Lihat ke Halaman Asli

Rifki Feriandi

TERVERIFIKASI

Open minded, easy going,

LRT Jabodebek, Waktu Tunggu Antar Kereta 6 Menit Saja

Diperbarui: 20 Februari 2019   23:33

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

LRT Jabodebek - artist impression | Foto: lrtjabodebek.com

Saya boleh lah disebut Anker -- Anak Kereta. Meski sudah tidak aktif bekerja, kereta masih menjadi pilihan berkendara. Sejak lama, sejak Jakarta masih mengenal KRD-KRL dan lalu Kereta Sudirman, saya setia menggunakan moda transportasi ini untuk bekerja. Jelas lah alasannya. Kereta itu cepat dan tidak macet. 

Ya, tentu juga dengan berbagai suka dukanya saat itu, seperti menunggu persilangan, stasiun terkena banjir, masalah listrik atas atau kereta terhalang pelajar yang tawuran dan masinis terkena lemparan batu. Tapi tetap, meski perjalanan terganggu, tapi tidak terkena macet kan J. Ya, karena kita menunggunya di stasiun. Jadi, masih bisa santai (meski sambil ngedumel bagi beberapa orang) berkeliaran, tidak tersiksa di ruang sempit metro mini atau mobil pribadi.

Saat itu, saya mendambakan kereta yang keren, cepat, dan tidak lama menunggu. Ya macam di luar negeri, gitu.

Saya sempat bahagia. Di awal-awal saya bekerja sebagai insinyur teknik, sempat saya melihat di dinding kantor gambar teknik trase-trase jalur MRT Lebak Bulus -- Kota. Itu di tahun '96-an lebih. "Wah, kita bisa punya kereta yang cepat nih", begitu gumamku saat itu. Lalu, penugasan kerja di HK membuka mata lebih lebar tentang kereta masal itu. 

Ya, jalur MRT HK itu begitu menggurita ke sana ke mari, dan sangat efektif. Tiap stasiun kereta berhubung dengan moda transporasi lain. Dan yang membuat saya kagum adalah, iya, waktu tunggu antar keretanya tidak lama. Saat kita ketinggalan kereta, beberapa menit kemudian, kereta selanjutnya tiba.

Tapi, kebahagian saya melihat gambar teknik jalur MRT itu tidak bertahan lama......

MRT t'lah tiba. LRT t'lah tiba. Hore. Hore. Hore.

Gambar desain MRT itu hanyalah gambar. Dicetak di atas kalkir. Dan hanya menjadi pajangan. Setahun. Dua tahun. Sepuluh tahun. Dua puluh tahun. Berganti pejabat pemerintah. Berganti Presiden. Entah berapa puluh konsultan desain hilir mudik. Namun, semua hanya wacana. Tidak ada pelaksanaan. Mungkin lebih tepatnya, tida ada yang BERANI melakukan.

Eh, tidak dinyana. "Badai pasti berlalu, Ferguso". Perubahan akhirnya datang.

Pilar LRT dalam pembangunan | Foto: lrtjabodebek

Dimulai dari sesuatu, meminjam perkataan pelawak Asmuni, Hil yang Mustahal: Penataan stasiun. Siapa sangka stasiun yang terbuka dan penumpang bisa saja naik tanpa karcis dan duduk santai di atas atap garbong, lalu bisa diubah menjadi lebih modern. 

Dengan kartu tap, gate berputar, peron rapi dan stasiun-stasiun keren. Dan KRL-KRD berubah menjadi Commuter Line. Terasa ada sebuah kemauan untuk bergerak. Untuk berubah. Dari perangkat pemerintahan saat itu. Dan lalu....

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline