Lihat ke Halaman Asli

Rahmat Setiadi

Karyawan swasta yang suka nulis dan nonton film

Mitos-mitos Kemiskinan

Diperbarui: 20 November 2022   14:47

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dok Pribadi

Mitos adalah kepercayaan tak berdasar yang diterima orang sebagai kebenaran. Mitos kerap diterima karena perubahan berfikir yang sulit didobrak. Sering kita temui banyak orang terjebak dalam memahami" kemiskinan'' hingga masuk dalam beberapa mitos.

Pertama:  Mitos overgeneralisasi, yang dalam istilah logika dikenal dengan 'fallacy of dramatic instance' yaitu mengambil beberapa contoh lalu menyimpulkan secara general. Semisal jangan berharap dari lingkungan kumuh ada calon-calon konglomerat.

Kedua , mitos blaming the victim ( argumentum ad hominem ), yaitu dengan menyalahkan. Orang miskin dianggap belum mampu "berakulturasi" dengan kehidupan. Mereka mengalami banyak masalah dan menderita efek psikologis akibat budaya kemiskinan dan nilai-nilai sosial yang menyimpang. Mereka sendirilah yang jadi penyebab dari penderitaan mereka.

Ketiga, mitos determinisme retrospektif yang menganggap kemiskinan adalah tragedi kepastian , nasib/takdir. Namun biasanya dicari legitimasinya pada sumber-sumber otoritatif (argumentum ad verecundiam). Kemiskinan merupakan fakta sejarah bahkan orang menyebutnya iman kepada takdir sebagai penerimaan dan kepasrahan pada masalah kemiskinan.

Dari mitos kemiskinan sekilas terbersit, dalam beramal atau berzakat apakah hanya karena perintah agama dan tidak mungkin dengan amal/zakat ini merubah nasib mereka? Atau, kita beramal/berzakat karena hak mereka kita sia-siakan, mereka miskin karna sebagian saudara kita memanfaatkan kemiskinan, mereka miskin karna kita bersama-sama mengeksploitasi mereka.

Dalam mengatasi kemiskinan hal pertama yang bisa dilakukan adalah mengatasi kekeliruan berfikir. Sering kita dapati orang miskin akan mudah menerima/berfikir bahwa hidupnya hina,  tidak berkualitas dan cendrung tidak mau menghadapi tantangan sekalipun ada kesempatan. Juga ada yang berfikir dengan kerja keras dan prihatin ia akan kaya jua, tapi tidak mencerna informasi penting.

Mindset harus diubah dari konsumtif jadi produktif namun tanpa menyebabkan kerusakan lingkungan. Yang tadinya jualan sayur jadi jualan bibit sayur, penjual ikan jadi jualan bibit ikan dan sebagainya. Ini bisa terjadi bila manusia tak hanya mementingkan keuntungan pribadi semata namun juga keuntungan mahkluk-mahkluk  penunjang bumi, cara pintas dengan penguasaan iptek lalu didukung dengan sosial politik.

Dukungan dari orang-orang yang telah berani mendobrak kemiskinan dan berhasil, sangat dibutuhkan. Ini menjadi tantangan manusia di masa depan dalam usaha-usaha pencerdasan, kesadaran kesalahan berfikir yang harus lebih ditegaskan. Bantuan finansial selayaknya dibarengi dengan bimbingan-pendampingan.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline