Lihat ke Halaman Asli

Supli Rahim

Pemerhati humaniora dan lingkungan

Mengenang Kehidupan Orangtua Kami di Pedesaan Sepi

Diperbarui: 26 Maret 2021   05:58

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dokpri

Bismillah,

Kebanyakan kami warga perantauan asal desa terpencil termasuk penulis berasal dari kehidupan yang cukup prihatin. Prihatin karena harua bermalam jauh di tengah hutan. 

Prihatin karena masa-masa itu banyak orang yang jadi ingatan kami kini telah tiada. Prihatin karena kami belum sempat membalas kebaikan mereka yang berkorban untuk kemajuan hidup kami. Tulisan ini mengingat dan mengenang kehidupan orangtua kami termasuk ayah dan bunda serta kakek nenek kami.

Foto kiriman 

Ada foto kiriman seorang dosen, pengacar dan mantan hakim pengadilan agama di Bandung. Beliau adalah Roni Baid, SH, MH.  Beliau posting di grup Whatts up Lubuk Langkap Air Nipisn Bengkulu Selatan. 

Dalam keterangan gambar itu Roni mengungkapkan kalimat yang menggugah hati penulis. "Membayangkan keadaan kehidupan kami kala itu di tahun 1950-an. Melihat tulisan dan gambar itu penulis langsung berurai air mata karena kondisi itu juga yang penulis alami ketika masih berumur belasan tahun hingga tamat kuliah. 

Penulis mengalami kehidupan yang pahit tetapi punya makna yang takkan pernah dilupakan. Pertama, penulis merasakan sendiri pahit dan getirnya kehidupan orangtua dalam hal ini kakek nenek yang bernama Merinsan dan Muntianan yang hidup jauh dari keramaian karena ingin anak cucunya sekolah di kota.

Kakek nenek hanya pulang ke kampung dari kebun yang berjarak 10 km dari Lubuk Langkap pada saat lebaran, pada saat dapat daging rusa hasil berburu atau karena sakit. Kebun itu dikenal dengan nama Datar Kepahyang. 

Kedua, walau di tempat terpencil penulis menikmati canda tawa dan kisah orang-orang saleh dari kakek Merinsan. Beliau merupakan "buku" pertama penulis yang membuka jendela dunia sehingga wawasan penulis sangat luas dan beragam.

Ketiga, penulis tidak tertinggal informasi dari seluruh dunia berkah adanya radio transistor yang dibawa ke mana saja di dalam kebun sambil bekerja mencabut rumput atau memetik buah kopi. 

Keempat, penulis merasakan kasih sayang yang tulus dari kakek dan nenek berkah sering bermalam di kebun kopi. Pada saat itu juga penulis bercita-cita ingin membawa mereka pindah ke kota bila suatu saat telah memungkinkan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline