Lihat ke Halaman Asli

Suherman Juhari

Kalau Bukan Kita Siapa lagi?Kalau Bukan Sekarang Kapan Lagi ?

Lika Liku Dunia Dosen dan Mahasiswa

Diperbarui: 25 Mei 2023   21:10

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Simposium Cendekiawan Kelas Dunia (SCKD) yang diselenggarakan oleh DIKTI pada tahun 2019 memberikan teguran keras pada dosen di seluruh Indonesia. Memang perlu ada perenungan khusus terkait dengan fenomena yang terjadi belakangan ini.  

Hal ini berkaitan dengan para dosen yang cenderung sibuk "berproyek" tanpa memperhatikan mahasiswa yang sedang butuh pertolongan dalam pendidikannya. Proyek penelitian yang beragam, kompleksitas kegiatan yang teramat padat seringkali membuat oknum dosen saat ini lupa tugas utamanya yaitu mendidik mahasiswa. 

Acapkali pertemuan intens untuk bimbingan tugas akhir sangat susah, apalagi pertemuan mingguan di kelas. Dosen dewasa ini diberikan tugas berat untuk keberlangsungan strata karirnya sehingga menjadikan mahasiswa sebagai sektor sekunder yang bisa dibahas kemudian.

Ditengah tugas mendidik mahasiswa, dosen juga harus menjadi pemburu proyek agar strata keuangan dan akademiknya meningkat. Alhasil perburuan status untuk peningkatan karir berdampak pada psikologis mahasiswa yang lelah untuk menunggu dan mengejar dosen yang bersangkutan. 

Akhirnya yang terjadi adalah mahasiswa tertentu akan mengalami penurunan semangat untuk belajar, rasa hormat dan respek pada dosen yang selalu sibuk mengalami degradasi.

Dalam beberapa kasus bisa ditemukan bahwa terdapat oknum tenaga dosen yang memang intensitas bertemu dengan mahasiswa bimbingannya sangat minim. Seolah olah bimbingan untuk mahasiswa bukanlah tugas mendesak sehingga selalu menjadi prioritas terbelakang. 

Belum lagi perebutan posisi struktural dalam perguruan tinggi menjadi polemik bagi internal perguruan tinggi tertentu. Perbedaan sudut pandang dalam mendidik memberikan dampak pada cara pandang mahasiswa. 

Misalnya saja dalam status pendekatan penelitian Kualitatif dan Kuantitatif seringkali dibenturkan sebagai 2 (dua) buah metode yang tidak bisa disatukan sehingga acapkali ketika mahasiswa memilih pendekatan penelitian yang berbeda dengan "kemampuan" dosennya akan mendapatkan perlawanan sengit sehingga sulit untuk menemukan titik terang dalam penelitian.

Ada apa dengan pendidikan tinggi dewasa ini ? Pendidikan Tinggi saat ini terkesan menjadi arena perlombaan para pendidik untuk memperoleh kenaikan pangkat. 

Asal kenaikan pangkat bisa terwujud tugas terhadap mahasiswa tidaklah menjadi prioritas. Apalagi mahasiswa juga cukup senang jika dosennya tidak datang ke kelas untuk mengajar. Alhasil pendidikan tinggi melahirkan generasi yang kurang bisa menghormati para dosennya.

Standar pendidikan yang kian meninggi sampai-sampai esensi dari pendidikan itu mulai terkikis rapi untuk sebuah standar yang mendunia. Apa petingnya sebuah standar jika hanya meniadakan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa dalam diri tiap pengajar? 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline