Lihat ke Halaman Asli

Semut di Ujung Pelangi Terlihat, Gajah di Pelupuk Mata Tak Nampak

Diperbarui: 20 Juni 2016   01:04

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

sumber gambar: twitter.com/dpbbm_lucu

Sangat gampang bagi orang untuk mengritik orang lain. Hal itu saya hadapi teramat sering, apalagi dalam profesi sebagai guru. 

Kritik yang membangun tentu saja sangat saya harapkan. Hanya saja, lebih banyak kritik-kritik ‘sampah’ daripada kritik yang membangun. 

Dan biasanya kritik-kritik itu disampaikan dibelakang punggung saya!

Istilah Nginggris nya : ngerumpi tanpa sepengetahuan saya.

“Kenapa sih dia tidak selesaikan (kuliahnya)?”

“Kenapa sih dia memutuskan berhenti dari pekerjaannya? Apa dia sudah gila?”

“Kenapa sih dia selalu tidak tuntas dalam mengerjakan sesuatu?”

“Kenapa sih dia lambat memutuskan (untuk menikah)? Apa sih yang dipikirkan lagi?”

Tentu saja, ungkapan-ungkapan ini bukan dimuntahkan dari para orangtua murid. Boro-boro mereka tahu saya. Kenal nama saya saja mungkin tidak!

Yang membuat saya jengkel adalah kalimat-kalimat diatas terlontar dari mulut seorang kawan yang sudah saya anggap saudara, yang pernah satu atap bersama, tidur di satu kamar, bahkan makan semeja, tapi ternyata dia tidak mengerti apa yang ada di pikiran saya.

Dan yang selalu membuat saya jengkel adalah ‘kalimat sakti’ dia.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline