Lihat ke Halaman Asli

Menuju Puncak Mangir Batara Sriten, Dibentengi Khasiat Racikan Ibu Rachmat Sulistyo

Diperbarui: 6 Agustus 2018   08:43

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dok.pribadi

Puluhan kali melewati rute ini ternyata tidak menjamin seseorang menyimak kehadiran destinasi wisata baru. Wilayah Ngawen Gunungkidul bukan sesuatu yang asing ditelinga saya. Hembusan nafas serta raungan motorku telah menjadi jejak udara dikubik waktu. 

Kebiasaan ziarah kubur di sebuah pemakaman tak jauh dari hutan Wanagama, Gadingan, Gunungkidul menjadi jalanku hingga mengenal embung Batara Sriten. Itupun terbantu oleh inisial sebuah taman desa yang di buat dengan ukuran huruf besar berwarna merah menyala: TAMAN DESA PILANGREJO. Kalau tidak, belum tentu akan menemukan destinasi reservoir tersebut.

dok.pribadi

Kebiasaan saya, jika ada sesuatu yang menggoda pandangan mata pasti laju motor aku pelankan, bahkan balik putar untuk sekedar mengamati lebih dekat. Jika membuat penasaran akan langsung aku datangi, tapi kalau waktunya dapat. Andai tidak, saya simpan dan dikemudian hari aku eksekusi.

dok.pribadi

Domisili saya di Solo, karena itu jika akan ke Gunung Kidul pasti rute wajibnya via Cemani, Baki kabupaten Sukoharjo, Wonosari (nama ini banyak digunakan didaerah lain), Juwiring, Karangdowo, Cawas kabupaten Klaten menembus wilayah Ngawen kabupaten Gunungkidul. 

Sebelumnya akan menyisir sebuah tempat yang disebut Jurangjero. Kalau dari arah Solo, tanjakannya ekstrim. Pulangnya sebaliknya, turunan nggegirisi (menakutkan). Selama rem pakem dan konsentrasi disematkan dijamin selamat. 

Tidak usah heran, namanya wilayah pegunungan karst, jalanan berkelok turun naik adalah lumrah. Ini sebenarnya jalan alternatif. Bila ingin jalannya lebih ramah kalian harus memutar. Nanti tetap tembus ke Ngawen.  

dok.pribadi

Seperti hari ini, embung Batara Sriten menjadi agenda utama yang aku datangi. Bawa bekal secukupnya, motor beres dan tak lupa menyobek satu sachet Tolak Angin langsung disesap, cairan pendongkrak stamina tubuh hasil produksi PT.Sido Muncul tbk telah akrab dalam menemani beberapa  tourku. 

Rasanya manis semriwing pedas. Cocok buat kita-kita. Semriwingnya itu mengapung dari kombinasi bahan pilihan yang di ekstrak, seperti: Daun Cengkih, Adas, Jahe, Daun Mint serta ditambah madu. Jadi ini produk bukan sembarang produk, karena telah teruji keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik (uji khasiat dan toksisitas) serta bahan bakunya terstandarisasi. 

Tapi jangan lupa kocok dulu sebelum di sesap, bro. Cairan hitam mengambang dilidah sebelum menggelontori tenggorokan. Aliran darah seperti di sengat kipasan ekor ikan pari. Siap berangkat penuh tenaga. Memang tepat kalau TolakAnginBerkhasiatLebih. Karena saya telah merasakan daya gempurnya.

dok.pribadi

Perlu menjadi perhatian para petouring. Kesiapan tubuh menjadi modal awal perjalanan. Oleh sebab itu, untuk jaga-jaga tidak ada salahnya menyesap cairan Tolak Angin. 

Produk dari kota Semarang hasil racikan "tangan dingin" Ibu Rachmat Sulistyo tersebut sudah lama menemaniku. Bahkan ketika tour ke Bromo tak lupa memakai produk yang telah di formulasikan sejak 1930 ini.  

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline