. Ketika sudah memasuki bulan suci Ramadhan, umat Muslim yang berpuasa dengan baik, tentunya akan lebih peka dengan kondisi-kondisi sosial masyarakat. 

Berapa banyak kemudian orang-orang lemah terbantu, fakir miskin tersantuni, anak-anak yatim terangkat karena memang ibadah puasa seseorang lebih dimanfaatkan untuk mencari kebaikan yang sifatnya sosial, bukan memperbanyak ritual individu hanya untuk kepentingan pribadi semata.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline