Lihat ke Halaman Asli

Anies-Sandi dan Dynamic Duo [1]

Diperbarui: 31 Mei 2018   15:06

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber gambar: https://akcdn.detik.net.id/visual/2017/02/05/0a15ddc8-8615-4cce-b785-cb8467fe5ab3_169.jpg?w=700&q=80

Di suatu sore bulan April sekitar seminggu sebelum 19 April 2017 saya terpaksa mengendarai mobil melewati padatnya jalanan Jakarta bersama seorang teman. Kurangnya pengetahuan dalam memilih jalan membuat perjalanan sore itu bertambah lama hingga akhirnya menghabiskan waktu hampir 3 jam untuk menempuh 15 Km.

Tulisan ini bukanlah curhatan tentang betapa menderitanya jika terjebak macet di Jakarta dan berharap Gubernur baru Jakarta segera mencarikan solusi :D. Ini tentang sebuah istilah bernama Dynamic Duo hasil diskusi kami untuk “membunuh waktu” di sore itu. Awalnya dimulai karena saya iba melihat HP teman itu kehabisan batrai dan ia lupa membawa charger iphone miliknya sedangkan saya menggunakan android. Melewati macet tanpa smartphone adalah seburuk-buruknya keadaan, hahaha.

Saya membuka cerita dengan bertanya siapa yang membuat iphone? Saya yakin pertanyaan itu bisa dijawab dengan mudah, jawabannya adalah Steve Jobs. Jawaban yang hampir tepat. Lebih tepatnya iphone dibuat oleh satu orang, Jobs dan Wozniak. Mereka adalah Dynamic Duo dan kemudian kami membahas tentang Dynamic Duo di sisa perjalanan panjang sore itu.

Sebelumnya silahkan dibaca tulisan dari Miftah Sabri tentang Dynamic duo.

Menurut Uda Miftah Sabri sang penulis, Dynamic Duo adalah ikatan dinamis antara dua partner yang memiliki afinitas elektronika tinggi. Saat ikatan ini berjalan dengan baik maka akan menghasilkan sesuatu yang besar dan “besar”. Contohnya Mercedez-Benz, Philip-Moris, Gates-Allen, Jobs-Wozniak, SBY-JK, hingga Jokowi-Ahok.

Dua nama terakhir adalah kepemimpinan di bidang politik. Satu berperan sebagai gas, satunya lagi berfungsi sebagai rem. Kemudian tema obrolan lanjut ke topik mengapa Prabowo-Hatta kalah dalam pilpres 2014? Praduga awal adalah karena kecurangan yang banyak ditemukan bukti-buktinya. Tapi kami abaikan tentang kecurangan itu. Kami mempredisksi bahwa Prabowo-Hatta bukanlah Dynamic Duo dengan catatan, ini sifatnya feeling alias bawa-bawa perasaan alias baper :).

Anies-Sandi adalah Dynamic Duo?

Mengutip kembali dari tulisan Uda Miftah Sabri. Dynamic Duo adalah sebuah konsep kepemimpinan. Bisa kepemimpinan organisasi, bisnis, dan bahkan politik.

SBY-JK saat itu memenangi kontestasi politik dengan mengalahkan petahana Presiden ke 5 Republik Indonesia, Ibu Megawati Seokarno Putri. Jokowi-Ahok pun mengalahkan petahana Gubernur DKI Jakarta saat itu yang terkenal dengan kumisnya yaitu Fauzi Bowo yang berpasangan dengan Nachrowi Ramli. 

Jika polanya begitu, maka mungkinkah Dynamic Duo yang tepat adalah syarat untuk bisa mengalahkan sebuah kekuatan besar di bidang politik? Selain strategi kampanye yang jitu tentunya.

Mungkin Pak Hasyim Muzadi bukanlah orang yang tepat untuk Bu Megawati di saat itu sehingga mereka kalah oleh SBY-JK. Bisa jadi Pak Djarot juga bukan pasangan Dynamic Duo yang tepat untuk Ahok sehingga kalah di putaran kedua oleh Anies-Sandi. Dengan membawa perasaan, mungkin juga Pak Hatta Rajasa bukanlah pasangan Dynamic Duo-nya Pak Prabowo Subianto di 2014 sehingga kalah oleh Jokowi-Jk. Pun kami menduga bahwa Jokowi-Jk bukan sebenarnya-benarnya Dynamic Duo karena selisih kemenangannya tipis sekali. Ditambah indikasi kecurangan dan penggelembungan suara yang terasa tapi susah dibuktikan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline